MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Akhirnya Menikah Juga.



Dio ternyata tak main-main dengan ucapannya. Setelah kedua orang tua Karin memberinya lampu hijau. Malam harinya Dio langsung mengajak orang tuanya ke rumah Karin dan melamar wanita itu secara resmi.


Semuanya pun berjalan lancar karena kedua orang tua mereka sudah mengerti bagaimana hubungan antara Karin dan Dio. Tapi saat memutusakan akan mengadakan acara resepsi, Abimanyu tampak sedikit berdebat dengan Raimond karena Abimanyu ingin mengadakan acara resepsi pernikahan Dio di Kalimantan sedangkan Raimond juga bersikukuh ingin mengadakan di Jakarta karena kerabatnya banyak yang disini.


Akhirnya di pilih jalan tengah, resepsi pernikahan itu akan di adakan dua kali dan di tempat yang berbeda.


"Sampai ketemu besok" ucap Dio ketika malam sebelum kembali pulang ke rumahnya.


Karin masih sangat mengingat senyum itu bahkan sampai ke alam mimpi. Tidur dengan hati yang penuh kelegaan dan kebahagiaan yang membuncah membuat Karin terbangun saat matahari sudah cukup tinggi.


Karin mengambil ponselnya dan melihat sudah pukul delapan pagi. Bagaimana ia bisa terlambat bangun di hari pentingnya begini. Karin secepat kilat turun dari ranjang dan buru-buru mandi.


Setelah 30 menit kemudian, Karin sudah menggunakan gaun terbaiknya yang berwarna moccha. Ia belum membeli gaun pengantin karena semua mendadak. Karin merias sedikit wajahnya membuat ia semakin terlihat cantik. Rambutnya di biarkan terurai panjang.


"Karin..." Elmira terlihat masuk kedalam kamar putrinya. Ia menatap anaknya dengan senyum manis.


"Mama" kata Karin membalas senyum Mamanya.


"Kamu sangat cantik, Dio pasti sangat bangga memiliki istri sepertimu. Ayo, jangan biarkan calon suamimu menunggumu" kata Elmira menggandeng tangan anaknya.


"Makasih Ma" kata Karin malah gugup karena pujian Mamanya.


Karin kemudian turun dengan bergandengan tangan dengan Mamanya. Sesampainya di bawah, Karin terdiam saat melihat Dio yang sudah sangat rapi menggunakan setelah jas hitam. Tangan pria itu sudah tak lagi di sangga, perban di kepalanya pun sudah di lepas di ganti plester kecil di dahinya. Dengan wajah yang masih sedikit lebam, Dio malah semakin tampan di matanya.


Dio pun ikut terdiam saat melihat Karin, Meskipun tanpa riasan yang berlebihan, Karin tetap cantik, malah semakin cantik menurut Dio karena ia memang sangat suka wajah Karin yang natural. Dio menarik senyum tipisnya, wanita cantik itu adalah wanita yang lima tahun lalu menolak mentah-mentah pertanggung jawaban darinya, sebentar lagi akan menjadi istrinya.


Elmira menyerahkan tangan anaknya pada suaminya lalu baru di serahkan pada Dio.


"Hari ini aku menikahkan mu dan putri tercintaku. Mulai hari ini pula aku serahkan tanggung jawab untuk melindungi dan membela putriku pada dirimu. Aku juga ingin memberitahu mu kalau aku akan selalu mencintai dan menyayangi putriku seumur hidupku. Jika dia sudah menjadi istrimu, Tolong jangan sakiti dia dan perasaannya, Dan bila suatu saat nanti kau merasa bosan atau tidak mencintainya...Tolong katakan saja padaku, jangan beritahu dia.. Kembalikan saja dia baik-baik padaku seperti kau memintanya..." Raimond tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya, tanpa sadar air matanya sudah mengalir.


"Papa....Karin juga sayang sama Papa" Karin malah sudah menangis sejak tadi. Ia segera menghambur ke pelukan Papanya. Begitupun Elmira yang ikut menangis karena ia sangat tau perasaan suaminya.


Dio pun ikut terharu tapi ia tak ingin menangis, Ia mencubit cuping hidungnya untuk menyamarkan tangis.


"Sudah, Jangan menangis. Papa tidak ingin anak Papa terlihat jelek saat foto pernikahan nanti" kata Raimond sedikit tersenyum menghibur anaknya.


Karin mengusap air matanya pelan, ia balas tersenyum sebelum Papanya meraih tangannya dan di berikan pada Dio yang langsung menyambutnya mantap.


"Papa Percaya kau bisa menjaganya" kata Raimond menepuk pundak Dio sebelum mengantarkan mereka ke kantor pencatatan sipil.


Dio melempar senyumnya yang indah pada Karin yang juga tersenyum. Di pagi yang cerah itu, mereka mengawali perjalanan hidup dalam sebuah ikatan pernikahan yang resmi secara hukum dan agama mereka. Kedua orang tua mereka yang menjadi saksi atas ikatan janji suci itu.


"Selamat atas pernikahannya Tuan Dio dan pasangannya. Sekarang kalian berdua sudah resmi menjadi suami istri" kata kepala kantor pencatatan sipil menyerahkan akta pernikahan mereka.


"Setelah ini, pengantin bisa mengambil foto pernikahan" kata Kepala kantor itu lagi.


"Baiklah, terima kasih" kata Dio lalu merangkul pinggang Karin dan mengajaknya berfoto bersama dengan memegang akta nikah masing-masing.


Dio terus menerus menggenggam tangan Karin bahkan saat keduanya sudah keluar dari kantor pencatatan sipil. Kedua orang tua mereka langsung pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan Dio langsung mengajak Karin ke Apartemennya.


"Maaf, Aku belum bisa membelikan rumah untukmu, untuk sementara kita tinggal disini tidak apa-apakan?" kata Dio saat menggandeng tangan Karin masuk kedalam Apartemennya.


"Tenang saja, Aku akan tetap suka mau kau ajak tinggal dimana" kata Karin tertawa kecil.


Dio tersenyum tipis mendengarnya, Ia kemudian memeluk tubuh Karin agar menghadapnya. "Kau sudah pintar merayuku sekarang" kata Dio menatap istrinya dalam-dalam.


"Aku tidak merayu, Bagiku kau sudah lebih cukup dari apapun" kata Karin ikut menatap dalam mata Dio yang ternyata bagian terindah yang pertama kali ia sukai.


"Benarkah? Kalau aku tidak punya apapun apa kau masih tetap mencintaiku?" kata Dio mendekatkan wajahnya dan menatap Karin mendamba.


Karin mengangguk dengan jantung berdebar karena merasakan hembusan nafas Dio yang menerpa.


"Ehm....Kita sudah menikah" kata Dio sedikit mendorong tubuh Karin hingga kakinya menyentuh pinggiran ranjang.


"Lalu?" kata Karin pura-pura tak tau.


"Ayo melakukan apa yang suami istri lakukan" kata Dio menatap indah istrinya sebelum mencium bibir manis istrinya yang membuatnya candu.


Karin memejamkan matanya membalas ciuman lembut suaminya. Perlahan namun pasti, Dio merebahkan tubuh Karin dengan sangat hati-hati, Dio menatap wajah Karin yang sudah memerah dan menggemaskan. Wanita ini memang selalu saja menggoda, pikir Dio.


Tanpa membuang waktunya, Dio kembali mencium bibir Karin dengan panas dengan cepat. Ia tak memberi waktu Karin untuk sekedar menarik nafas, tangannya juga sudah menjalari tubuh Karin membuat seluruh tubuh Karin bergetar.


Karin mendongakkan wajahnya saat Dio menurunkan ciumannya di sepanjang leher dan daerah yang di sukai Dio membuat ia tanpa sadar men des ah cukup keras.


"Dio..." ucap Karin tak tahan mendapatkan serangan bertubi-tubi dari Dio.


Dio tersenyum tipis saat melihat wajah Karin yang sudah sangat siap menerima dirinya. Ia kemudian membalikan tubuhnya membuat Karin berada di atasnya. Karin terlihat kaget dengan hal itu.


"Hari ini bagian mu dulu Nyonya. Tanganku masih sakit"


Happy Reading.


Tbc.