MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Hanya Orang Tidak Penting



Malam harinya Bella tidak bisa tidur karena terus kepikiran tentang ucapan para pengurus panti tadi siang. Bella sangat penasaran, namun enggan untuk menanyakannya langsung pada Axel. Bella hanya merasa takut jika ia harus mendengarkan kebenaran yang akan menyakiti hatinya nanti.


"Kenapa belum tidur?" Axel heran melihat Bella yang masih belum tidur, padahal malam sudah cukup larut. Ia memperhatikan raut wajah istrinya yang tampak gusar.


"Ada apa Bella?" tanya Axel dengan suara lembut. Ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Bella.


"Tidak apa-apa. Apa pekerjaanmu sudah selesai?" sahut Bella tak ingin menjelaskan.


"Bella kau sangat tidak pandai berbohong. Katakan padaku apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Axel sedikit mendesak.


Bella menatap Axel dengan ragu. "Apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?"


"Tanyakan saja. Memangnya kenapa tidak boleh. Bella kita ini sudah menikah dan harus saling terbuka. Jadi katakan apa yang menggangu pikiranmu?" kata Axel memiringkan tubuhnya untuk menatap wanitanya yang begitu cantik di temaram kamar.


"Siapa Naura?" tanya Bella langsung.


Axel sedikit kaget mendengar Bella menanyakan hal itu, namun ia dengan cepat bisa mengontrol ekspresi wajahnya.


"Hanya itu saja yang ingin kau tanyakan?" tanya Axel di balas anggukan cepat oleh Bella.


"Hah! Aku pikir ingin menanyakan apa. Ini sudah malam, sebaiknya kita tidur" kata Axel menanggapinya dengan santai. Ia malah meraih Bella dalam pelukannya.


"Tapi kau belum menjawab pertanyaan ku" seru Bella mencoba melepaskan diri. Ia tak puas karena Axel tak menjawab pertanyaan nya.


"Pertanyaan yang mana?" Axel memilih memejamkan matanya membuat Bella benar-benar kesal.


"Jangan pura-pura lupa. Katakan siapa Naura" kata Bella lagi semakin kesal.


"Bukan siapa-siapa. Hanya orang tidak penting" sahut Axel tak begitu perduli. Ia tak ingin menambah masalah baru dengan membahas masa lalunya.


"Sebenarnya ada berapa banyak sih wanita mu dulu" kata Bella masih tak puas karena Axel tak menjawab siapa jati diri Naura sebenarnya.


"Seberapa banyak mereka, Tidak ada yang lebih berarti selain dirimu Bella. Hanya kau satu-satunya wanita yang aku cintai. Sekarang, esok dan selamanya. Apakah dengan keberadaan ku belum cukup untuk membuatmu percaya padaku" kata Axel membuat Bella bungkam.


Ya, kenapa di harus membahas orang yang tidak penting bagi mereka. Siapapun itu seharusnya ia percaya pada Axel seperti Axel percaya padanya. Lagipula untuk apa dia harus begitu gusar. Bukankah status yang ia miliki sudah lebih cukup untuk dirinya. Bagaimanapun para wanita itu akan mendekat, tetap ialah pemenangnya.


"Maafkan aku, aku hanya takut kau akan meninggalkanku" kata Bella merasa bersalah.


"Aku tidak akan meninggalkanmu. Justru aku yang harus takut kau tinggalkan, Bagaimanapun juga aku bukan orang yang baik....


"Sttt..." Bella meletakan telunjuknya di bibir Axel untuk menghentikan ucapan pria itu.


"Kau pria terbaik yang pernah aku kenal selama ini" kata Bella tulus dari lubuk hatinya yang terdalam.


Axel tersenyum tipis dengan apa yang di ucapkan Bella. "Kau pintar merayu ya sekarang, dasar penggoda kecil" kata Axel mengeratkan pelukannya.


"Aku tidak merayu mu, Aku serius"


"Baiklah. Tapi sepertinya kau harus aku hukum" kata Axel menyeringai.


"Hukum apa?" tanya Bella tak mengerti.


"Hukuman karena kau tidak percaya padaku" kata Axel mendekatkan wajahnya.


"Eh? Kan aku sudah minta maaf" kata Bella gugup saat Wajah Axel begitu dekat dengannya.


"Tetap saja, kau harus aku hukum. Dan karena kau membantah, hukuman mu bertambah dua kali lipat"


"Tiga kali lipat"


Bella membesarkan matanya mendengar ucapan Axel. "Baiklah, Baiklah. Apa hukumannya? Jangan terlalu susah ya" kata Bella tak lagi protes.


"Hukumannya adalah...."


Bella memasang wajah waspada saat melihat senyum Axel yang penuh arti. Dan benar saja, sepersekian detik Bella merasakan benda kenyal menyentuh bibirnya di ikuti Axel yang menindih tubuhnya. Tangan pria itu sudah bergerilya dibalik gaun tipis yang dikenakan.


Ciuman itu semakin lama semakin membuat tubuh keduanya terbakar. Axel bahkan tak segan melepas semua kain tipis yang membalut tubuh istrinya. Namun disaat hasrat itu kian menggebu, Axel harus menelan kekecewaan karena ingat Bella masih dalam masa pemulihan dan belum bisa ia sentuh.


Damn it!


"Maafkan aku.." cicit Bella merasa tak enak karena tak bisa melayani suaminya.


"Jangan pikirkan tubuhku Bella. Harusnya aku yang minta maaf karena egois memintamu melakukan hal itu padahal kau sedang sakit" ujar Axel mencoba menenangkan Bella.


"Apa kau mau aku bantu dengan cara lain?" tanya Bella secara impulsif mengutarakan hal konyol itu. Ia langsung menundukkan wajahnya karena menyadari apa yang telah di lakukan.


Axel menyeringai saat mendengar apa yang diucapkan Bella. Ia tak menyangka, istrinya yang polos itu berani menawarkan hal yang menyenangkannya. Ia sedikit penasaran bagaimana Bella yang begitu polos bisa tau cara memuaskan pria tanpa harus bercinta.


"Dari mana kau mendapatkan ide itu? Aku tidak menyangka istriku yang polos ini bisa menawarkan hal seperti ini" kata Axel sengaja menikmati ekspresi wajah Bella yang memerah hingga menjalar ke telinga membuat Axel semakin semangat menggodanya.


"Aku memang tidak punya pengalaman dengan pria sebelumnya. Tapi aku tidak se polos itu Axel. Aku pernah membaca buku tentang hal itu dan aku juga pernah menonton...


Bella menghentikan ucapannya karena melihat Axel tertawa begitu lepas.


"Jangan menertawakan ku" seru Bella bersungut-sungut karena Axel malah menertawakannya. Ia memukul pria itu untuk menghentikan tawanya, namun tawa Axel semakin meledak karena melihat wajah Bella yang kesal.


"Jadi dulu kau sering menonton film ? Lalu bagaimana kalau kau ingin? Jangan bilang kau juga menggunakan cara cara lain untuk memuaskan diri sendiri" kata Axel sungguh dibuat gemas karena kejujuran istrinya. Ia malah begitu menikmati wajah cantik Bella yang tampak bersungut-sungut kesal.


"Tentu saja tidak. Aku tidak segila itu" sergah Bella melirik kesal pada Axel.


"Lagipula aku pernah membaca hal seperti itu di buku tentang hal seperti itu. Bukan buku yang berisi kalimat vulgar yang ada dibayangkan mu. Tapi buku itu berisi pendidikan tentang hal itu untuk usia dini dan orang baru menikah" seru Bella ingin menjelaskan lebih terperinci asal muasal ia tau cara itu. Tapi tentu dengan tambahan film dewasa, karena ia tak punya gambaran tentang hubungan **** sebelumnya.


Bella baru merasa malu kenapa dulu ia begitu bodoh karena mau-maunya diajak kedua sahabatnya itu menonton film seperti itu.


"Mana ada buku yang mengajarkan caranya bercinta, lagipula bercinta itu tidak perlu belajar. Kita hanya butuh lawan dan langsung bisa mempraktekkannya" kata Axel menahan tawa mendengar penjelasan Bella namun sedetik kemudian ia meringis kesakitan karena Bella mencubit perutnya.


"Akh... kau ini, kenapa senang sekali mencubit ku. Aku mengatakan hal yang benar kan?" kata Axel menyeringai lebar.


"Tapi tidak semua pasangan yang baru menikah berpengalaman sepertimu" seru Bella lagi membuat Axel tersenyum lebar dan tidak membantah..


"Baiklah. Karena kau sudah belajar, lain kali aku akan memintamu untuk mempraktekannya langsung" kata Axel mengedipkan sebelah matanya membuat Bella tersipu.


"Untuk sekarang, Istriku yang cantik ini harus istirahat" kata Axel lagi meletakkan kepala Bella di lengannya.


"Ya, Aku juga sudah mengantuk. Tapi apa kau yakin tak ingin aku bantu?" tanya Bella sekali lagi merasa benar-benar tak tega jika membiarkan Axel menahan diri.


"Its Okey Sayang.. Ini memang siksaan.. Tapi bagiku ini adalah siksaan yang menyenangkan. Ini sudah malam, tidurlah" bisik Axel menyusuri wajah Bella dengan bibirnya yang basah. Ia memberikan kecupan hangat di kening Bella sebagai ritual wajib sebelum tidur.


Bella tak membantah. Ia memposisikan tubuhnya senyaman mungkin. Menghirup harum tubuh Axel yang khas, serta detak jantung yang seirama seolah menjadi musik pengantar tidur yang indah.


Happy Reading


TBC