MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Just One Please



Axel tak perduli jika Bella akan marah atau mungkin akan menamparnya. Ia sudah mencoba mengontrol dirinya, Tapi pengaruh obat itu ternyata begitu kuat. Sialan!


Entah berapa dosis Bianca memberikan obat itu padanya. Ia bahkan mulai hilang kendali saat mencium bibir Bella yang begitu manis. Ia sedikit memaksa bibir mungil itu untuk terbuka.


Bella tampak mulai kewalahan menghadapi serangan Axel. Bahkan kini ia sudah hampir kehilangan nafasnya. Namun ia juga wanita normal. Ia tentu terpancing dengan permainan Axel yang begitu lihai. Memaksa gairahnya keluar. Ia memberanikan diri membalas ciuman Axel meskipun dengan sangat kaku.


Axel semakin tak bisa mengontrol dirinya saat Bella memberinya lampu hijau. ia menyingkap baju tidur dengan tali tipis itu dengan gerakan kasar. Nafasnya semakin memburu melihat bahu seputih susu yang seolah memanggilnya untuk menenggelamkan wajahnya di sana.


Axel mengehentikan ciumannya, Ia menatap wajah Bella yang kini menatapnya dengan mata sayu. Axel semakin terpancing dengan tatapan mata Bella yang seolah ingin ia melakukan lagi. Dengan gerakan cepat, Axel menggendong tubuh Bella, merebahkan tubuhnya di kasur. Ia ingin membuat Bella nyaman.


Bella hanya bisa pasrah saat Axel merebahkan tubuhnya. Pria itu tak memberikan waktu untuk istirahat barang sejenak. Karena Axel semakin ganas menciumnya. Tangannya semakin liar menjelajahi tubuhnya membuat seluruh tubuh Bella gerah. Axel bahkan tak sabar membuka baju Bella, jadi dia terpaksa merobeknya.


Bella tampak malu-malu saat Axel menatap tubuhnya yang kini terpampang di depan Axel. Apalagi pria itu menatapnya lapar. Kilatan nafsu tampak sangat jelas dimatanya.


Axel terpana melihat pemandangan indah di depannya. Ia memang sudah sering melihat hal seperti ini. Tapi melihat milik Bella yang masih ranum membuat jantung Axel berpacu lebih cepat. Mungkin karena efek kehamilan membuat benda itu semakin besar.


"Ah.." Bella tak tau kenapa mulutnya mengeluarkan suara aneh saat Axel melakukan sesuatu di disana.


Bella merasa tubuhnya seperti tersengat aliran listrik saat Axel meraba, menjelajahi tubuh Bella yang selembut sutra. Bella bahkan tak tau sejak kapan Axel sudah menanggalkan pakaian keduanya hingga mereka sama-sama polos. Axel benar-benar membuat Bella meninggalkan dunia sesaat.


"Apa aku boleh?" Axel merasa perlu bertanya untuk melanjutkan langkah selanjutnya. Meskipun ia harus menahan dirinya sekuat tenaga.


Bella menatap mata Axel yang begitu berharap. Ia menggigit bibir bawahnya. Sebelum mengangguk dengan penuh perasaan. Axel tersenyum manis, ia kembali mencium bibir Bella dengan lembut.


"Apakah sakit?" Tanya Axel melihat wajah Bella yang meringis.


"Sedikit" Meskipun mereka sudah pernah bercinta sebelumnya. Tapi Bella masih merasa sakit di intinya saat Axel melakukan penyatuan.


"Maafkan aku, aku akan pelan-pelan" Ucap Axel ingin membuat Bella senyaman mungkin menerima dirinya. Ia juga harus berhati-hati karena Bella saat ini sedang hamil.


Dan Axel benar-benar membuktikan perkataanya. Menyentuh Bella dengan sehalus dan selembut mungkin, Meskipun ada saatnya Axel hilang kendali melakukan nya sedikit keras. Tapi Bella merasa tak masalah, bahkan mulutnya sejak tadi terus mengeluarkan de*ahan yang membuat Axel semakin semangat. Ia beberapa kali memekik saat Axel menghujam terlalu dalam miliknya.


Malam itu menjadi saksi pergumulan mereka yang begitu syahdu. Dengan suasana sejuk namun berbalut keringat. Axel benar-benar membuat pengalaman Bella berkesan. Bella merasa disayang dan dicintai. Hingga keduanya larut dalam puncak kenikmatan.


****


Axel tersenyum melihat tubuh Bella yang meringkuk di pelukannya. Wanita itu langsung tertidur begitu ia menyelesaikan pencapaian terakhirnya. Mungkin Bella sangat kelelahan meladeni gairahnya yang seolah tiada habisnya.


"Dia sangat imut jika seperti ini" kata Axel menatap lama wajah Bella saat sedang tidur. Tidak ada wajah garang yang selalu di tunjukkan.


Jika tidak mengingat saat ini Bella sedang hamil. Axel pasti akan menerkam habis Bella malam ini. Apalagi pengaruh obat itu sepertinya belum hilang. Sialan! Apa ini yang Bianca inginkan? Bercinta dengannya tanpa jeda?. Axel mengeraskan wajahnya jika mengingat ulah wanita licik itu. Dia tak akan membiarkan wanita itu lepas.


"Dingin" gumam Bella semakin merapatkan tubuhnya ke arah Axel.


Axel melirik Bella yang mendesak ke arahnya. Hal itu membuat Axel mengembangkan senyumnya. Ia menarik selimut yang terlempar ke lantai karena ulah bar-barnya tadi. Ia lalu ikut bergabung dengan Bella. Ia juga perlu istirahat karena tubuhnya begitu lelah.


"Selamat Tidur Kucing mungil" Axel mengecup lembut kening Bella membuat sang empu sedikit menggeliat.


****


Bella merenggangkan tubuhnya yang terasa remuk. Pandangannya menyapu keseluruhan kamar. Ia lalu melirik selimutnya yang melorot, memperlihatkan tubuhnya yang polos seperti bayi baru lahir.


Ia hampir saja berteriak karena rasa terkejutnya. Namun ia urungkan saat melihat Axel keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Melihat hal itu membuat Bella sadar apa yang sudah terjadi semalam.


"Sudah Bangun?" Tanya Axel dengan senyuman manisnya.


Bukannya menjawab Bella malah menarik tubuhnya beringsut kedalam selimut. Ia menutup wajahnya yang kini sudah memerah menyadari kalau semalam ia baru saja melewati malam panas bersama Axel. Ia mengingat bagaimana Axel menjamah tubuhnya dengan penuh perasaan.


Bella juga masih bisa merasakan ciuman Axel yang memabukkan. Pun dengan desah nafas keduanya yang saling bersautan.


"Kenapa tidur lagi? Apa kau sakit?" Suara Axel terdengar dari balik selimut membuat Bella semakin di landa rasa gugup. Sedangkan Axel menatap Bella tak mengerti.


"Aku tidak apa-apa, sebaiknya kau pergi" Sungguh Bella tak berani menunjukkan wajahnya di depan Axel. Sungguh Memalukan


Axel semakin bingung dengan apa yang di inginkan Bella. Namun sedetik kemudian ia menyeriangi menyadari kalau Istrinya itu pasti sedang merasa malu.


"Kau yakin ingin aku pergi?" godanya sengaja memeluk tubuh Bella dari belakang .


Mata Bella membulat saat merasakan tangan Axel melingkari tubuhnya dari balik selimut. Apa itu akan melakukan lagi?. Tidak tidak dia pasti tidak akan mampu. Karena semalaman pria itu sudah menguras habis tenaganya. Bahkan kini tubuhnya terasa remuk.


"Ya, Aku ingin mandi dan berangkat sekolah" Cetusnya mencoba melepaskan diri dari jeratan Axel.


Bella keluar dari tempat persembunyiannya dan kini ia bisa melihat jelas wajah Axel yang sudah segar dengan bulir air yang masih menetes. Dasar curang! Pikirnya. Pria itu sudah segar, sedangkan ia masih dalam keadaan berantakan seperti ini.


"Tapi ini masih pagi" kata Axel dengan senyum penuh Arti.


"Itu malah lebih bagus, karena aku tak perlu takut terlambat" kata Bella hendak berlalu ke kamar mandi. Tapi Axel menghentikannya, Ia menatap was-was pada Axel yang kini menatapnya tajam. Ia sudah hafal tatapan mata itu, tatapan mata yang sama seperti tadi malam saat Axel menyentuhnya.


"Just One Please"


****




Mohon bantu dukungan like dan komen ya kak.


Happy Reading


TBC