
Dio tersenyum tipis saat melihat wajah Karin yang sudah memerah, ia ingin mencium istrinya tapi di urungkan karena melihat siapa yang berdiri di depan pintu unit Apartemennya. Karin pun ikut mengerutkan dahinya saat melihat Papa mertuanya yang datang tidak sendiri.
"Akhirnya kau datang juga, apa kau sengaja membiarkan kami menunggu lama" ucap seorang pria muda yang kini menatap Dio dengan sengit.
Karin semakin mengerutkan dahinya mendengar ucapan pria itu. Karin kemudian mengalihkan pandangannya pada sosok lainnya, yaitu satu wanita paruhbaya dan muda. Karin menebak siapa mereka?
"Elvan, jaga sikapmu!" kata Abimanyu menatap putra sulungnya dengan tajam.
Pria yang disebut Elvan itu hanya cuek saja, ia malah masih terus melirik sinis pada Dio yang kini mengeraskan wajahnya.
"Untuk apa Papa bawa mereka kesini?" kata Dio menatap tak suka pada keluarga pertama Papanya itu.
Dio sedikit tak menyangka kalau Papanya akan membawa istri beserta anak pertamanya kesini. Sebenarnya apa yang Papanya pikirkan.
"Kau memang tidak punya sopan santun ya, apa Ibumu tidak mengajarimu caranya menerima tamu dengan benar" kata Rossi istri pertama Abimanyu.
Dio mengepalkan tangannya erat, ia ingin menjawab tapi Karin menyentuh lengannya.
"Oh, Maafkan suamiku, mungkin dia masih terlalu kaget. Papa, Ayo masuk" kata Karin mencoba menengahi aksi tegang itu meskipun sebenarnya ia cukup bingung dengan situasi ini.
Karin mengulas senyum tipis dan segera membuka pintu Apartemen. Ia terus menggenggam tangan suaminya yang sepertinya masih di kuasai emosi itu.
"Apa disini tidak ada minuman?" ujar wanita muda yang kini sudah duduk disamping Elvan itu.
"Akan ku buatkan dulu" kata Karin ingin bangkit tapi Dio mencegahnya.
"Tetaplah disini, kau istriku, bukan tukang pembuat minuman" kata Dio menatap dingin pada wanita itu.
"Tidak apa Dio, aku..." Karin mengentikan ucapannya saat melihat tatapan mata suaminya.
"Duduklah" kata Dio menarik lembut tangan istrinya agar duduk disampingnya.
"Karin, maaf kalau kedatangan kami mengganggu waktu kalian. Tapi Papa hanya ingin mengunjungi kalian sekaligus memperkenalkan keluarga Dio. Sekarang kau istrinya, Papa rasa kau memang harus tau segalanya" kata Abimanyu terdengar sangat berat.
Karin semakin bingung, ia menatap suaminya yang terlihat memasang wajah dingin.
"Nggak apa-apa Pa, nggak ganggu kok" kata Karin tersenyum tipis.
"Baiklah, Dio mungkin belum cerita mengenai hal ini padamu..
"Bisakah Papa hentikan omong kosong tidak penting ini?" kata Dio langsung menyela begitu saja. Entah kenapa ia tiba-tiba merasa takut jika Karin mengetahui tentang keluarganya.
"Kau ingin menyembunyikan hal ini dari istrimu? Capat ataupun lambat semuanya dia pasti akan tau. Jadi, daripada istrimu tau dari mulut orang lain, Papa yang akan lebih dulu mengatakannya" kata Abimanyu dengan suara tegasnya.
"Karin, perkenalkan. Wanita yang sedang di samping Papa ini adalah Mamanya Dio juga, sedangkan ini, adalah Elvan kakaknya Dio dan Renata, istrinya" kata Abimanyu membuat Karin kaget.
Ia sama sekali tidak menyangka kalau ternyata Papa Dio memiliki keluarga yang lain. Karin lalu menatap Dio sedang terlihat sangat gusar sekali. Karin malah bingung ingin menanggapinya bagaimana.
"Udah kan? Papa udah ngasih tau Karin, sekarang apalagi yang Papa inginkan?" kata Dio cukup kesal karena tingkah Papanya ini. Entah apa yang di pikirkan istrinya saat ini setelah mengetahui fakta tentang keluarga.
"Banyak hal yang akan kita bahas, Papa juga sudah menyuruh asisten Papa kesini. Papa ingin memperjelas semuanya" kata Abimanyu kini lebih serius dari sebelumnya.
"Jangan sekarang, waktunya nggak tepat. Istri aku capek karena seharian di luar" kata Dio menggeleng tak setuju karena sepertinya tau apa yang akan di bahas Papanya.
******
Karin baru saja membersihkan dirinya setelah cukup malam. Badannya terasa sangat lengket dan telinganya sudah cukup panas mendengar orang-orang yang sejak tadi meributkan materi tanpa ada ujung pangkalnya. Itulah alasan kenapa Karin berpamitan untuk ke kamar lebih dulu karena sudah tak tahan mendengar orang berbicara dengan nada tinggi.
"Sayang...." Dio terlihat berjalan memasuki kamar membuat Karin menoleh.
"Udah selesai?" tanya Karin berjalan mendatangi suaminya.
"Belum..." kata Dio dengan wajah lesu. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Karin karena sebenarnya ia cukup lelah dengan hal yang terjadi hari ini.
"Maaf ya, kamu jadi harus lihat kerusuhan keluarga aku" kata Dio membuat Karin mengangkat wajah pria itu.
"Kenapa minta maaf? aku nggak apa-apa Dio" kata Karin berusaha mengerti posisi suaminya.
"Sebenarnya aku nggak menginginkan apapun dari Papa. Tapi, Papa bilang nggak ada orang lain lagi. Aku terpaksa setuju. Toh, bukan kita yang menginginkan ini kan? Aku nggak mau kita terkena masalah gara-gara warisan. Jadi, kamu mau kan nemenin aku melalui semua ini?" kata Dio dengan suara rendahnya.
Karin menatap suaminya dengan lembut, perlahan ia mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi suaminya yang halus seperti kulit bayi sebelum mengangguk pelan.
"Makasih" bisik Dio menatap istrinya penuh cinta. "Sekarang Papa manggil kamu" kata Dio lagi.
"Untuk apa?" kata Karin tak mengerti.
"Papa ingin kasih kamu beberapa propertinya yang ada di Jakarta. Kalau kamu nggak setuju atau nggak nyaman, kamu bisa nolak, itu semua hak kamu"
Karin sedikit bingung tapi ia tak menolak saat suaminya mengajaknya kembali ke ruang tamu yang ternyata masih terjadi perdebatan antara Papa dan Mama Dio. Bahkan Renata, istrinya Elvan pun tak mau kalah.
"Karin, sini" kata Abimanyu saat melihat kedatangan mereka.
Semua orang pun ikut menatap kearah mereka membuat Karin gugup karena tiga pasang mata sedang menatapnya tajam. Tanpa sadar Karin meremas tangan Dio membuat pria itu menatapnya.
"Aku bersamamu" bisik Dio pelan lalu mengajak istrinya duduk di hadapan Papanya.
"Papa mau buat pembagian waris. Sebagai ucapan terima kasih Papa untuk kamu yang sudah memberi kehidupan yang lebih baik pada Dio. Papa ingin minta dua hal sama kamu?" kata Abimanyu menatap menantunya sedikit tajam membuat Karin menelan ludahnya.
"Apa itu Pa?" kata Karin.
"Jangan menolak dan tolong jaga Dio tetap menjadi orang yang benar, kau bisa?" kata Abimanyu kini terdengar menyimpan penuh harap pada Karin.
Karin masih belum paham dengan situasi ini, dia pun tak mampu menjawab atau bahkan sekedar mengangguk pun tak bisa.
"Karin!?" suara Abimanyu membuat Karin tersadar dan menghela nafas sejenak.
"Baik Pa" ucapnya langsung membuat Abimanyu lega.
"Baiklah, Dio, siapkan semua data tentang istrimu, kita selesaikan malam ini juga" kata Abimanyu tegas.
Dio tak membantah, pria itu hanya diam saja membuat Karin pun diam dan mendengarkan penjelasan-penjelasan dari notaris tentang semuanya. Sampai akhirnya Karin sadar kalau sejak tadi Elvan terus menatapnya dengan tatapan yang membuat Karin tak nyaman.
Happy Reading.
Tbc.