
Setelah pulang dari rumah Bella, Dio masih terus menerus menggenggam tangan Karin. Sesekali ia mencium tangan Karin dengan lembut dan melemparkan pandangan penuh cinta pada istrinya.
"Setelah ini ingin kemana?" tanya Dio melirik Karin yang sejak tadi diam.
"Terserah" kata Karin mengangkat bahunya. Ia juga tak punya ide untuk pergi kemana.
"Eh, Kita ke mall saja deh, Aku mau beli beberapa barang" kata Karin lagi ingat kalau ia ingin mendekorasi Apartemen Dio dan mengisi kulkas yang kosong.
"Siap Nyonya" kata Dio membuat Karin sedikit mencibir.
Sesampainya di mall, Karin segera mencari apa yang diinginkannya. Dio dengan setia mengikuti di belakangnya, pria itu bahkan tak risih saat menemani Karin berbelanja sayuran dan buah-buahan. Padahal banyak ibu-ibu dan wanita yang menatap Dio aneh juga ada yang kagum karena Dio mau menemani belanja.
Beruntung sekali wanita itu pikir mereka.
"Dio, kau suka masakan apa?" tanya Karin ingin belajar memasak.
"Apa saja aku suka jika kau yang memasak" bisik Dio tiba-tiba merengkuh tubuh Karin dari belakang.
"Ish, Aku serius" kata Karin melirik malas Dio yang menggombal sekali menurutnya.
"Aku juga serius, Pokoknya makanan apapun jika kau yang membuatnya aku suka" kata Dio mencium pundak Karin membuat wanita itu kaget.
"Dio, ini di mall, bagaimana kalau ada yang lihat" kata Karin kaget dengan tingkah Dio, ia melirik kesana kemari untuk melihat apakah ada orang atau tidak, tapi untungnya lorong itu cukup sepi.
"Biarkan saja, Aku hanya ingin mencium istriku" kata Dio dengan santai lalu menyempatkan mencium pipi Karin.
"Dio!" seru Karin memeringatkan dengan wajah bersemu merah.
Dio hanya tersenyum tipis lalu meraih pundak Karin dengan satu tangan mendorong troli. "Masih ada lagi nggak yang mau di beli?" tanya Dio melihat troli yang di bawa sudah penuh.
"Kayaknya nggak ada deh" kata Karin mengingat-ingat barang apa yang belum di belinya.
"Baiklah, kita bayar dulu terus makan. Istriku dari tadi belum makan apapun kan?" kata Dio dengan senyum manisnya membuat Karin menatap pria itu.
Selain bagian mata yang indah, Karin paling menyukai senyuman Dio yang menurut Karin sangat indah.
Setelah membayar semuanya, Dio langsung mengajak Karin makan. Tapi Dio baru sadar kalau sejak tadi banyak pria yang menatap Karin tanpa sembunyi-sembunyi. Ada juga yang menatapnya liar karena siang itu Karin menggunakan dress yang memperlihatkan pundaknya yang putih.
Melihat hal itu tentu Dio kesal, ia tak rela jika tubuh istrinya menjadi santapan para pria itu.
"Tunggu dulu" kata Dio menarik tangan Karin yang sudah ingin masuk kedalam restoran.
"Ada apa?" tanya Karin mengerutkan dahinya.
"Pakai jas ku, Aku tidak suka tubuhmu di lihat pria lain" kata Dio dengan wajah kesal. Ia segera membuka jas miliknya dan memakaikan pada Karin.
Karin tersenyum manis melihat sikap Dio yang sangat manis menurutnya. "Jangan kesal, wajahmu jelek kalau begitu" kata Karin memegang dagu Dio yang runcing.
"Biarkan saja, Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan baju seperti ini lain kali" kata Dio menatap pria-pria yang kini masih terus mengamati Karin membuat Dio jengkel.
Karin hanya tertawa kecil menanggapi Dio. "Yasudah, jadi makan siang nggak nih, aku lapar" kata Karin memasang tampang manja yang selalu membuat Dio luluh.
Mereka berdua makan siang dengan tenang, sesekali Dio menggoda Karin untuk menyuapinya dengan menggunakan alasan tangannya masih sakit membuat wanita itu tak keberatan. Padahal sebenarnya tangannya sudah baik-baik saja.
"Aku kenyang banget, apa karena kamu suapin makanya makanannya jadi enak" kata Dio tersenyum menggoda istrinya.
"Mau es krim nggak? Katanya disini es krimnya paling enak" kata Dio lagi.
"Boleh" kata Karin langsung berbinar cerah mendengar es krim.
"Semangat banget, Aku beliin dulu, kamu tunggu sini" kata Dio mengelus rambut Karin pelan sebelum membelikan es krim.
Karin mengangguk dan tersenyum manis sambil menatap Dio yang berjalan menjauh. Tapi ia tiba-tiba kaget saat ada seorang pria yang duduk di depannya.
"Karin? Kamu Karin kan?" kata Pria itu terlihat begitu senang saat melihat Karin. Wajahnya pun sangat tampan, memiliki gigi gingsul yang tampak sangat manis jika tersenyum. Umurnya mungkin juga masih seumuran Karin.
"Siapa ya?" kata Karin merasa tak mengenal pria ini.
"Komplek D-rose, Rumah nomor 27, ingat?" kata Pria itu lembut. Suaranya terdengar berat membuat ia tampak semakin menawan.
"Oh! Kak Yuda! Benar kan?" kata Karin akhirnya mengingat pria ini. Seorang kakak kelasnya dulu waktu SMA dan juga pernah menjadi tetangga membuat mereka cukup dekat dulu. Waktu itu Karin baru SMA kelas satu sedangkan Yuda kelas tiga.
"Akhirnya kau mengingatku" kata Yuda dengan senyum manisnya.
"Bukannya Kakak di luar negeri? Aku dengar keluargamu pindah kesana?" kata Karin mengingat.
"Kau benar, aku disini karena baru saja mengantar istriku, dia baru saja meninggal 3 minggu lalu" kata Yuda terlihat begitu sedih.
"Oh, Maaf. Aku tidak tahu kalau..." kata Karin menunjukkan simpatinya.
"Ya tidak apa-apa. Bagaimana denganmu? Sudah lama tidak bertemu, apa kau sudah...." kata Yuda masih dengan suara lembutnya.
"Menikah? Ya, aku suaminya" kata Dio tiba-tiba datang dan langsung duduk di samping Karin.
Wajahnya tampak kesal, baru saja ia meninggalkan Karin, bahkan tak ada sepuluh menit, tapi sudah ada pria yang mencoba mendekatinya. Hatinya sangat panas melihat Karin berbicara dengan pria lain.
"Oh, Aku Yuda, tetangga Karin dulu" kata Yuda mengulurkan tangannya. Sebenarnya ia kaget saat melihat kedatangan Dio yang tiba-tiba.
Dio menatap pria di depannya dengan tajam, secara fisik, Dio merasa cukup tersaingi karena pria di depannya ini terlihat cukup tampan dan punya auranya sendiri.
"Dio, Suaminya Karin" kata Dio menyambut uluran itu dengan mantap.
Karin yang mendengar itu langsung menatap Dio dengan senyumnya. Ia senang karena Dio berkata seperti itu.
"Wah, kau sangat beruntung mendapatkannya, aku ingat dulu berapa banyak pria yang mengejarnya" kata Yuda mengerlingkan matanya pada Karin.
"Apakah termasuk anda?" tanya Dio dengan suaranya yang dingin membuat Yuda terdiam dan Karin salah tingkah.
"Tanya padanya, berapa kali dia membuatku patah hati" kata Yuda kini menatap Karin dengan sendu membuat Dio semakin kesal.
"Kau hanya bercanda, dari dulu kan kau sudah punya pacar, Aku turut berduka cita tentang istrimu" kata Karin merasa tak nyaman saat melihat tatapan mata Dio padanya.
"Ya tidak apa-apa" kata Yuda lagi.
Happy Reading.
Tbc.