MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Catatan Cinta Di Kertas Merah Muda.



"Baiklah. Kami mau pamit dulu sekarang, ada hal penting yang harus kami lakukan" kata Karin melirik Dio yang menunjukkan wajah tak nyamannya. Pria itu tampak menggaruk alisnya dan tak bisa diam.


"Oh, Ya silahkan" kata Yuda masih dengan senyumnya tapi Dio hanya menatap pria itu dengan serius.


"Ayo" kata Dio menarik lembut tangan Karin dan menggenggamnya erat. Ia memberikan tatapan mata yang seolah mengatakan jangan macam-macam pada Yuda, tapi pria itu balas tersenyum manis.


"Karin!" panggil Yuda lagi saat Karin dan Dio sudah berjalan menjauh.


"Ya?" Merasa terpanggil, Karin pun menoleh melihat Yuda yang tampak mendatangi mereka. Dio mengerutkan dahinya melihat tingkah Yuda ini.


Yuda lalu membuka dompetnya dan mengulurkan sebuah kertas kecil berwarna merah muda pada Karin.


"Ingat saat kita berpisah, Aku sudah memenuhinya. Aku masih menyimpannya dan aku rasa ini saatnya aku mengembalikannya padamu. Delapan tahun, semoga kau masih mengingatnya" kata Yuda masih menatap Karin sendu membuat Dio mengepalkan tangannya. Ia tak suka dengan pria ini masih menunjukkan perasaannya pada wanita yang jelas kini sudah menjadi istrinya.


"Eh?" Karin masih kaget dan hanya diam melihat Yuda yang berjalan menjauh. Karin lalu melihat kertas itu.


"Sebuah Catatan Cinta Di Kertas Merah Muda"


Karin membalikkan kertas itu dan kaget saat melihat sebuah tanda tangan, Karin tak menyangka kalau Yuda memenuhinya. Tanpa sadar bibirnya mengulas senyum tipis.


"Kita pulang sekarang" kata Dio mulai emosi saat melihat Karin yang tersenyum saat melihat kertas itu.


"Eh, Baiklah" kata Karin baru ingat jika suaminya sejak tadi berada disampingnya.


Wajah Dio masih sangat gusar dan sangat kesal, tapi ia tak bisa melampiaskan kekesalannya pada Karin. Ia hanya diam saja selama perjalanan pulang dari mall. Dia bahkan tanpa sadar mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Dio! Pelan-pelan bawa mobilnya" kata Karin cukup ketakutan melihat Dio yang kebut-kebutan di jalan.


"Maaf" kata Dio mengurai kecepatan mobilnya.


"Kau marah padaku?" tanya Karin melirik Dio yang sejak tadi memasang wajah dingin.


"Tidak" kata Dio singkat.


"Kau pasti marah kan?" kata Karin kini sedikit memutar tubuhnya hingga menghadap ke arah Dio.


"Aku tidak marah, Aku hanya tidak suka dengan sikap pria tadi" kata Dio mencoba mengontrol dirinya.


"Kau cemburu?" kata Karin menahan senyumnya.


"Menurutmu?" Dio melirik Karin malas.


"Jangan cemburu, Aku sama kak Yuda itu tidak ada hubungan apapun" kata Karin.


"Kalau kau tidak punya hubungan apapun dengannya, kenapa dia memberikanmu itu" kata Dio melirik kertas yang di bawa Karin.


"Oh, Ini hanya sebuah kertas dari sebuah novel yang pernah aku baca dulu. Penulisnya menyelipkan kertas ini sebagai pembatas halaman, saat itu Yuda ingin kuliah keluar negeri dan mengatakan ingin menungguku, lalu aku menyuruhnya untuk meminta tanda tangan penulisnya, aku tidak menyangka dia memenuhi dan mengingatnya" kata Karin seadanya.


"Kau juga pernah menyukainya?" kata Dio semakin kesal.


Karin tertawa kecil mendengarnya. Ia kemudian mengambil tangan Dio dan meletakan di pipinya. "Hanya pernah, Untuk sekarang hanya kau satu-satunya pria yang aku cintai Tuan Ardio Abimanyu" kata Karin lembut mendayu membuat kekesalan Dio menguap begitu saja.


"Kau ini, kenapa menggemaskan sekali" kata Dio mencubit pelan pipi Karin.


"Ya, Biar kau tidak cemburu lagi, Aku sudah menjadi istrimu dan aku sudah terikat seumur hidup padamu kan?" kata Karin lagi membuat Dio semakin gemas dan langsung mencium bibir Karin singkat membuat Karin kaget.


"Apa yang kau lakukan! Kita bisa jatuh nanti" kata Karin kaget karena mereka masih perjalanan naik mobil tapi Dio bertingkah sembrono.


Sesampainya Di Apartemen, Dio sedikit tak sabar menarik tangan Karin agar segera sampai ke kamar.


"Dio! Pelan-pelan ih" kata Karin sedikit kuwalahan mengikuti Dio yang berjalan cepat.


"Sorry, tapi kayaknya aku udah nggak bisa nunggu sayang...." kata Dio tanpa peringatan langsung meraih tubuh mungil Karin dalam gendongannya.


"Dio!" pekik Karin kaget langsung mengalungkan tangannya di leher pria itu.


"It's all right sweetie" bisik Dio mencium bibir Karin singkat sebelum melangkahkan kakinya menuju unit apartemen miliknya.


Wajah Karin memerah dan menenggelamkannya si dada Dio.


"Inget nggak waktu kamu dulu nolak aku, sempet kepikiran buat culik kamu terus aku ancam biar bisa nerima aku" kata Dio tersenyum saat melihat wajah Karin yang ingin tau.


"Kenapa cuma kepikiran aja? Nggak kamu lakuin langsung?" kata Karin membuat Dio mendadak berpikir.


"Iya, ya. Pasti kamu bakalan langsung mau nerima aku dan nggak pakai acara kabur-kaburan ke luar negeri" kata Dio dengan wajahnya yang serius.


"Iya tapi kamu pasti bakalan babak belur di pukuli Papa aku karena udah menculik anaknya" kata Karin mencibir.


"Alah gampang, cuma babak belur doang, Lagian ya, Aku rela terluka bahkan mati ribuan kali asal bisa mendapatkan mu" kata Dio menyentuhkan hidungnya di hidung Karin.


"Jangan bilang gitu, Aku nggak mau kamu terluka lagi gara-gara aku" kata Karin menatap Dio dengan sendu.


"Tenang saja, selama kau mencintaiku, aku akan selalu baik-baik saja, sekarang buka pintunya sayang.." bisik Dio dengan mesra.


Karin tersenyum malu, lalu memasukan kode apartemen dengan tubuh yang masih berada di gendongan Dio. Saat Pintu terbuka, Dio langsung masuk dan segera menutup pintu dengan kakinya.


"Udah sampai, turunin aku" kata Karin meronta dalam gendongan Dio.


Dio tak membantah, ia segera menurunkan Karin saat tiba di ruang tengah Apartemen. Tatapan matanya sudah terlihat sangat ber nafsu pada Karin yang mulai gugup.


"Aku mandi dulu ya, Gerah banget seharian di luar" kata Karin mencoba menghindar.


"Kita bisa mandi nanti, setelah ini" kata Dio menarik tangan Karin lalu dengan cepat mencium bibir manis istrinya.


Karin tak kaget, ia pun ikut membalas ciuman panas suaminya. Tangan Dio dengan cepat bergerilya mencari resleting gaun yang di pakai istrinya dan segera melepaskannya begitu ia mendapatkannya.


Dalam hitungan detik, Dio sudah berhasil melepaskan semua kain yang membalut tubuh istrinya. Dio terus memberi sentuhan pada Karin yang mulai terpancing dan ikut membuka kancing kemeja suaminya, ia bahkan dengan tak sabar mengeluarkan kemeja itu dari celana suaminya.


"Ah...Dio...Eum..." Karin men de sah saat Dio menurunkan ciumannya pada leher jenjangnya dan memberi pijatan lembut pada dadanya.


Dio berlama-lama mencium dua benda kesukaannya itu sebelum menurunkan kembali ciumannya ke pusar Karin dan terus kebawah hingga berjongkok di depan istrinya.


"Dio....Apa...yang kau lakukan" pekik Karin kaget saat Dio menarik kakinya dan meletakkannya dibahunya.


"Aku pengen cium ini lagi, kayaknya ini bakalan jadi bagian favorit aku" Dio menarik paha Karin mendekat.


Sedetik kemudian, Karin sudah memegangi kepala suaminya seiring pekikan yang lolos dari mulutnya saat Dio memberikan kecupan-kecupan yang membuat Karin menggila.


Happy Reading.


Tbc.