
Malam semakin larut, angin berhembus dengan kencang menambah udara kian dingin. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 Malam saat Axel barusaja sampai di rumahnya. Tampilannya masih kacau, Karena perbuatann Papanya Bella tadi siang. Ya memang Axel tak mengganti bajunya ataupun membersihkan lukanya. Sedari siang, dia hanya berada di kantornya memikirkan apa yang akan dia katakan pada orang tuanya nanti.
Axel langsung masuk kerumah tanpa mengetuk pintunya, dia memang memiliki kunci cadangan sendiri. Keadaan rumah sudah gelap gulita, menandakan semua penghuni rumah sudah tidur. Axel segera berjalan menuju kamarnya, Begitu sampai diruang tengah lampu ruangan tiba tiba menyala membuat Axel menghentikan langkahnya. Axel melirik seorang yang sedang berdiri di depannya.
Ayahnya sedang menatap Axel dengan tajam, matanya memancarkan kemarahan. Ada apalagi? Pikirnya. Tubuhnya sudah lelah, dia sangat butuh istirahat sekarang.
"Darimana saja kamu!" Bentak Papa Indra menatap kesal pada Axel. Dia sedikit terkejut melihat wajah putranya yang babak belur. "Kenapa dengan wajahmu?" tanyanya lagi.
"Dari Kantor!" jawab Axel singkat, tak menghiraukan Pertanyaan Ayahnya tentang wajahnya.
"Jangan bohong ! Bianca mengatakan kamu sudah meninggalkan kantor sejak siang!"
"Apa sekarang aku juga harus melaporkan apa yang aku lakukan setiap saat?" kata Axel dengan sinisnya.
"Bukankah ayah sudah mengatakan padamu untuk pulang lebih cepat. Hari ini ada pertemuan keluarga kita dengan keluarga Bianca. Tapi apa yang kau lakukan? Kau membuat Ayah Malu!" Ayah Indra sepetinya sudah begitu berang karena anaknya yang satu ini. Selalu saja membangkang.
"Apa ayah sudah selesai berbicara? Aku sangat lelah dan ingin istirahat" kata Axel datar tak bernada, sungguh dia malas sekali jika harus berdebat dengan ayahnya.
"Bulan depan!" kata Ayah Indra membuat Axel mengerutkan dahinya bingung. "Bulan depan kau dan Bianca akan bertunangan" sambung Ayah Indra langsung membuat Axel membelakan matanya.
"Apa maksud ayah? Aku tidak mau bertunangan dengan dia!" Seru Axel kesal karena ayahnya yang main memutuskan semuanya begitu saja.
"Ayah tidak butuh pertimbangan darimu, Semua orang sudah setuju! Termasuk ibumu!" kata Ayah Indra dengan seenaknya saja.
"Ini hidupku, Ayah tidak berhak mengaturnya! Dan aku sudah memiliki calon istri" kata Axel tak kalah tegasnya. "Dan Besok aku akan melamarnya"
"Kamu pikir ayah akan merestuinya? Bagi ayah tidak ada wanita yang cocok menjadi menantu ayah selain Bianca"
"Aku juga tak memerlukan restu dari ayah! Lagipula dia sudah mengandung anakku"
"Apa katamu? Wanita itu sudah hamil? Apa itu yang kau pikir wanita baik-baik? Wanita yang hamil di luar pernikahan! Axel, Axel ayah pikir kamu cerdas, tapi bagaimana bisa kau percaya jika wanita itu mengandung anakmu, bisa saja itu anak orang lain dan dia mengakuinya sebagai anakmu!" Tentu ayah Indra tak ingin tertipu dengan cara seperti itu, apalagi seingatnya semua wanita yang di sekeliling putranya hanyalah wanita ja*ang.
"Dia memang anakku! Dan ayah tak perlu menilai orang lain karena ayah sendiri bukan orang sempurna!"
Plak
Sebuah tamparan langsung Axel dapatkan dari Ayah Indra. Dia begitu marah pada Axel yang sudah sangat kurang ajar. Selama ini tak pernah sekalipun Axel berbicara dengan suara tinggi padanya. Tapi sekarang? Hanya karena wanita yang tak jelas, Axel sudah melawannya.
"Dasar anak tak tau diuntung! Kau akan membuat keluarga kita malu jika menikahi wanita tak jelas itu! Apa kata orang nanti jika sampai mereka tau kalau wanita itu sudah Hamil! Kamu saja saja akan melemparkan kotoran kemuka ayahmu ini! Jadi urungkan niatmu untuk menikahi wanita itu, atau ayah sendiri yang akan turun tangan untuk menyingkirkan Dia"
"Jadi, kau sudah siap kehilangan semuanya?"
Ternyata keributan antara keduanya membuat Ibu Tamara yang sudah terlelap menjadi terjaga. Dia merasa terganggu oleh suara orang yang saling membentak dengan nada tinggi. Karena penasaran Ibu Tamara langsung mencari tau apa yang terjadi, dan ternyata suami dan anaknya itu tengah bersitegang.
"Astaga Axel! Apa yang terjadi padamu nak? Apa ini perbuatan ayahmu?" Ibu Tamara begitu terkejut mengetahui keadaan putranya yang babak belur.
Luka lebam dimana mana, bahkan pipinya kini membekas tangan besar karena tamparan ayahnya tadi.
"Tanyakan saja pada putramu apa yang sudah dia perbuat" kata Ayah Indra melepaskan Axel dari tatapan tajamnya.
"Sayang, kenapa ini? Apa yang terjadi" Ibu Tamara tak membendung air matanya, dia merasa miris dengan keadaan Axel. Bagaimana bisa putra yang ia jaga dengan penuh sayang ini menjadi babak belur. Bahkan dia tak membiarkan nyamuk untuk mendekatinya, atau bahkan kulitnya tergores sedikit saja Ibu Tamara akan langsung mengobatinya. "Katakan, siapa yang sudah berbuat ini padamu nak" Ibu Tamara menyentuh pipi Anaknya membuat Axel langsung meringis.
"Ini hanya luka kecil Ibu, Nanti juga sembuh sendiri" kata Axel mencoba tersenyum meskipun rasa ketat di pipinya terasa sakit.
"Kamu harus di obati, Tunggu disini, Ibu akan mengambil handuk dan es batu, ini harus di kompres dulu" Ibu Tamara langsung menggandeng tangan putranya untuk dia bawa duduk. Tapi ucapan ayah Indra membuat Ibu Tamara menghentikan langkahnya.
"Tidak perlu! Anak itu sudah memutuskan hubungan dengan kita! Mulai sekarang, dia bukan bagian keluarga kita lagi"
"Apa maksud ayah berbicara seperti itu? Dia itu anak kita, kenapa ayah tega melakukannya" Ibu Tamara menatap suaminya tak mengerti.
"Dia sudah membuat keluarga kita Malu dengan menghamili perempuan di luar nikah" perkataan Ayah Indra membuat Ibu Tamara terkejut.
"Itu tidak mungkin! Axel itu anak baik, dia tak mungkin melakukan hal itu!" Seru Ibu Tamara tentu tak percaya, baginya putranya itu pria baik baik yang sangat dia kenal. Jadi tak mungkin putranya itu sampai menghamili anak orang lain.
"Itu tidak benar kan nak? Kamu nggak mungkin melakukan dosa itu kan? Ibu percaya kamu pasti anak baik" Ibu Tamara beralih pada putranya untuk mencari tau kebenaranannya.
"Maafkan Axel Bu" Axel rasanya ingin sekali menangis karena melihat wajah ibunya. Tatapan matanya menggambarkan kekecewaan yang nyata. Hati wanita yang telah melahirkannya itu pasti sangat sakit sekali mendengar kelakuan bejatnya.
"*Maaf, Maafkan Axel Bu"
****
Jangan lupa like ya Kakak!
Happy Reading
TBC*