MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Penghormatan Terakhir.



Karin terperanjat saat melihat kepala Dio terlempar kesamping sampai tiga kali.


PLAK


Kini menjadi empat kali membuat jari jemari Karin menjalin satu sama lain. Mencoba mencari kekuatan demi melihat adegan kekerasan yang sejak tadi terjadi di depan matanya. Ia kini menatap Dio yang tak terpengaruh oleh hal itu. Ia hanya meliriknya khawatir sebelum suara Papa Abimanyu terdengar.


"Berani kurang ajar kamu! Sekolah tinggi-tinggi tidak ada sopan nya di depan orang tua" kata Abimanyu membentak kasar.


"Semua ini salah Papa! Karena perbuatan Papa, aku dan Mama yang terkena imbasnya! Aku dan Mama yang selalu di permalukan! Sekarang Papa harus tanggung jawab" kata Dio masih mengeram marah.


"Apakah lebih baik Papa mati agar kalian berdua puas?" kata Abimanyu hanya mendapatkan lirikan sinis dari Dio.


"Bahkan Papa matipun tak akan mengubah segalanya! Aku tetap akan menjadi anak hasil perselingkuhan dimata orang lain!" kata Dio sinis, ia kemudian menarik tangan Karin agar untuk pergi darisana.


"Mau kemana kamu?" kata Abimanyu.


"Kemana lagi? Aku akan pulang bersama istriku, Aku harap, Papa bisa mendidik anak Papa agar tak mengganggu keluargaku! Kalau sampai sekali lagi anak itu mendekati keluargaku, aku pastikan Papa akan melihat dia mati" kata Dio memberi tatapan sengit pada Elvan sebelum pergi.


Karin masih bisa mendengar Papa Abimanyu yang memanggil mereka, tapi Dio bergeming. Ia terus saja berjalan tanpa menoleh ke belakang lagi. Hari terakhir di Kalimantan itu adalah menjadi kali terakhir pula Dio dan Karin datang kesana.


Tapi Karin sama sekali tidak menyangka kalau itu juga kali terakhir ia melihat Papa Abimanyu, karena empat bulan setelah kejadian itu, Dio terlihat pulang terburu-buru dari kantor lalu meraihnya dalam rengkuhan. Karin bingung kenapa Dio melakukan itu.


"Papa...." ucap Dio lirih dan serak. Pria itu menenggelamkan wajahnya di ceruk lehernya dalam-dalam.


Seketika tubuh Karin menggigil mendengar ucapan suaminya. Perlahan matanya basah karena air matanya mengingat bagaimana terakhir kali wajah suram Papa Abimanyu ketika mereka kembali ke Jakarta.


"Kamu kuat....Kamu pasti bisa..." bisiknya seraya memeluk tubuh rapuh Dio yang sejak tadi menangis tertahan.


Karin tau apa yang dirasakan Dio, Suaminya itu pasti merasa bersalah karena pertemuan mereka terakhir kali, Dio bersikap cukup keterlaluan kepada Papa Abimanyu.


"Ini semua salah aku...Kenapa Papa pergi sebelum aku minta maaf...aku salah..." Dio terus menangis di pelukan Karin. Kabar yang baru saja di dapat hari ini membuat seluruh tubuhnya sakit sekali.


Dio menyesal karena beberapa minggu terakhir, Asisten Papanya sudah mengabari kalau beliau sakit, tapi ia sama sekali tak memperdulikannya. Sekarang pria yang sejatinya menjadi panutan dan sosok paling berharga dalam hatinya kini sudah tiada. Dio benar-benar menyesal.


"Abang nggak salah. Semua ini sudah takdir. Sekarang Abang harus kuat, Aku tau Abang sayang sama Papa dan ini saatnya Abang memberikan penghormatan terakhir kepada Papa" kata Karin menangkup pipi Dio dan memberikan ciuman singkat di kedua mata Dio yang terus basah.


Dio tak menjawab tapi ia mengangguk dan mengusap air matanya sebelum menghubungi Angga untuk menyiapkan penerbangan mereka ke Kalimantan.


Pukul empat sore pesawat mereka mendarat di Kalimantan dan langsung menuju rumah duka. Disana sudah ramai sekali pelayat yang berdatangan. Karin hanya diam mematung, saat melihat bagaimana hancurnya Dio hari itu. Selain itu juga Mama Sofi yang juga menangis meraung di samping jenazah Papa Abimanyu.


Pukul enam sore barulah Papa Abimanyu diantarkan ke peristirahatan terakhirnya. Selama prosesi pemakaman itu, Dio tak pernah sekalipun jauh dari Papanya, Bahkan ia juga ikut turun ke liang lahat dan juga memandikan Papa Abimanyu. Karin tak akan pernah lupa bagaimana wajah Dio yang diselimuti mendung hitam hari itu.


Malam setelah kematian Papa Abimanyu waktu itu, mereka menginap di hotel. Ucapan Dio itu membuat Karin mengerutkan dahinya.


"Hal lain apa?" tanyanya ingin tau.


"Kamu pasti tau, tapi kamu nggak usah khawatir. Aku pasti akan menyelesaikan ini semua" kata Dio mencoba tersenyum meskipun terlihat lelah.


"Kehidupan Abang benar-benar membingungkan, aku nggak ngerti" kata Karin menghela nafas saat tau apa yang akan di hadapi Dio saat ini.


Karin benar-benar tak mengerti kenapa keluarga Dio bisa seperti ini, kenapa antara saudara selalu ada pertengkaran merebutkan kekuasaan. Bahkan Papa Abimanyu dan Papanya Nathan juga mengalami hal yang sama. Kenapa mereka bisa seperti ini?


Dio meraih dagunya agar menatapnya. "Kamu nggak harus ngerti. Cukup untuk terus disampingku apapun yang terjadi nanti" kata Dio menyentuhnya perlahan kemudian melepaskannya.


*****


Satu bulan setelah kematian Papa Abimanyu, Dio menjadi super sibuk, ia sering bolak-balik ke Kalimantan untuk mengurus sesuatu yang entah apa karena Dio tak pernah bercerita pada Karin. Ia juga sering menghabiskan waktunya di Kantor dan pulang dengan raut wajah lelah.


"Urusan Abang sudah selesai?" tanya Karin seperti biasa langsung menyambut suaminya ketika pulang dari kantor.


Namun Dio tak menjawab, ia berlalu pergi begitu saja ke kamar mandi. Karin mengerutkan dahinya melihat tingkah Dio itu, ia tak ingin menambah masalah suaminya dengan pertanyaannya itu, Karin berpikir mungkin Dio masih butuh waktu untuk bercerita.


Tapi sepertinya apa yang diharapkan Karin tak pernah terjadi karena semakin hari, Dio semakin berubah. Ia kini sering menjadi lebih pemarah dan abai membuat Karin hampir tak mengenali suaminya itu. Puncaknya adalah ketika ia tak sengaja membaca beberapa kertas yang berserakan di meja kerja Dio membuat Karin kaget.


Karin membaca kertas itu yang berisi kalau Elvan telah resmi melaporkan Dio atas tuduhan memalsukan surat wasiat dan penipuan serta menggelapkan harta mendiang Papa Abimanyu. Selain itu juga, Dio juga di gugat oleh beberapa orang yang menganggap lahan kepala sawit yang di wariskan kepada Dio adalah milik warga sana dan Papa Abimanyu di tuduh mengambilnya secara paksa dulu.


Apa-apaan ini? Bagaimana bisa Dio tidak bercerita saat sedang tekena masalah sebesar ini?


"Karin?" Dio terlihat kaget saat melihat Karin berada di ruang kerjanya.


"Kamu ngapain disini?" ucapnya lagi.


"Abang kenapa nutupin semua ini dari aku? Kalau ada masalah itu cerita, jangan di pendem sendiri, Sebenarnya Abang itu anggap aku apa sih" kata Karin kesal karena Dio tak pernah bercerita padanya.


"Tidak terjadi apapun, kamu nggak perlu khawatir" kata Dio memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut.


"Nggak khawatir gimana? Suami aku dilaporkan ke polisi, Gimana bisa aku nggak khawatir"


Happy Reading.


Tbc.