
Mendengar suara lembut Bella, Rafael langsung memusatkan tatapannya pada sosok Bella. Ia menatap Bella dari atas sampai bawah seperti men-scanning tubuh Bella. Dan ia langsung menemukan satu kata untuk wanita didepannya ini.
"Sempurna"
"Woho...Siapa wanita cantik ini Tuan Axel? Anda belum mengenalkannya kepadaku?" ujar Rafael melempar senyum khas dirinya yang menggoda.
"Aku kesini bukan untuk berbasa-basi. Sebenarnya ini sungguh mengganggu waktu liburku. Jadi, Sebaiknya kita cepat selesaikan pekerjaan ini" kata Axel terlihat gusar. Suaranya pun terdengar begitu dingin.
"Kita sama-sama membutuhkan pekerjaan ini. Jangan seolah-olah hanya aku yang membutuhkanmu" sahut Rafael mulai sebal dengan sikap Axel yang arogan.
"Duduklah" perintah Rafael.
"Sayang, Pesanlah makanan atau minuman, Aku akan menyelesaikan pekerjaan sebentar" kata Axel pada Bella.
"Apakah aku boleh duduk disitu By?" tanya Bella melirik sofa yang berada diluar untuk melihat pemandangan laut.
Private Room yang dipilih Rafael memang menyuguhkan pemandangan laut. Diluar ruangan ada tempat kecil yang berisi seperangkat sofa untuk bersantai di kolam renang.
"Ya, Silahkan Nona. Biar Sekretaris ku menemani mu" Rafael langsung menyahut tanpa diminta saat mendengarkan keinginan Bella.
"Fely, Tolong temani Nona cantik ini diluar" perintah Rafael pada wanita yang tadi berciuman panas dengannya.
"Mari Nona" ajak Fely.
Axel melirik Rafael dengan tajam, Ia tak suka Pria itu terlalu ikut campur. Tapi Rafael terlihat santai saja membuat Axel kesal. Bella masih menatap Axel meminta persetujuan.
"Ikutlah bersamanya. Aku hanya sebentar" kata Axel pada Istrinya.
"Apa aku boleh membeli ice cream?" bisik Bella penuh harap.
"Terserah kau saja" sahut Axel membuat Bella kegirangan. Axel lalu duduk untuk segera mulai pekerjaan.
"Jadi Tuan Axel, Ternyata sudah ada perpindahan kekuasaan sekarang di perusahaan Om Indra" Kata Rafael membuka percakapan.
"Axel saja. Aku rasa umur kita tak terpaut jauh" kata Axel.
"Baiklah. Kalau begitu kau juga bisa memanggilku Rafael saja" kata Rafael mengangguk.
"Aku sudah mempelajari tentang perusahaan mu. Dan memang benar kata Ayah ku kalau perusahaan mu memiliki perkembangan yang pesat beberapa bulan terakhir. Aku rasa, sepertinya memang cocok untuk membuka peluang baru dengan kerja sama ini" kata Rafael.
"Ya, Kau mungkin bisa mulai observasi dulu ke perusahaan ku" Kata Axel.
"Itu hal gampang Axel. Sebenarnya aku bisa saja langsung berinvestasi ke perusahaan mu meskipun tanpa observasi" kata Rafael dengan senyuman misterius.
"Apa maksudmu?" tanya Axel tak mengerti.
"Aku punya penawaran menarik untukmu" kata Rafael mencondongkan tubuhnya ke arah Axel.
"Penawaran apa maksudmu?" Axel menyipitkan matanya.
"Aku akan menginvestasikan 2 triliun ke perusahaan mu" kata Rafael tenang saja namun membuat Axel kaget.
"Apa kau serius? Aku tidak menerima perkataan yang hanya angin segar saja" kata Axel tentu ragu dengan ucapan Rafael. Karena uang 2 triliun itu seperti harga hampir setengah saham di perusahaannya.
"Aku selalu serius dengan perkataan ku. Kau saja yang mengganggap remeh diriku" kata Rafael menarik sudut bibirnya menjadi senyum sedikit sinis.
"Ya permintaanmu sudah aku terima. Jadi, Bagaimana menurutmu?" kata Rafael.
"Kenapa kau ingin menginvestasikan uang begitu banyak di perusahaan ku? Sebenarnya apa tujuanmu?" Axel tentu tak bisa percaya begitu saja hanya karena uang yang besar.
"Tidak ada. Aku hanya menawarkan kerja sama yang menguntungkan untuk kita berdua" kata Rafael mengangkat bahunya.
"Kau yakin dengan tawaranmu?"
"Tentu saja, Tapi... " Rafael menggantungkan ucapannya dan melirik Bella yang sejak tadi sudah mengganggu pikirannya. Apalagi kini wanita itu sedang menikmati es krim dengan ditemani semilir angin laut yang menerbangkan rambutnya. Membuat Rafael semakin terpesona.
Axel mengikuti pandangan Rafael, dan ia langsung mengeraskan rahangnya saat menyadari apa yang di inginkan Rafael adalah istrinya.
"Aku akan menginvestasikan 2triliun ke perusahaan mu. Tapi aku ingin kau menyerahkan wanita mu itu kepadaku. Bagaimana? Bukankah itu penawaran yang menarik Axel" kata Rafael.
"Apa maksudmu berbicara seperti itu. Kau jangan macam-macam" kata Axel menatap Rafael begitu emosi.
"Aku tidak macam-macam. Aku hanya ingin kau memberikan wanita mu itu padaku, Apa susahnya? Ayolah, Axel. Bukankah hal itu sudah biasa untuk orang seperti kita. Apalagi Aku tau betul siapa dirimu, Kau bisa mudah mendapatkan wanita lain yang lebih dari dia" kata Rafael sedikit banyak tau bagaimana sepak terjang Axel di dunia bisnis.
"Jaga bicaramu Rafael! Aku memang bukan lelaki baik, Tapi aku tidak akan menukar wanita hanya karena uang" kata Axel masih menahan dirinya untuk tidak membunuh Rafael karena sudah lancang menatap istrinya seperti itu.
"Oh Ayolah Axel. Kita tidak munafik sebagai laki-laki. Percayalah Axel, Kau tidak akan pernah menemukan rekan bisnis yang lebih menguntungkan dari pada aku" kata Rafael masih tak menyerah.
"Maaf Tuan Rafael. Aku menolak tawaran anda. Karena perusahan ku menawarkan kerja sama bukan pertukaran orang. Aku rasa sudah tak ada lagi yang perlu kita bahas. Aku permisi" kata Axel ingin beranjak dari duduknya.
"Aku sungguh heran denganmu Axel. Ini adalah tawaran yang mudah. Lalu kenapa kau menolaknya? Apakah servis yang diberikannya begitu memuaskan sampai kau tak rela melepaskannya" kata Rafael tersenyum mengejek.
Brak!!!
"Jaga bicaramu!" Axel menggebrak meja dengan keras lalu berdiri mencengkeram erat kerah kemeja Rafael dengan erat.
"Aku dari tadi sudah diam karena aku masih menghormatimu! Tapi kau ternyata semakin kurang ajar!" Kata Axel berbicara begitu keras. Persetan dengan semuanya, pikirnya.
"Axel!" Bella yang sedang diluar melihat apa yang dilakukan Suaminya begitu kaget dan langsung menghampirinya.
"Hei, Kenapa kau begitu marah seperti ini?" kata Rafael mencoba melepaskan tangan Axel tapi pria itu malah mencengkeramnya semakin erat.
"Asal kau tau Rafael! Sampai matipun aku tak akan menukarkan istriku sendiri dengan uang!!" Bentak Axel membuat Rafael begitu kaget.
"Istrimu?" ucap Rafael membesarkan matanya.
"Ya, Bella adalah istriku! Sekali lagi kau menyebutnya seperti itu, Aku tak akan segan merobek mulutmu! Camkan itu baik-baik!!" kata Axel lalu mendorong tubuh Rafael dengan kasar dan menghampiri Bella yang berdiri mematung.
"Ayo, Kita pulang" Axel lalu menarik tangan Bella untuk segera meninggalkan ruangan yang membuatnya begitu muak.
"Baby, Apa kau baik-baik saja?" Tanya Fely menyentuh tangan Rafael namun segera di tepisnya.
Ia masih tak menyangka kalau wanita yang menarik perhatiannya itu adalah istri Axel. Tapi mengetahui hal itu bukannya membuat Rafael mundur, ia malah semakin penasaran dengan Bella.
"Hmm...Sepertinya bermain-main dengan Axel akan sangat menarik" bisik Rafael menyeringai tipis.
Happy Reading.
Tbc.