
Acara resepsi pernikahan Dio dan Karin selesai sampai pukul dua siang. Tapi masih banyak tamu undangan yang tinggal untuk sekedar mengobrol. Di acara seperti ini banyak juga digunakan untuk pengusaha untuk mencari tangkapan besar.
Kini kedua pengantin baru itu tampak sudah berjalan di lorong menuju kamar mereka dengan tangan yang saling bertautan. Mereka masih memiliki waktu istirahat beberapa jam sebelum nanti sore akan terbang ke pulau bintan untuk melakukan honeymoon.
Sebuah hadiah eksklusif langsung dari Mama Sofi yang tak bisa di tolak atau di ganggu gugat karena wanita itu sudah menyiapkan hadiah ini jauh-jauh hari karena ia ingin segera mendapatkan cucu dari sang putra kesayangan.
"Harusnya Mama nggak perlu repot ngurusin hal beginian" ucap Karin saat sampai di dalam kamar mereka. Ia segera membuka sanggul dan membersihkan make upnya.
"Iya, ya.. Padahal nggak perlu jauh-jauh, Aku bisa aja buatin cucu untuk Mama dimanapun tempatnya" sahut Dio mengerlingkan matanya menggoda istrinya.
Karin hanya mencibir sebal mendengar perkataan Dio.
"Butuh bantuan Nyonya?" Dio sudah berdiri dan mendekati istrinya yang kesusahan membuka gaunnya, ia langsung memeluknya dari belakang.
"Boleh, tapi nggak udah macem-macem" kata Karin seolah tau maksud terselubung suaminya.
"Kalau itu nggak janji" bisik Dio menarik resleting gaun itu perlahan hingga menampakkan punggung halus Karin yang selalu menggodanya.
"Aku capek mau istirahat" kata Karin sengaja ingin menjahili suaminya.
"Justru karena kamu capek aku mau ngelakuinnya sekarang" kata Dio kini menyibak lembut lengan gaun itu agar lolos dari tangan istrinya.
"Enggak, Ini juga masih siang. Aku mau istirahat aja" kata Karin sedikit jual mahal kali ini. Lagipula pagi tadi ia sudah menuntaskan keinginan suaminya itu.
"Mau siang atau malam nggak ada bedanya, sama-sama nikmatnya" bisik Dio langsung meloloskan gaun pengantin yang di kenakan Karin.
Gaun pengantin yang di kenakan Karin adalah sebuah gaun dimana Karin tak perlu menggunakan bra lagi. Tulang yang membentuk gaun itu dengan luwes membantu menopang dada Karin dengan sempurna.
"Kamu memang luar biasa...selalu diluar ekspektasi ku" bisik Dio dengan nafas memburu saat melihat pemandangan yang memanjakan matanya.
"Dio, aku malu" kata Karin mencoba menutupi dadanya, tapi Dio segera menyingkirkannya dan membalikan tubuhnya lalu langsung mengangkatnya.
"Aku nggak akan biarin kamu tidur sebelum aku bisa ngelakuin itu" kata Dio tak memberi waktu Karin untuk berbicara, ia langsung membungkam mulut Karin dengan ciuman panasnya.
Tubuh mereka terhempas ke ranjang secara bersaman karena Dio tak melepas tautan bibir mereka sama sekali. Dengan tak sabar, ia membuka jas dan kemejanya hingga menyisakan selembar kain hitam yang menempel di tubuhnya.
"Oh No!" pekik Karin saat suaminya membuka sesuatu yang akan membuat gila itu.
Dio menyeringai, ia segera menarik kaki istrinya untuk mendekat. Ia menatap istrinya yang kini sudah pasrah dengan kaki yang masih terbungkus high hells putihnya membuat Dio merasa Istrinya sangat seksi.
"Siapkan makian mu Nyonya" bisik Dio segera melakukan penyatuan dengan sedikit kasar.
Tapi hal itu justru semakin memancing Karin yang entah kenapa lebih suka jika Dio melakukan seperti itu, ia juga menikmati saat melihat ekspresi suaminya yang selalu puas setelah mereka melakukannya.
"Argh....Sayang...." Dio mengeram pelan dan mencium leher istrinya dengan keras saat ia sampai di puncaknya.
Karin pun sudah memejamkan matanya karena ia juga baru mendapatkan pelepasannya yang entah keberapa kali dalam satu putaran.
"Kamu memang wanita yang spesial" kata Dio menciumi dagu istrinya dengan gemas seolah menggigitnya.
"Stt....udah Dio, aku capek" kata Karin masih mengatur nafasnya.
"Maaf, Aku sampai nggak sempat ngelepas ini" kata Dio meraih kaki Karin dan melepaskan high hells itu.
"Iya" kata Karin ingin meraih selimutnya untuk menutupi tubuhnya tapi Dio segera menariknya.
"Jangan tidur dulu, Kamu belum mandi" kata Dio mencegah.
"Nanti aja sekalian, aku capek banget" kata Karin benar-benar lelah rasanya.
"Apalagi?"
"Tengkurap sayang" kata Dio membuat Karin melirik suaminya kesal.
"Udah aku bilang aku capek, kalau mau ganti ganti gaya ntar malem aja kalau kita ....Akh...." Karin berteriak kaget saat Dio membalikkan tubuhnya secara tiba-tiba.
"Dio! Kau ini mau apa?" kata Karin melirik suaminya.
"Memangnya apa yang kau pikirkan?" Dio mengerutkan dahinya lalu mengulurkan tangannya untuk memijat lembut punggung istrinya.
"Ha?" Karin sedikit kaget karena saat merasakan pijatan dari Dio.
"Ternyata pikiranmu mesum juga ya my wifey.." Dio terkekeh kecil saat melihat wajah Karin yang terkaget-kaget.
"Kau sih, Kenapa nggak bilang aja kalau mau mijitin...Ehmm, pijatan kamu enak" Karin memejamkan matanya meresapi tangan halus suaminya.
"Pijatanku selalu enak, apalagi kalau disini..." kata Dio dengan sengaja menjalari dada istrinya.
Tapi tak ada sahutan dari Karin karena wanita itu sudah tertidur. Dio tersenyum lembut, ia kemudian ikut merebahkan tubuhnya lalu menarik tubuh Karin agar berada di pelukannya.
"Sweet dreams wifey..."
******
Pukul lima sore, Dio dan Karin sudah siap untuk melakukan penerbangannya. Sore itu sangat cerah dan semilir angin menerpa lembut. Seluruh keluarga ikut mengantar kedua pasangan itu sampai di lobby hotel.
"Kalau sudah sampai jangan lupa kabarin ya" kata Mama Elmira memberikan pelukan hangat pada putrinya.
"Iya Ma" sahut Karin lalu bergantian berpelukan dengan Mama Sofi.
"Bahagia selalu sayang..." kata Mama Sofi mengelus lembut pipi menantunya.
Karin mengangguk dan tersenyum manis, ia kemudian bergantian berpelukan dengan Papa Abimanyu dan juga Papa Raimond yang entah kenapa sore itu terlihat tak rela melepas putrinya pergi.
"Apa nggak sebaiknya besok saja kalian berangkat?" kata Raimond membuat Karin sedikit bingung.
"Kenapa Pa?" tanya Elmira yang melihat kegusaran suaminya.
"Tidak apa-apa, Papa hanya takut Karin kecapekan karena baru selesai acara" kata Raimond benar-benar tak enak perasaannya.
"Aku nggak apa-apa kok Pa, Aku juga udah selesai istirahat tadi" sahut Karin sedikit melirik suaminya yang menahan senyum tipisnya.
"Baiklah, hati-hati di jalan ya" Kata Raimond memeluk putrinya sekali lagi sebelum melepas mereka pergi.
Dio dan Karin melambaikan tangannya saat mobil mereka mulai berjalan meninggalkan hotel. Karin terus mengembangkan senyum manisnya membuat Dio sedikit heran.
"Kenapa tersenyum terus?" tanya Dio saat mereka sudah cukup jauh berjalan tapi Karin terus tersenyum.
"Ya karena aku sedang bahagia hari ini, Apa kau tidak bahagia?" kata Karin memasang wajah cemberutnya membuat Dio gemas dan langung mencium bibir Karin.
"Justru aku sangat bahagia hari ini, karena kau sudah resmi menjadi milikku selamanya" kata Dio merangkul mesra pundak Karin lalu menyandarkannya di bahunya.
Happy Reading.
Tbc.