
Setelah mengajak Dio dan Karin makan, Papa Abimanyu langsung mengajak mereka pulang ke rumah. Karin sempat tercengang saat melihat bangunan rumah Papa Abimanyu yang begitu megah bak istana, berbagai model mobil tampak menghiasi bagasi yang siang itu terbuka. Karin tak menyangka kalau suaminya adalah anak the real sultan.
Mereka harus menaiki tangga kecil untuk sampai di pintu utama yang begitu tinggi dan kokoh. Karin sempat meremas pelan tangan suaminya sebelum masuk kedalam rumah itu.
"Bibi, Tolong bawa barang-barang Tuan Dio dan Nona Karin ke atas" ucap Papa Abimanyu pada salah satu pelayan.
"Tidak perlu, Nanti malam kita mau menginap di hotel saja Pa" kata Dio membuat Abimanyu mengerutkan dahinya.
"Kenapa harus menginap di hotel? disini banyak kamar yang kosong" kata Abimanyu menatap Dio tak mengerti.
Dio ingin menyahut tapi belum sempat karena mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Dilihatnya Istri pertama Abimanyu dan juga Elvan dan Renata.
"Oh, sudah datang ternyata, Aku pikir kalian masih punya malu untuk tidak menunjukkan diri di depan kami, tapi ternyata urat malu kalian sudah putus ya" kata Rossi dengan pedasnya.
Tangan Dio mengepal erat, ingin membantah tapi Karin menggelengkan kepalanya.
"Rossi jaga bicaramu, Ini rumah Dio juga, jadi dia berhak datang kesini kapan pun dia mau" kata Abimanyu menatap istrinya dengan tajam.
"Kau memang selalu menganakemaskan dia, Seharusnya kau sadar siapa yang sudah membuatmu seperti ini Abimanyu, Aku yang selalu mendampingi mu dari nol, bukan perempuan murahan itu" kata Rossi melirik Dio dan Karin dengan sinis.
"Aku rasa kau sudah keterlaluan Rossi, Sebaiknya kau pergi dari sini, Biarkan Dio dan Karin istirahat" kata Abimanyu semakin kesal pada Istri pertamanya.
"Lucu sekali, Seharusnya mereka yang pergi darisini. Tapi baiklah, karena aku berbaik hati, kalian boleh menumpang disini, tenang saja. Aku pasti akan memberikan kalian bonus makan gratis" kata Rossi memberi pandangan merendahkan pada Dio dan Karin.
"Cukup! Aku rasa aku tidak perlu tinggal disini. Aku dan istriku akan pergi, terima kasih untuk basa-basinya Nyonya Rossi. Aku pastikan ini terakhir kalinya kami menginjak rumah ini" kata Dio datar dan dingin. Ia segera menarik tangan Karin untuk segera pergi darisana, sudah cukup penghinaan yang mereka dapatkan, ia tak ingin harga dirinya di injak-injak lebih parah lagi.
"Dio! Tunggu nak" teriak Papa Abimanyu mencoba mencegah tapi Dio tak menggubrisnya.
Abimanyu hanya bisa pasrah menatap kepergian putranya. Ia kini menatap Rossi dengan tajam.
"Kau benar-benar keterlaluan! Apa aku perlu mengingatkan padamu siapa yang sudah membuat semua ini menjadi seperti ini, dasar perempuan tidak tau diri" kata Abimanyu sangat marah.
"Aku memang mengatakan yang sebenarnya, Anak itu tidak punya hak apapun disini, Hanya Elvan yang berhak memiliki seluruh aset yang kau punya, anak itu sama sekali tidak berhak karena dia hanya anak dari hasil perselingkuhan" kata Rossi tak kalah marahnya.
"Tutup mulutmu! Seharusnya kau itu malu Rossi, kau sengaja menjebakku sampai kau hamil Elvan dan aku terpaksa menikahimu. Kalau bukan karena kau, sampai saat ini Aku hanya akan menikahi Sofi. Harusnya kau sadar diri, seberapa rendah dirimu Rossi" teriak Abimanyu mengangkat tangannya namun Elvan dengan sigap menangkapnya.
"Jangan pernah menyentuh Mamaku! Papa yang harusnya malu, Apa kurangnya Mama sampai membuat Papa terus memikirkan wanita itu, Papa harus tau kalau hanya Mama yang mencintai Papa" Elvan balas berteriak karena tak terima Papanya memperlakukan Mamanya dengan kasar.
"Cinta omong kosong! Mamamu hanya memikirkan harta dan kekuasaan. Asal kau tau Elvan, Mama yang puja ini adalah perempuan licik yang menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisinya" kata Abimanyu sangat bagaimana sifat istri pertamanya yang selalu haus akan kekuasaan.
"Aku tidak perduli! Kalau Papa berani melukai Mama sedikit saja, aku pastian Papa akan berhadapan denganku" kata Elvan sedikit mendorong Abimanyu sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.
Rossi tersenyum sinis saat melihat wajah Abimanyu. "Jangan harap aku akan membiarkanmu hidup tenang Abimanyu, kau sudah membuatku sakit hati, kau juga harus tau bagaimana rasanya di benci orang yang kau cintai" kata Rossi.
Abimanyu mengertakkan giginya, tangannya mengepal erat. Ia benar-benar sangat membenci wanita itu. Gara-gara wanita itu masa depan yang di impikannya hancur tak tersisa. Abimanyu sudah pernah ingin menceraikannya, tapi wanita itu terlalu licik untuk di manipulasi.
Wajah Dio masih tampak sangat marah saat mereka sudah keluar dari rumah Papa Abimanyu. Karin sudah mencoba bertanya, tapi Dio sama sekali tak menggubrisnya. Ia terus diam saja bahkan sampai mereka tiba di hotel.
"Abang mandi dulu, atau aku dulu?" tanya Karin saat sampai di dalam kamar.
Tapi Dio bergeming, ucapan Mama Rossi tadi terus berputar di kepalanya membuat emosinya tak kunjung mereda.
"Abang! Di panggil dari tadi juga!" Karin berteriak kesal karena merasa di kacangin oleh suaminya.
"Ha? Ada apa?" Dio kaget mendengar teriakan istrinya.
"Aku tanya, Abang mau mandi dulu atau aku dulu. Mikirin apasih, sampai aku di cuekin gini" kata Karin langsung ngambek, ia melipat tangannya di atas perut pertanda ia sangat kesal.
"Maaf, Aku masih kepikiran ucapan wanita tadi. Kamu mandi dulu aja, Aku capek banget" kata Dio mendudukkan tubuhnya di samping Karin seraya mengelus pundak istrinya, berharap mengurai kekesalan istrinya.
"Ngapain dipikirin terus, Omongan orang nggak penting gitu nggak usah di masukin hati, Abang sampai cuekin aku gini, Aku kesel ah" kata Karin masih bertampang merajuk.
"Jangan kesel dong, aku kan udah minta maaf. Aku janji nggak akan cuekin kamu lagi, maaf ya" kata Dio beralih memeluk istrinya, menguyel-uyel wajahnya merayu.
"Oke, Tapi Abang harus aku hukum" kata Karin tersenyum jahil.
"Hukum apa?" Dio menatap istrinya waspada. Sedetik kemudian matanya membesar saat melihat tangan Karin yang bersiap menggelitiknya.
"Karin jangan, Kau boleh menghukum ku apa saja, tapi jangan menggelitikku" kata Dio menjauhkan tubuhnya. Ia benar-benar tak tahan jika Karin menggelitiknya.
"Hahaha, ini sangat menyenangkan. Ayolah, jangan kabur" kata Karin tertawa dan terus mendekati suaminya.
"Kalau begitu kenapa tidak kau saja yang duluan, bukankah itu menyenangkan" kata Dio tiba-tiba terlebih dulu menggelitik perut Karin.
Karin kaget dan tegang saat merasakan geli di perutnya, ia bahkan berteriak-teriak dan mencoba melawan Dio tapi tenaganya kalah kuat.
"Sudah, Sudah, aku tidak tahan" kata Karin bahkan kesulitan bernafas karena menahan geli karena gelitikkan Dio.
"Bagaimana? Menyenangkan bukan?" kata Dio tertawa senang.
"Abang curang, Aduh, perutku sakit. Curang sekali, seharusnya aku yang melakukan itu" kata Karin memegangi perutnya yang sakit.
"Kau bilang itu menyenangkan, Mau coba lagi?" kata Dio bersiap menyerang istrinya.
"No! Ampun Abang, aku mau mandi dulu" kata Karin terburu-buru masuk kedalam kamar mandi untuk melarikan diri dari Dio yang tertawa puas.
Happy Reading.
Tbc.