
Sesampainya di rumah, Bella masih tertidur pulas. Axel yang tak tega membangunkannya, Akhirnya ia memutuskan untuk menggendong tubuh istrinya sampai kedalam rumah. Bella ternyata orang yang cukup peka, Ia langsung terbangun saat ada orang yang menyentuh dirinya.
"By? Kamu mau apa? Aku ini berat, nanti kamu nggak kuat. Aku jalan sendiri aja" Bella berseru kaget saat melihat Axel sudah meletakan tangan di bawah lututnya.
"Enggak berat sama sekali. Udah, diem aja. Aku mau gendong kamu" kata Axel langsung menggendong tubuh istrinya tanpa memperdulikan protes dari Bella.
"By! Jangan aneh-aneh. Nanti aku jatuh lagi" kata Bella memekik kaget dan mengalungkan tangannya di leher suaminya.
"Makanya kamu pegangan. Lagian kapan lagi aku bisa gendong istri dan anakku barengan gini" kata Axel menyempatkan diri untuk mencium kening istrinya sebelum melangkah masuk kedalam rumah.
Axel meletakan Bella di kasur dengan sangat hati-hati. Lalu ia melepaskan flat shoes yang dikenakan istrinya.
"Kaki kamu bengkak? Kenapa? Apa sepatunya kekecilan?" Axel kaget saat melihat kaki istrinya yang merah dan juga membengkak.
"Lumayan By. Tapi nggak apa-apa kok" kata Bella tersenyum menenangkan saat melihat raut khawatir suaminya.
"Maafin aku ya, Gara-gara hamil kamu jadi menderita kayak gini. Kita membuatnya sama-sama, jadi seharusnya menderita juga bersama" kata Axel memijat lembut kaki Bella berharap bisa mengurangi bengkak.
"Siapa bilang aku menderita? Aku bahagia By, Aku sangat menikmati masa kehamilanku. Di dunia ini semua di ciptakan dengan adil, Kau akan mendapatkan bagian mu nanti" kata Bella tersenyum jahil.
"Apa maksudmu?" tanya Axel tak mengerti.
"Orang bilang, ketika anak lahir ke dunia dan seorang ayah memeluknya pertama kali. Ayah akan memberikan seluruh dunianya untuk sang anak. Seorang ayah mungkin tak ikut menderita saat istrinya melahirkan. Tetapi tanggung jawab setelah anak itu tumbuh kemudian berada di tangan ayahnya"
"Ketika anaknya membutuhkan perlindungan, Membutuhkan bahu yang kuat untuk bersandar. Bahkan ketika anak membutuhkan seorang Ayah yang berjalan disisinya untuk melepaskannya dengan tangis bahagia ketika dia menikah nanti. Di situlah kau berperan sebagai seorang Ayah By, Sebagai orang tua untuk anak-anak kita nanti" kata Bella menatap Axel yang juga menatapnya penuh keharuan yang sama.
Axel mendekatkan wajahnya ke Bella dan mencium lembut dahi istrinya. "Apa kau mau mendampingiku sampai kita bisa mengantar anak-anak kita menikah nanti?"
"Tentu saja By. Yakinlah, Aku dan anak kita akan selalu mendampingi mu sampai tua nanti. Tapi aku rasa, meskipun kau tua, Kau akan tetap menjadi Ayah yang paling tampan dan anak-anakmu akan bangga memiliki mu" kata Bella tertawa renyah menggoda suaminya.
"Sudah pinter gombal ya?" kata Axel tertawa karena godaan istrinya.
"Aku serius tau. Lagipula tugasmu itu masih banyak By. Tunggu saja, kalau anak kita lahir. Aku akan memberimu tugas berjaga malam. Kau harus menggendong dan menenangkannya, Belum lagi kalau mereka pup, Kau juga harus belajar menggantikan popoknya nanti" kata Bella tersenyum membayangkannya, ia sungguh tak sabar menantikan hal itu.
Pandangan Axel melembut saat Bella mengatakan hal itu, Hatinya merasa tenang dan bahagia. Ia lalu merebahkan kepalanya di perut istrinya yang sudah membuncit.
"Bagaimana kabarnya hari ini? Apakah dia baik-baik saja?" ucap Axel dengan suara lembut seraya mengusap pelan perut istrinya.
Seolah mengenali sentuhan sang Ayah, Bayi dalam perut Bella langsung bergerak menendang dan memutar dengan aktif membuat Bella meringis karena tendangannya yang kuat.
"Aduh!" pekik Bella tak bisa menahan suaranya.
"Kenapa? Apakah dia menendang terlalu kuat?" tanya Axel dengan wajah paniknya.
"Hei, tidak apa-apa. Dia menendang kuat karena terlalu sehat" kata Bella masih sedikit meringis karena anaknya tak bisa diam. Tapi ia tersenyum saat melihat ekspresi suaminya yang semula takjub lalu berubah ngeri. Terkadang panik namun selalu menggetarkan hati Bella.
"By, Bayi menendang itu sangat bagus karena itu pertanda dia sangat sehat di dalam perutku. Tenang saja, Bayi kita tidak akan melukai Mamanya" kata Bella menarik lembut tangan Axel untuk kembali menyentuh perutnya. Setelah mengatakan hal itu, Bayi dalam perut Bella kembali menyikut namun tak terlalu keras.
"Nah, Kau merasakannya kan? Ini adalah keajaiban terindah By, Kita harus mensyukurinya" kata Bella tak henti mengembangkan senyum manis di bibirnya saat merasakan gerakan kecil di perutnya.
"Aku sudah nggak sabar menunggu dia lahir" kata Axel menatap Bella penuh cinta. Ia merasa rasa cintanya semakin meluap-luap untuk wanita itu.
Bella adalah wanita yang jauh diluar ekspetasinya. Bella yang cantik dan polos, dan wanita itu juga sudah memberikan seluruh masa mudanya untuk dirinya. Bella adalah pendamping hidup yang sempurna untuk dirinya yang banyak sekali kekurangan.
*****
Sore menjelang pesta pernikahan Jofan, Bella sudah begitu sibuk memilih gaun yang akan di pakainya. Ia beberapa kali mencoba gaunnya kemudian di lepas lagi, Ia mencari gaun yang cocok dengan setelan jas suaminya.
Sejak tadi Bella mondar mandir hanya menggunakan bra dan celana da lam saja. Axel hanya diam memperhatikan tubuh seksi istrinya kesana kemari didepannya.
"By! Aku bingung pakai gaun yang Mana?" kata Bella berbicara tanpa menoleh pada Axel.
"Yang mana aja, Kamu pasti cantik" kata Axel masih memperhatikan apa yang di lakukan istrinya. "Apalagi kalau gitu aja, Kamu makin cantik buat aku" kata Axel tersenyum geli saat melihat Bella yang kini menu ngging melepas hot pant nya.
"Dasar!" seru Bella mendengus mendengar ucapan suaminya.
"Kamu dari tadi gini terus, Aku jadi pengen" suara Axel tiba-tiba sudah ada di belakang Bella tanpa wanita itu sadari.
"Enggak ah, Aku mau mandi, nanti dandannya juga lama" tolak Bella melirik suaminya yang mulai memeluk tubuhnya dari belakang.
"Sebentar aja..." bisik Axel mengecupi tengkuk istrinya. Tangannya tak henti memberi pijatan lembut di dada istrinya yang menggoda.
"Aku nggak percaya By" kata Bella menolak manuver memabukkan yang di ciptakan suaminya.
"Aku maunya sekarang, kamu nggak kasihan lihat aku" kata Axel menunjukan bagian dirinya yang sudah meronta sejak tadi.
"Enggak, Nanti malem aja" kata Bella tertawa kecil melihat wajah suaminya, Ia malah sengaja mere mas pelan benda itu membuat Axel sedikit kaget.
"Sekarang, Aku janji nggak akan lama" kata Axel langsung mencium bibir istrinya untuk melakukan pemanasan. Tangannya dengan lincah melepas pengait bra hingga kedua benda bulat terpampang indah.
"Aku suka banget lihat ini" kata Axel menatap benda itu sebelum menciumnya dengan gairah hingga menimbulkan suara berdecak.
"By.." Bella menahan de sahannya saat Axel menyu su layaknya bayi besar dengan tangan yang tak henti meraba bokongnya.
Axel yang tau istrinya sudah siap, segera merebahkan tubuh Bella di kasur dengan lembut. Ia mengusap pelan bagian bawah istrinya yang sudah siap menerima dirinya. Beberapa menit kemudian, de sahan keduanya saling bersahutan. Mata mereka saling menatap ditemani temaram senja yang meninggalkan warna yang indah, seindah cinta mereka berdua.
Happy Reading.
Tbc.