MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Terima Kasih Suamiku.



...Setelah musim berganti...


...Waktu pun terus berjalan....


...----------------------------------------------------------------...


Bella sedang berdiri gugup di antara barisan yang sejajar rapi, Ia beberapa kali menengok ke ke belakang untuk melihat sesuatu. Ini adalah hari wisudanya setelah ia menyelesaikan pendidikannya selama enam tahun.


Terdengar sangat lama ya? Tapi bagi Bella terasa sangat cepat. Ia tak menyangka sudah berada di titik ini dan sejauh ini. Bella ingat bagaimana dulu ia menangis karena masa depannya yang hancur karena kesalahannya. Tapi Tuhan ternyata memberinya anugerah terindah yang sama sekali tak pernah terlintas dalam angannya.


Meskipun begitu, Bukan berarti perbuatannya itu di benarkan, Karena hal itu tetaplah bukan hal baik meskipun seindah apapun akhirnya.


"Mama semangat ya....." Terdengar teriakan seorang anak laki laki yang sudah duduk di kursi barisan paling depan.


Dia adalah Rendra, putra sulungnya yang kini sudah berusia tujuh tahun dan sudah duduk di kelas satu SD. Matanya memanas saat melihat Rendra yang sudah besar, padahal rasanya baru kemarin anaknya itu menangis dan meminta di gendong olehnya. Lalu, disamping Rendra ada putra keduanya Eril yang berusia satu tahun di bawahnya.


Dua jangoannya itu tampak seperti anak kembar karena besar mereka hampir sama. Yang membedakan keduanya hanya dari sifatnya. Kalau Rendra adalah duplikasi sempurna dari sang Ayah, mempunyai sifat yang cuek namum berhati sangat lembut. Sedangkan Eril, Wajahnya memang plek ketiplek Ayahnya, tapi Sifatnya menurun dari Bella semua.


Rendra pernah mengatakan kalau adiknya itu cerewet dan menyebalkan, tentunya tak mau kalah persis seperi Mamanya. Tapi meskipun sering bertengkar, keduanya saling menyayangi satu sama lain.


Papa, Mama, Ayah, Ibu semua ikut menghadiri acara wisudanya. Dan yang terakhir adalah seorang anak perempuan cantik yang kini ada di gendongan Papa Nugraha.


"Gwi...Say Hai sama Mama" Mama Anita melambaikan tangan kecil Gwi padanya.


Gwiyomi Allura Putri Leander, Anak ketiganya yang lahir tiga tahun lalu. Sama seperti sebelumnya, Ia kembali hamil saat Axel lupa menggunakan pengaman. Padahal hanya satu kali, Tapi yeah....the power off Axel memang tak ada yang menandingi.


"Semua wisudawan dan wisuda wati diharap bersiap karena proses wisuda akan segera di laksanakan" terdengar suara pengumuman membuat Bella mengalihkan pandangannya ke depan. Ia kembali melihat ke arah pintu masuk.


Ya, Bella sedang menunggu kedatangan suaminya yang sama sekali belum menunjukan batang hidungnya. Bella tentu sangat mengharapkan kedatangan pria itu di hari pentingnya.


"Masih belum dateng juga...?" tanya Neva teman satu kelasnya.


"Belum...Mungkin bentar lagi" kata Bella melempar senyum tipis menutupi perasaanya yang sangat gugup dan was-was karena Axel belum datang.


Acara wisuda pun segera di laksanakan, Dari pelepasan atribut kampus dan pidato dari perwakilan murid. Dan yang terakhir adalah pengumuman wisudawan terbaik Tahun ini. Bella semakin cemas karena Axel belum datang. Apa mungkin tidak datang?


Tidak! Tidak..Axel tidak mungkin tidak datang di acara pentingnya. Karena sejauh ini, Axel selalu menjadi suami yang baik untuk dirinya dan Ayah terbaik anak mereka. Menjalani biduk rumah tangga hampir sepuluh tahun dengan pria itu, Bella sudah sangat paham dengan sifat suaminya.


Selama itu pula sudah banyak hal yang mereka lalui, Cobaan awal pernikahan yang sangat berat, lalu saat mereka harus kehilangan anaknya, Di tambah Kelahiran Rendra yang dramatis. Sejauh ini mereka bisa melewatinya karena saling menguatkan satu sama lain. Tapi bukan berarti setelah semuanya baik-baik saja mereka tidak pernah bertengkar.


Tentu saja pernah, Malah di bilang sering, Apalagi jika suaminya sedang ada masalah dan dia yang sedang capek mengurus anak yang kecil-kecil dan harus memikirkan kuliah. Biasanya jika sudah seperti itu, Axel akan mengajaknya makan berdua dan membicarakan segalanya dari hati ke hati.


"Dan wisuda terbaik Tahun Ini adalah......" Suara pembawa acara yang kembali terdengar mengembalikan Bella dari lamunan panjangnya.


Mata Bella terbelalak kaget mendengar namanya di sebut, Tepuk tangan riuh langsung menggema di seluruh gedung. Ini sungguh di luar dugaannya. Ia melempar pandanganya pada kedua orang tuanya yang tersenyum penuh keharuan.


"Saudara Bella...Silahkan maju ke depan" kata Pembawa acara itu lagi.


Bella mengusap air matanya yang menggenang di sudut mata, Ia berjalan di tengah tepuk tangan yang masih terus terdengar. Ia menerima piala yang di berikan padanya dengan rasa yang tak bisa di gambarkan.


Di sisi lain, Axel tampak berlari-lari kecil menyeberangi lapangan yang begitu luas. Ditangannya membawa buket bunga mawar yang begitu indah. Axel beberapa kali menyugar rambutnya kebelakang menutupi perasaanya. Ia seperti ingin menemui pacarnya untuk pertama kali, gugup dan jantungnya berdetak kencang.


Sesampainya di gedung acara, Ia berhenti sejenak mendengar nama istrinya di sebut. Dengan senyum tipis mengembang, Axel segera masuk kedalam bertepatan dengan Bella yang naik ke panggung. Ia berdiri mematung melihat istrinya yang sangat cantik, selalu cantik seperti sembilan tahun yang lalu.


"Silahkan sampaikan sepatah dua patah Bella.." kata ketua Kampus padanya.


Bella berdiri canggung di hadapan banyaknya murid dan orang tua yang hadir.


"Emmm...Mau ngomong apa ya...Pertama-tama Aku ucapkan terimakasih untuk ketua Rektor Universitas dan kepala seluruh dekan yang membimbing kami dan menjadi orang tua kami saat berada di Universitas ini. Tanpa kalian, Kami bukanlah siapa-siapa sekarang" kata Bella mengangguk pada semua dosen yang duduk di depan.


"Terima kasih untuk Papa, Mama yang selalu mendukung dan memotivasi" Kata Bella sudah ingin menangis saat melihat kedua orang tuanya.


"Oh ya, Yang paling penting, terima kasih untuk suamiku, Aku bisa berdiri disini pastinya karena suamiku, satu-satunya orang yang sudah memberikan semua hal untukku dan keluarga kecil kami. Suamiku sering mengatakan kalau dia sangat beruntung memilikiku, tapi menurutku, Aku yang lebih beruntung memilikinya, Aku yang beruntung karena sudah menjadi istri orang hebat seperti dirinya"


"Untuk suamiku, Terima kasih sudah menjadi Suami terhebat dan Ayah terhebat untuk anak-anak kita" Air mata Bella sudah menggenang di sudut matanya.


"Terima kasih telah membuatku merasa nyaman setiap waktu disisimu. Terima kasih atas semua pengertianmu"


"Terima kasih karena telah menjadi arah tujuan hidupku"


"Terima kasih karena telah menahan semua perubahan emosi dan amarahku dan tetap mencintaiku dengan cara yang sama.”


“Terima kasih karena selalu mau mendengar keluh kesahku, dan membuat suasana hatiku menjadi lebih baik.”


"Terima kasih By...Terima kasih sudah menjadi suamiku... I love you now, tomorrow and so on ( Aku mencintaimu sekarang, besok dan seterusnya)" kata Bella dengan matanya yang sudah basah karena air matanya.


Semua orang ikut terharu dengan ucapan Bella. Apalagi Axel yang masih berdiri dengan mata yang sudah memanas, tapi ia menahannya agar tidak menangis. Ucapan terima kasih dan cinta Bella membuat dia sangat terharu. Perlahan, ia mendekat diantara tepuk tangan riuh.


Bella yang turun dari panggung tertegun sejenak saat melihat suaminya sudah berdiri disana. Perlahan ia ikut mendekatkan langkah kakinya dengan ingatan saat ia mendatangi Axel pertama kali dan meminta pertanggung jawaban pria itu karena ia hamil.


Happy Reading.


Tbc.