
Bella tidak tau semalam ia tidur jam berapa. Yang jelas tidurnya terasa begitu nyenyak. Bella menggeliat saat ia merasa hawa dingin menyergap punggungnya. Dia mencoba mencari sesuatu untuk menghangatkan tubuhnya. Tangannya mencoba menggapai guling yang biasa di peluknya.
Begitu mendapatkannya, Bella langsung memeluk erat sumber kehangatan yang di carinya. Namun sepertinya ada yang aneh, karena guling yang dia peluk terasa begitu keras namun juga hangat. Bentuknya pun lumayan besar. Tapi kenapa terasa begitu nyaman, baunya pun begitu menenangkan.
Di alam bawah sadarnya Bella mencoba berfikir keras. Sejak kapan guling nya berubah menjadi keras seperti ini. Tapi tunggu dulu? Ini jelas bukan guling..tapi..
Bella membuka matanya seketika, dan dia kaget bukan kepalang saat mengetahui jika guling yang sejak tadi di peluknya adalah Axel! Oh my God! Bella hampir saja berteriak, namun dia urungkan saat menatap wajah Axel yang tampak damai saat tidur.
Tak ada wajah dingin yang selalu ditunjukkan. Bella mangakui jika Axel benar-benar pria yang sempurna.
"Kalau saja kau tidak melakukan hal itu padaku, mungkin aku akan mempertimbangkan tentang perasaanku" ucapnya lirih mencoba menyentuh alis Axel yang tebal. Bella merasa bagian wajah itu yang paling di sukai nya.
"Apa kau sudah puas memandang wajahku" Ucap Axel tiba-tiba seraya membuka matanya membuat Bella kaget.
"Kau! Kau sudah bangun" Bella tergagap karena tertangkap basah memandang pria itu.
"Menurutmu?" Axel malah sengaja membalikan pertanyaan, dia tersenyum menatap wajah Bella yang terlihat panik.
"Eum, ya baguslah! Aku tadi ingin membangunkan mu saja" kilah Bella memalingkan wajahnya yang mulai memerah karena rasa malu yang mendera.
"Benarkah? Bukankah kau memang ingin melihat wajahku"
"Tentu saja, kau ini percaya diri sekali" cetus Bella berpura pura kesal.
"Baiklah, Kalau kau tak mau mengakuinya. Tapi bisakah kau melepaskanku, aku ingin ke toilet" mata Axel melirik tangan dan kaki Bella yang sejak tadi melingkari tubuhnya.
Mendengar perkataan Axel, Bella langsung menggeser tubuhnya menjauh dari Axel. Wajahnya kini bahkan sudah memerah hingga menjalar ke telinga. Menyadari kalau sejak tadi dia memeluk tubuh Axel dengan posesif.
"Sialan! Kenapa aku bisa lupa kalau sejak tadi aku memeluknya! Sial! Sial! Sial" Bella tak henti mengumpat dalam hatinya karena merasa melakukan hal ceroboh. Sekarang Bella tak tau apa yang pria itu pikirkan. Yang jelas dia sekarang tak punya muka untuk di tunjukkan di depan pria itu.
Axel menahan tawanya melihat tingkah Bella yang menurutnya begitu lucu. Wanita itu pasti sedang malu tingkat dewa. Sebenarnya dia sudah bangun saat Bella memeluknya tadi. Tapi dia memilih berpura pura tidur untuk melihat bagaimana reaksi wanita itu. Axel pikir Bella akan marah atau memakinya, tapi ternyata tidak.
"Kau bilang ingin mempertimbangkan perasaanmu? Memangnya perasaan apa yang kau milikki untukku?"
Axel rasanya masih belum puas untuk menggoda Bella. Padahal selama ini dia tak pernah sekalipun melakukannya. Dia jelas tipe pria dingin dan sangat kaku. Tapi dengan Bella kenapa terasa berbeda? Ia bahkan tak canggung sama sekali. Apakah dia merasa nyaman?
Bella semakin membesarkan Matanya, ternyata pria itu mendengar ucapannya tadi. Double Sialan.
"Diem Lo! Seharusnya gue tuh marah ya karena Lo udah lancang tidur di kasur gue!"
"Tapi bukannya marah, kau malah asik memeluk..
"Gue bilang diem!" sentak Bella kesal, dia membuang rasa malunya, kini ia menatap sengit Axel yang kini duduk dengan gaya santai di ranjang miliknya.
"Kenapa sih? Pagi pagi udah marah aja, kalau mau peluk bilang aja, Aku dengan senang hati akan melakukannya" Axel mengedipkan sebelah matanya semakin menggoda Bella.
"Cih, Will Never" Bella memberikan gestur ingin muntahnya. Matanya melirik sinis pada Axel yang senyam senyum sejak tadi membuat Bella semakin jengkel.
*****
Betul kan? Setelah ia mandi, tubuhnya terasa segar. Oh Bella baru ingat kalau pagi ini ia tak muntah seperti biasanya. Apa dirinya sudah sembuh? Tapi kenapa begitu cepat? Padahal kemarin dia masih mengalami muntah di pagi hari. Bahkan tubuhnya kini tak merasa lemas seperti biasa?.
Baguslah, dia jadi tak terus menerus...
Tok Tok Tok
Bella mendengus mendengar pintu kamar mandi yang di ketuk. Siapa yang sudah berani menggangunya. Kalau bukan...
Dengan perasaan kesal Bella membuka pintu dengan gerakan kasar. Mulutnya sudah terbuka siap untuk mengomel pada pria yang menggangu aktivitasnya
"Argghhh!!!" Bella justru berteriak membuat Axel kaget.
"Ada apa?" tanyanya langsung, takut Bella merasakan sakit atau apa.
"Lo kenapa nggak pakai baju" sentak Bella kesal karena bisa bisanya Axel tak memakai baju di depannya. Kini mata sucinya sudah terdoai karena melihat tubuh polos pria itu.
Bella menutup matanya dengan kedua tangan, meskipun sesekali di melirik dari sela jari. Oh my God! Sekarang mata dan pikirannya pun sudah terkontaminasi dengan pemandangan Axel yang setengah telanjang, dengan bahu kekar, lengan berotot. Dan bagian paling penting yang membuat Bella hampir gila adalah perut sixpack yang begitu maskulin.
Axel mengulum senyumnya, Melihat orang tidak memakai baju kenapa harus begitu berlebihan menurutnya. Bella ini benar-benar polos atau hanya berpura pura.
"Memangnya kenapa? Bukankah kau suka?" kata Axel dengan senyum jahilnya.
"Oh well, dia bahkan menjadi orang yang begitu menggelikan. Tingkahnya bahkan mirip bocah SMA yang sedang menggoda teman wanitanya." runtuk Axel dalam hatinya.
****
Bella mengaduk-ngaduk sarapannya untuk melampiaskan rasa kesal yang mendera. Sejak kejadian memalukan di kamar tadi, Dia enggan sekali berbicara pada pria yang kini sedang asik menikmati sarapan yang baru saja dia siapkan. Tanda kutip karena terpaksa.
"Loh, Bella kok makan sendiri, suaminya di layani dulu baru kamu makan" itu ucapan Mamanya ketika dia baru saja mengambil nasi dalam piring.
Oh baiklah, dia tak banyak protes dan melayani suami menyebalkannya dengan hati dongkol setengah mati. Apalagi pria itu jelas sedang menahan tawa karena terlihat dari sudut bibirnya yang berkedut.
"Nah gitu dong, kamu harus membiaskan diri mulai sekarang" Bella memutar bola malas mendengar ucapan Mamanya.
Bahkan Mamanya asik menawarkan semua jenis menu lauk yang tersedia untuk Axel. Hal itu tentu membuat Bella merasa di acuhkan. Benar benar pagi yang menyebalkan.
****
Happy Reading
TBC