
"Yes! Aku menang, Aunty Karin kalah"
Rendra berteriak kegirangan saat bisa mengalahkan Karin di game terakhirnya, setalah beberapa kali di buat kewalahan, ia akhirnya menang.
"Yah....." Eril mendesah kecewa karena jagoannya kalah.
Karin tertawa seraya mengacak rambut Eril dengan gemas. Sebenarnya ia sengaja mengalah untuk membuat Rendra senang.
"Baiklah, karena Aunty kalah, Aunty akan mentraktir kalian" kata Karin dengan senyum tipisnya.
"Enggak usah Rin, Anak-anak emang udah bisa gitu, kamu nggak perlu meladeninya" kata Bella tak ingin merepotkan sahabatnya.
"Tenang aja, Aku juga pengen nih ajak mereka jalan-jalan. Buat ngerefresh otak" kata Karin bercanda.
"Aunty mau ngajak kita jalan-jalan?" tanya Eril antusias mendengar kata jalan-jalan.
"Iya, Mau nggak? Sama Kak Rendra juga" kata Karin sedikit berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Eril.
"Mau lah, Kakak juga pasti mau. Iya kan kak?" kata Eril semangat.
"Terserah Mama, Kalau Mama ngebolehin tapi" kata Rendra memandang Mamanya.
Bella terdiam menatap kedua putranya yang kini memandangnya dengan mata polos menggemaskan. Di seperti itu, mana mungkin Bella menolak.
"Boleh, tapi dengan satu syarat. Kalian nggak boleh merepotkan Aunty Karin, mengerti?" kata Bella.
Rendra dan Eril langsung mengangguk berkali-kali.
"Kita janji nggak akan ngerepotin Aunty Karin, yeee....Makasih Mama" kata Eril begitu senang karena Mamanya mengizinkannya. Ia berlari untuk memeluk Bella dan memberi ciuman di pipinya. Begitupun Rendra yang tampak senang, namun tak se ekspresif Eril, dia hanya tersenyum lebar dan mengucapkan terimakasih pada Bella.
Setelah mendapatkan izin dari Bella, Karin segera mengajak Rendra dan Eril ke mall. Ia tampak senang sekali karena bisa pergi bersama mereka, senyum dan canda anak-anak itu membuat Karin melupakan sejenak masalah yang menimpa suaminya.
"Aunty! Aku mau mainan yang itu, Aku belum punya" Eril berteriak saat melihat lego terbaru yang belum ia punya.
"Eh? Kita kan mau di traktir es Boba sama Aunty, kenapa kamu malah minta mainan" sergah Rendra menarik tangan adiknya.
"Tapi aku pengen itu Kakak" kata Eril.
"Kamu nggak inget kata Mama, kita nggak boleh ngerepotin Aunty" kata Rendra tegas khas anak-anak.
Karin malah tersenyum lucu melihat tingkah Rendra yang serius ini. Sepertinya jika besar nanti, Rendra akan menjadi anak yang sangat bertanggung jawab.
"Nggak apa-apa Rendra. Hari ini pokoknya Aunty Karin traktir, Kalian mau apa bilang aja, Nggak usah ragu, oke" kata Karin menepuk-nepuk pelan pundak Rendra.
"Tuh kan, Aunty aja bilang nggak apa-apa" kata Eril membuat Rendra mencibir.
"Tapi kita nggak ngerepotin Aunty kan?" tanya Rendra memang selalu bersikap tak enakkan.
"Enggak sama sekali dong" kata Karin kembali mengulas senyumnya dan mencubit gemas pipi Rendra.
Hari itu, Karin mengajak kedua putra Bella untuk bermain game di mall, makan, Karin juga membelikan mereka beberapa mainan. Ia benar-benar menyukai jalan-jalannya hari itu. Sampai sore hari, Karin baru mengajak mereka pulang.
"Hah? Hari ini seru banget ya Kak" kata Eril kembali berceloteh saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
"Oh iya, Aunty Karin makasih ya udah di ajak jalan-jalan. Aku suka" kata Eril memandang Karin dengan senyum manisnya menampakkan giginya yang ompong.
"Sama-sama Sayang" sahut Karin balas tersenyum.
"Eh tunggu Aunty, Aku lupa, tadi mainan yang hadiah dari game masih tertinggal di penitipan barang, aku lupa ngambil" kata Rendra mengecek semua paper bag disana dan tak menemukan hadiah mainan yang baru saja di dapat.
"Benarkah? Apa kamu udah ngecek lagi?" tanya Karin mengurungkan niatnya untuk menyalakan mobil.
"Enggak ada Aunty" kata Rendra menggeleng.
"Yaudah, kalian tunggu disini. Aunty ambilkan ya" kata Karin berlalu keluar dari mobilnya dan kembali masuk ke dalam mall untuk mengambil mainan Rendra yang tertinggal.
Ternyata memang benar masih ada, Karin tersenyum lega setelah mendapatkan mainan itu. Ia pun bergegas kembali ke mobil karena khawatir Rendra dan Eril terlalu menunggunya.
Sayup-sayup ia mendengar seseorang memanggilnya namun tak ia hiraukan, mungkin salah dengar, tapi suara itu kian jelas membuat Karin menghentikan langkahnya untuk mencari sumber suara itu.
"Karin!! Aku panggil dari tadi nggak denger"
Karin mengerutkan dahinya saat melihat sosok orang di depannya. "Kak Yuda? Ada apa ya?" kata Karin merasa tak nyaman jika bertemu pria lain jika tak bersama suaminya.
"Aku kangen sama kamu" kata Yuda entah memikirkan apa, tiba-tiba saja meraih Karin dalam pelukannya.
Karin mematung, terlalu kaget membuat otaknya tak bekerja tapi beberapa saat kemudian ia sadar segera melepaskan dirinya. Tapi sepertinya ia terlambat karena tanpa Karin ketahui, ada orang yang memfoto kejadian itu.
"Maksud kakak apa ngomong gitu? Aku udah nikah" kata Karin kesal namun masih menahannya.
"Maafin aku, Aku beneran kangen sama kamu. Beberapa kali aku nyari kamu, tapi nggak pernah ketemu" kata Yuda menatap Karin sendu.
"Buat apa kakak nyari aku?" tanya Karin menekuk wajahnya.
"Selama ini mungkin kamu udah tau perasaan aku ke kamu gimana, aku cuma mau bilang kalau aku akan selalu menunggumu Karin" kata Yuda ingin memegang tangan Karin tapi dengan cepat Karin menyembunyikan tangannya.
"Kakak jangan ngaco! Aku udah milik orang, dan Kakak nggak begitu, Carilah kebahagiaan lain, jangan menggangguku Kak, aku permisi" kata Karin tak ingin menambah masalah dengan adanya Yuda. Lagipula apa yang sebenarnya Yuda pikirkan, menunggu orang yang mempunyai suami? Apa itu tidak gila?
Setelah mengantarkan Rendra dan Eril pulang, Karin pun segera pulang ke rumahnya sendiri. Ia juga merasa lelah sekali, memang akhir-akhir ini Karin merasa aneh dengan tubuhnya yang mudah lelah dan mudah mengantuk. Sepertinya ini efek karena terlalu banyak pikiran.
Saat diperjalanan pulang, Karin tak sengaja menatap spion dan melihat ada sebuah mobil yang sepertinya terus membuntutinya, Karin langsung waspada, ia mempercepat kecepatan mobilnya membuat mobil yang mengikutinya itu ikut menambah kecepatannya.
Karin mulai panik, tapi ia mencoba tenang dan berkonsentrasi untuk menyetir. Ia bernafas lega saat berhasil mengecoh mobil itu dan sesegera mungkin ingin sampai ke rumah, ia harus menceritakan kejadian ini pada Dio, karena Karin yakin, hal ini ada kaitannya dengan masalah yang menimpa Dio.
"Abang?" Karin sedikit kaget saat melihat Dio sudah berada di rumah. Padahal biasanya, Dio selalu pulang larut malam.
"Abang tumben udah pulang?" tanya Karin melangkahkan kakinya mendekati Dio yang kini duduk di sofa ruang tengah.
"Kenapa? Kau tampak kaget?" kata Dio menatap Karin dengan tajam seperti elang. Wajahnya tampak sangat ketat dan tak ramah, terlihat sekali ia sedang marah.
Happy Reading.
Tbc.