
Di sekolah, Bella tak bisa fokus belajar. Ingatannya terus melayang pada percintaan panasnya dengan Axel. Sikap manis pria itu pagi tadi. Bahkan Bella terus terngiang-ngiang tentang suara Axel yang menurutnya begitu merdu di telinganya.
Apalagi bau khas tubuh Axel yang ada di Hoodie yang ia pakai, Bella merasa seolah ia sedang berada dalam pelukan pria itu. Tanpa sadar Bella tersenyum geli membayangkan adegan panas mereka.
"Lo kenapa sih, senyam-senyum gaje gitu" kata Tiara dengan dahi berkerut.
"Ha? Apa? Nggak ada tuh.. Lo ada-ada aja deh" elak Bella menyangkal.
"Lo pikir gue nggak lihat? Hayo..mikirin apa lo?" ucap Tiara tak bisa percaya begitu saja.
"Nggak ada Tiara! Udah di bilang juga" sergah Bella.
"Serius? Terus kenapa lo pakai Hoodie di siang bolong begini? Aneh banget" Tiara semakin keheranan melihat Bella memakai Hoodie di cuaca yang panas terik seperti sekarang.
"Kan gue udah bilang, kalau gue lagi nggak enak badan" cetus Bella menutupi kegugupannya. Ia takut Tiara akan mengetahui kebohongannya yang sengaja memakai Hoodie untuk menutupi kissmark di lehernya.
"Ngomong-ngomong tentang Hoodie, Kok gue kayak nggak asing ya sama Hoodie yang lo pakai" Karin yang sejak tadi diam ikut berbicara.
"Ya kan yang punya Hoodie kek gini banyak, Emang Lo kira pabriknya cuma buat satu doang apa" kata Bella merasa semakin terpojok.
"Iya sih, Tapi gue hafal banget sama gambar sama warnanya. Ini tuh kayak Hoodie punya kak Axel"
Karin baru ingat jika Hoodie itu sama persis seperti punya Axel. Karena saat pertama kali mereka bertemu, Axel memang memakai Hoodie berwarna abu-abu dengan gambar abstrak seperti yang di pakai Bella saat ini. Ia tak akan pernah melupakan first time pada cinta pandangan pertamanya.
Sedangkan Bella membesarkan matanya kaget mendengar ucapan Karin. Ia tak menyangka Karin sampai ingat sedetail itu tentang Axel. Bahkan hal yang tidak penting pun Karin mengingatnya.
"Apaan sih, Yang punya baju kek gini tuh banyak Rin. Nggak usah mikir aneh-aneh deh"
"Gue nggak mikir apa-apa. Cuma pengen tanya aja. Eh lo nggak punya niatan buat ngasih Hoodie lo buat gue gitu"
"Hoodie ini?" tanya Bella dibalas anggukan oleh Karin.
"Buat apa? Lo kan juga punya Hoodie banyak di rumah" Bella menatap Karin tak mengerti.
"Biar couple an sama Kak Axel" kata Karin dengan wajah bersemu merah. Ia membayangkan bagaimana jika dia dan Axel akan memakai baju Couple. Pasti sangat romantis.
"Dasar! Maunya Lo.. Beli sana sendiri. Kak Axel juga belum tentu mau Couple ama Lo" Seru Tiara mengejek Karin yang seolah tergila-gila akan sosok Axel.
"Kan belum di coba, Lo kok nggak ngedukung banget sih kalau gue sama kak Axel" kata Karin menatap malas Tiara.
"Bukannya nggak mendukung, Gue cuma mau jauhin Lo dari sakit hati. Kan gue udah bilang Kalau Kak Axel itu pacarnya banyak. Emang Lo mau, pacaran sama Kak Axel tapi makan ati mulu"
"Siapa tau kak Axel tobat kalau pacaran sama gue" Karin mencoba berfikir optimis.
"Terserah lo deh. Yang penting gue udah peringatin Lo" kata Tiara ikut malas meladeni sahabatnya yang di mabuk cinta.
Bella diam saja saat keduanya membahas Axel. Namun dalam hati ia bertanya apakah benar yang dikatakan oleh Tiara. Apakah sekarang Axel juga punya wanita lain diluar sana. Dan kenapa ia merasa tak suka saat melihat Karin begitu mengagumi Axel.
Bukankah seharusnya ia yang malu? karen Karin lah yang lebih dulu menyukai Axel. Tapi sekarang ia malah menikung sahabatnya itu. Tidak..tidak.. Axel dan Karin belum pacaran, jadi itu bukan termasuk menikung kan? Lagipula semua itu juga bukan karena kesengajaan.
"Bella, ada paket nih buat Lo!" Terlihat Dani salah satu teman sekelasnya datang membawa sebuah paper bag.
"Buat gue?" tanya Bella bingung saat Dani mengangsurkan paper bag itu padanya.
"Ya" jawab Dani.
"Dari siapa?" Tanya Tiara ikut penasaran. Karena tak biasanya ada yang mengirim paket.
"Nggak tau" jawab Dani mengangkat bahunya acuh. Ia kemudian pergi meniggalkan Bella yang terheran-heran.
"Coba lihat isinya apa" Kata Karin.
Jangan lupa makan siang..
Semoga kau menyukainya..
From
Someone In Your Heart ♥️
Siapa seseorang yang ada dihatinya? Senyumnya mengembang saat mengetahui siapa pengirim misterius itu. Dasar Axel! Bisa aja buat orang meleleh. Tapi bagaimana Axel bisa tau makanan kesukaannya?
"Cie..cie yang punya penggemar rahasia" kata Tiara ikut tersenyum.
"Someone In Your Heart. Siapa tuh?" ledek Karin semakin membuat wajah Bella memerah.
"Apaan sih" ucap Bella tak mau meladeni ledekan kedua sahabatnya. Meskipun kini ia tak berbohong jika hatinya seolah dihinggapi ribuan kupu-kupu yang ingin terbang meledakan hatinya.
****
Rumah Sakit Internasional Jakarta
Axel berjalan dengan cepat, kadang ia juga berlari lari kecil untuk segera sampai di ruangan ibunya. Saat sampai di sana, sudah ada Ayahnya yang sedang menunggu di luar lapangan.
"Ayah! Bagaimana keadaan Ibu?" Tanya Axel langsung.
Indra Jaya tersentak kaget saat mendengar ucapan Axel. Namun sedetik kemudian wajahnya mengeras mengingat apa yang sudah di perbuat putranya. Dengan tanpa peringatan Indra Jaya langsung menampar pipi Axel sangat keras hingga hampir saja Axel terjatuh karena kehilangan keseimbangan.
"Dasar anak tak tau diri! Apa kau ingin membunuh orang tuamu dengan ulah mu" Bentak Indra Jaya begitu geramnya.
"Aku pikir setelah kejadian itu, kau berubah. Tapi apa yang kau lakukan. Ha!" Indra Jaya kembali menampar pipi Axel.
Axel mendesis merasakan panas di kedua pipinya. Namun ia hanya diam saja.
"Apa Ayah sudah puas? Aku kesini hanya ingin bertemu ibuku" kata Axel dingin tak bernada.
"Kurang ajar! Masih berani kau menunjukkan wajahmu itu" Indra Jaya begitu marah saat melihat foto-foto vulgar anaknya. Ia tak habis pikir, bagaimana anaknya bisa melakukan hal-hal menjijikan seperti itu.
"Om, kendalikan diri om, kita sedang di rumah sakit" Bram ikut menengahi pertengkaran antara Ayah dan Anak itu. Ia juga merasa kasihan melihat Axel di pukuli Ayahnya. Karena bagaimanapun juga Axel tak bersalah dalam hal ini.
"Kalau begitu, suruh anak tak tau diri ini pergi dari sini" Usir nya merasa darahnya naik jika melihat Axel.
Axel hendak membantah namun di urungkan saat melihat Dokter keluar dari ruangan Ibunya.
"Bagaimana keadaan Ibu saya dokter?" tanya Axel langsung.
"Beliau tidak apa-apa, hanya mengalami syok. Sekarang sudah bisa di lihat" kata Dokter Andrean.
Axel bernafas lega mendengar penjelasan Dokter Andrean. Setelah mengucapkan terima kasih, Axel langsung masuk ke ruangan tanpa memperdulikan Ayahnya yang masih marah dengannya.
****
Jangan lupa like dan komen kakak...
HAPPY READING
TBC