MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Dua Garis Merah



Bella masih dilanda takut dan kekhawatiran selama perjalanan pulang dari alun alun. Namun Bella rasa ia harus tau jawaban pastinya. Ucapan nenek tua beberapa Minggu lalu terngingang di kepalanya. Keinginan anehnya yang di anggap mbok Nah sebagai ngidam. Apa itu memang benar?.


"Nggak mungkin! Ini nggak mungkin! Apa benar malam itu dia melakukannya? ****! Bella bodoh! Ceroboh! Tapi, apa bisa dia hamil meskipun hanya melakukan hal itu satu kali?"


Ya Tuhan, Siapapun beri tau padanya kalau ini semua hanya mimpi buruk yang di alaminya. Kenapa malam itu dia harus pergi ke tempat sialan itu. Kenapa pikirannya begitu kekanakkan. Seharusnya dia tau kalau minum tak akan melupakan masalahnya. Seharusnya dia tidak pergi kesana dan tak akan pernah bertemu dengan pria brengsek itu. Dia tak akan melakukan kesalahan besar ini.


"Argghhh!!" Bella mengumpat kesal. Dia bingung harus bagaimana. Tapi sepertinya dia harus memastikan semuanya terlebih dulu. Bella memutar mobilnya untuk ke apotik, dia harus membeli barang itu sekarang juga.


Untung saja di dalam mobil ada masker dan Hodie miliknya yang tertinggal. Jadi bisa dia pakai untuk menutupi identitasnya. Bisa gawat kalau pegawai apotik tau seorang anak SMA membeli barang itu. Meski dengan pandangan aneh, Apoteker Disana memberikan barang itu. Bella membeli semua merek, karena dia sendiri tak tau harus memilih yang mana.


Sesampainya di rumah Bella langsung masuk ke kamarnya. Tak lupa dia mengunci pintunya, takut sewaktu waktu mamanya datang. Bella membuka satu persatu alat itu, dia membaca semua pentunjuknya yang mengatakan kalau lebih efektif jika mengeceknya di waktu pagi setelah bangun tidur. Hah kenapa lama sekali?.


Semalaman Bella menunggu waktu yang begitu lambat. Dia merasa tersiksa. Antara bingung, Takut menjadi satu. Akhirnya setelah pagi tiba Bella langsung ke kamar mandi dan meletakan alat itu di wadah yang sudah berisi urine miliknya. Dalam hati dia berdoa semoga apa yang di pikirannya tidak benar. Dengan jantung yang berdetak kencang, Bella mencoba menguatkan hatinya untuk melihat hasilnya. Dan ternyata...


*Dua Garis Merah?


Apa ini artinya dia benar benar hamil?


Nggak! Ini pasti salah! Ya ini pasti salah*


Bella tak ingin mempercayai dengan hasil satu testpack saja. Dia kembali mengambil taspack lainnya dan mencobanya kembali. Namun hasilnya tetap sama.


"Jadi gue beneran Hamil anak pria brengsek itu" gumamnya pelan. Tubuhnya terasa lemas hingga luruh kelantai. Air matanya mengalir tanpa di minta.


Apa yang harus dia lakukan sekarang? Bagaimana jika kedua orang tuanya tau? Apa mereka akan memaafkan dirinya? Bagaimana dengan sekolahnya? Kemana dia akan mengadukan hal ini? Oh iya Tiara dan Karin? Tapi apa mungkin mereka mau berteman dengannya lagi setelah tau yang sebenarnya?.


****


Setelah beberapa hari berpikir. Bella memutuskan untuk menemui pria brengsek itu. Dia tentu bingung harus mencari pria itu dimana. Karena dia sendiri tak tau alamat atau nomor yang bisa dia hubungi. Bella bisa saja bertanya pada Tiara namun hal itu tak mungkin ia lakukan karena pasti akan sangat mencurigakan. Akhirnya Bella memutuskan untuk datang ke club' yang sama dengan yang ia datangi dulu. Meski enggan tapi Bella tetap melakukannya.


"Mau pesan apa Nona?" tanya bartender disana begitu tau dia mendekat.


"Ehm.. Sorry! Saya mau mencari pria yang namanya Axel, dia sering kesini" kata Bella dengan berteriak karena musik disana sangat kencang.


Bartender itu tak langsung menjawab. Dia mengamati penampilan Bella yang terlihat polos. Wajahnya pun masih terlihat muda? Apa mungkin dia salah satu mahasiswa yang mengejar-ngejar Axel. Hal itu sudah sering terjadi, tapi penampilan mereka tentu berbeda dengan Bella.


Ya Axel memang sudah pelanggann tetap disana. Jadi bartender itu tentu sudah sangat hafal tentang apa yang Axel sering lakukan.


"Memang Ada urusan apa dengan dia?" tanya Bartender itu penuh selidik.


"Itu bukan urusan Lo! Gue cuma tanya apa lo kenal ?" sahut Bella dengan ketus. Dia kesal dengan orang yang kepo dengan urusan orang lain.


"Tapi jika itu menyangkut tamu saya, saya harus memastikannya Nona" sahut bartender itu lagi.


"Oke, gini aja! Kalau dia kesini Lo kasih tau dia kalau Bella nyari! Ini penting!" kata Bella penuh penekanan seolah ingin bartender itu mengingat setiap ucapannya.


****


"Akhirnya Lo nongol juga bro" Kata Bartender yang bernama Roy. Mereka memang cukup dekat satu sama lain karena Roy adalah pemilik club' ini. Tapi dia memilih ikut bergabung dengan karyawan lainnya.


"Ya, gue sibuk belakangan ini" Sahut Axel langsung mengambil gelas yang disodorkan padanya.


"Nggak heran gue! Tapi gue mau ngasih tau Lo, kalau dari kemarin tuh ada cewek yang nyari Lo" kata Roy yang memang bartender yang di temui Bella Minggu lalu.


"Siapa? Kayak biasa?" tanya Axel acuh tak acuh, merasa sudah bosan mendengar hal itu.


"Nggak! Dari wajahnya sih cewek baik, masih polos dan kayaknya masih bocah" Roy menjelaskan spesifik tentang Bella.


Axel mengerutkan dahinya berpikir siapa wanita muda yang mencarinya itu. Seingatnya dia selalu memilih patner ranjang yang umurnya lebih tua atau seumuran.


"Wajahnya cantik banget bro! Tapi dia sedikit galak" sambung Roy tersenyum kecil membayangkan wajah kesal Bella. "Eh panjang umur, itu dia dateng lagi" ucap Roy yang melihat Bella baru saja sampai.


Axel yang mendengar hal itu sontak menengok kebelakang untuk melihat siapa orang yang mencarinya. "Bella?" gumamnya pelan.


"Yaps, namanya Bella dan itu orangnya! Dia bilang mau ngomong penting sama Lo" sahut Roy lagi.


Ya memang Bella memutuskan untuk mendatangi club' itu lagi karena belum menemukan Axel. Seminggu ini Bella lalui dengan berat karena tak tau harus berbuat apa. Akhirnya malam ini dia bisa menemui pria itu lagi.


Axel sendiri tentu kaget melihat Bella yang datang mencarinya. Dia berjalan mendekat karena Bella sejak tadi hanya diam di tempatnya.


"Cari aku?" Tanya Axel melihat tatapan mata Bella yang terlihat sendu, kenapa dia?.


"Ya," jawab Bella singkat, dia menundukkan wajahnya karena takut terperangkap oleh pesona Axel yang begitu tampan dimatanya. Hell No, Bella apa yang kau pikirkan? Tidak seharusnya kau memuji pria brengsek itu.


"Mau bicara di luar?" tawar Axel merasa memang ada sesuatu yang penting yang Bella ingin sampaikan.


Bella mengangguk sebagai jawaban. Dia mengikuti Axel yang berjalan terlebih dulu. Axel sendiri langsung menuju basemant di club' itu. Sebenarnya tempatnya tidak tepat, tapi jika Axel mengajak Bella ke restoran sudah bisa dipastikan kalau Bella akan menolaknya.


"Jadi?" tanya Axel langsung begitu mereka tiba di basement. Dia menatap Bella yang sejak bertemu dengannya tak ingin menatap matanya itu.


"Gue..Hamil"


****


Tinggalkan jejak ya kakak..


Happy Reading..


TBC