MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Dibuat Pusing.



"Aduh yang, Aku hari ini udah telat banget, Ada meeting dengan klien baru" Axel terlihat sedang berdiri didepan teras dengan Bella yang masih bergelayut manja di pelukannya.


Memasuki usia kehamilan yang ke tujuh bulan, Bella menjadi lebih tidak percaya diri, Ia sering mematut tubuhnya di kaca yang ia rasa membengkak dimana-mana. Bella merasa ia menjadi gendut dan jelek. Meskipun Axel mengatakan kalau istrinya itu cantik dan seksi tapi tetap saja tak mengurai rasa ketidak percayaan diri Bella.


Setelah di trimester pertama Axel mengalami mual dan muntah. Kini ia harus menjalani siksaan kecemburuan istrinya selama 2 bulan terakhir. Setiap pagi, Istrinya akan melepasnya bekerja seperti akan pergi ke medan perang. Terkadang bersikap manis terkadang bersungut-sungut karena merasa suaminya terlalu tampan untuk bekerja.


"Tapi aku masih kangen By" Bella malah membenamkan wajahnya di dada suaminya. Pagi itu cuaca cukup mendung dan Bella merasa masih ingin bermanja dengan suaminya.


"Ya, Nanti sore kan udah pulang lagi, Sekalian nganterin kamu ke dokter kan" kata Axel mencoba membujuk istrinya.


"Kamu kenapa sih By? Nggak mau banget ya aku peluk, yaudah pergi sana" Bella langsung mendorong tubuh suaminya. Moodnya berubah buruk karena merasa Axel menolak dirinya.


"Bukan gitu yang, Aku....


"Apalagi? Kamu udah nggak cinta sama aku lagi karena aku udah jelek dan gendut kan?" seru Bella dengan mata berkaca-kaca ingin menangis. "Kamu jahat by" sentak Bella lagi lalu masuk kedalam rumah.


"Astaga! Salah lagi" gumam Axel memijit kepalanya yang berdenyut pusing karena sikap Istrinya yang Moody.


Axel segera menyusul istrinya masuk, Ia melihat Bella yang kini sedang duduk sambil menangis di sofa ruang tengah.


"Ngapain balik lagi?"seru Bella dengan ketusnya.


"Aku nggak bisa kerja kalau kamu kayak gini, Udah dong ngambeknya" kata Axel dengan suara lembutnya, ia benar-benar mati kutu kalau Bella sudah seperti ini.


"Aku nggak ngambek, Cuma kesel aja" sahut Bella lagi.


"Iya deh, Kalau gitu aku boleh ya berangkat sekarang?"


"Berangkat ya berangkat aja, Siapa juga yang ngelarang"


"Kamu janji nggak ngambek aku pergi?"


"Enggak. Tapi cium dulu.." kata Bella menatap suaminya sendu.


"Kamu ini, nggak ada puas-puasnya ya" kata Axel menggelengkan kepalanya.


"Kan kamu yang ngajarin, Cium By..." Bella mendongak menatap suaminya.


Axel tertawa mendengar ucapan istrinya. Ia menangkup wajah Bella, memberi ciuman di pipi dan bibir istrinya hingga menimbulkan suara berdecak. Padahal pagi itu, Axel baru saja menuntaskan hasrat istrinya di ranjang.


****


"Bram! Kenapa jadwal meeting bisa bentrok kaya gini, Kamu yang serius dong. Cek yang bener kapan jadwalnya"


Sesampainya di kantor, Axel kembali dibuat kesal saat jadwal meetingnya yang berantakan. Padahal kepalanya sudah begitu pusing memikirkan tingkah istrinya, ditambah masalah dikantor membuat Axel begitu kesal.


"Maaf Tuan, Lain kali saya akan mengecek ulang jadwalnya" kata Bram juga ikut pusing karena harus merangkap menjadi asisten pribadi dan sekretaris untuk atasannya.


Axel mengibaskan tangannya pertanda mengusir Bram dari ruangannya. Baru saja ia memejamkan mata, pintu ruangannya terbuka membuat Axel ingin mengumpat kasar.


"Surprise......!!!" Teriak Raffi yang terlihat datang dengan heboh bersama Indra.


"Sialan! Ternyata kalian!" umpat Axel saat melihat kedatangan sahabatnya. Ia menyambut sahabatnya dengan pelukan hangat dan menyuruh mereka duduk.


"Sekarang susah banget ya kalau mau ketemu Lo" kata Indra mendudukkan tubuhnya di sofa.


"Sibuk banget gue" kata Axel sedikit tersenyum.


"Ya justru itu, Istri gue bawaannya kesel terus akhir-akhir ini. Gue kalau pulang telat aja ngomelnya bisa sampai dua hari" kata Axel mengingat bagaimana Bella mendiamkannya selama dua hari hanya karena terlambat pulang dua menit.


"Udah jadi suami takut istri lo sekarang" Raffi terbahak mendengar curhatan Axel. "Really? Seorang mantan Casanova jadi budak cinta" sambung Raffi kembali terbahak membuat Indra ikut tertawa.


"Lo belum ngalamin aja apa yang gue alamin sekarang. Gue mau lihat sebucin apa lo nanti sama istri lo" kata Axel mendengus karena ejekkan sahabatnya.


"Sorry, Kalau itu gue masih punya akal sehat untuk nggak terlalu mencintai wanita" kata Raffi lagi.


"Kalau udah cinta, Akal sehat nggak akan ke pakek Raf" Indra ikut menimpali.


"Makanya gue nggak mau mengenal cinta. Nanti gue mau apa-apa susah, Mau ke toilet aja mesti laporan" kata Raffi mengangkat bahunya.


"Kenapa malah bahas masalah cinta-cintaan? Oh, ya tadi kenapa lo marah-marah?" tanya Indra.


"Biasa, Jadwal gue bentrok. Padahal gue udah wanti-wanti buat ngecek lagi" sahut Axel.


"Ya mungkin Bram lupa, Lo tau sendiri gimana perusahaan lo sekarang. Harusnya lo tuh punya sekretaris biar Bram nggak terlalu keteteran kerjaannya" kata Indra memberi usulan.


"Gue nggak mikir sampek kesana" kata Axel yang memang tak memikirkan hal itu karena terakhir mempunyai sekretaris malah menggoda dirinya. "Oh ya, Lo ngapain berdua kesini? tumben banget"


"Mau ngajak lo ngumpul, Kita udah lama banget nggak habisin waktu bersama. Apalagi Sekarang Jofan juga sibuk banget ngurusin pernikahannya" kata Indra.


"Apa? Ada yang lagi ngomongin gue nih" Jofan tiba-tiba sudah muncul di pintu ruangan Axel.


"Iya emang, Lo ngurus pernikahan aja berbulan-bulan, sebenarnya ngurus pesta atau ngurus surat tanah" kata Raffi sedikit mengejek.


"Ya emang kenapa? Lo iri? Nikah sana" kata Jofan tak begitu melanggati ejekkan Raffi.


"Lo ngapain lagi kesini? Mau kasih undangan? Basi banget, tiap ngumpul cuma ngasih undangan" kata Axel melirik kertas yang di bawa Jofan.


"Ya gimana lagi, Pesta gue butuh dana besar, jadi gue perlu amplop dari lo semua buat bantu bayar gedung resepsi" kata Jofan tertawa renyah.


Semua orang tertawa mendengar ucapan Jofan. Setelah bercengkerama beberapa saat, Mereka berpamitan karena ingin melanjutkan pekerjaan. Axel juga harus menghadiri meeting dengan klien baru.


Ia sudah tiba di Restoran tempat mereka janjian, Bersama Bram tentunya. Setelah mengedarkan pandangannya, ia menemukan sosok yang dicarinya.


"Selamat sore Tuan Harun, Benar?" ucapnya mengulas senyum tipis pada calon rekan bisnisnya dan mengulurkan tangannya.


"Selamat sore, Iya benar. Anda Tuan Axel?" kata Tuan Harun menyambut uluran tangan Axel.


"Iya, Dan ini Bram, Asisten saja" kata Axel memperkenalkan Bram.


"Oh iya baik-baik, silahkan duduk Tuan Axel" kata Tuan Harun lagi mempersilahkan.


Axel mengangguk dan duduk berhadapan tepat dengan sekertaris Tuan Harun yang kini tersenyum manis padanya.


"Saya, Mawar Tuan" kata Sekretaris Tuan Harun mengulas senyum menggodanya.


Tapi tak sedikitpun Axel membalasnya. Ia sudah terbiasa dengan hal seperti ini, Axe lebih memilih fokus pada apa yang menjadi tujuannya bekerja. Ia dengan lugas menyampaikan visi misi perusahan dan keuntungan tentang proyek yang akan dia bangun.


Happy Reading.


Tbc.