
Setelah kejadian itu hubungan Bella dan Axel kembali canggung. Saat di Apartemen pun keduanya memilih saling diam seolah hanya orang asing yang tinggal satu atap. Sebenarnya Axel tak merubah sikapnya, hanya saja Bella seolah menjaga jarak dengannya.
Jika wanita itu biasanya akan makan sarapan buatannya. Kali ini Bella selalu menolak dengan alasan belum berselera dan ingin makan di sekolah saja. Bella juga selalu menolak jika Axel ingin mengantarnya. Dia lebih memilih naik taksi meskipun terkadang dia harus terlambat ke sekolah karena lama menunggu taksi.
Hal itu membuat Axel uring-uringan sendiri hingga ia tak fokus pada pekerjaannya. Belum lagi Bianca yang terus meneror dirinya, membuat kepala Axel ingin pecah rasanya.
"Bram, Apa sudah ada kabar tentang Bianca?" tanya Axel sudah menunggu cukup lama untuk mencari bukti. Sedangkan waktunya sudah cukup mepet karena Bianca memberinya waktu satu bulan untuk mereka bertunangan. Jika Axel menolak, sudah jelas reputasinya akan hancur.
Mungkin jik hanya dirinya saja yang hancur, tak akan masalah. Tapi ini menyangkut nama baik keluarganya. Axel tak mau sampai keluarganya menjadi bahan gunjingan di luar sana. Belum lagi Bella yang sedang hamil.
"Belum ada Tuan, Sepertinya Nona Bianca menyimpan file file itu dengan keamanan yang tinggi. Karena anak buah kita sangat susah meretasnya" jelas Bram ikut pusing memikirkan masalah tuannya. Apalagi belakangan ini mood Axel benar-benar buruk. Hal itu tentu mempengaruhi kinerjanya. Semua yang di lakukan nya seolah salah di mata Axel.
"Lalu selama ini apa yang mereka lakukan. Dasar tidak berguna! Pecat saja mereka" bentak Axel dengan kesal.
"Ya Tuan, Saya akan mencarikan lagi penyelidik handal untuk mencari bukti itu" kata Bram langsung.
"Terserah! Yang jelas aku mau bukti itu segera. Aku sudah muak dengan tingkah wanita itu. Jika perlu dengan cara kasar lakukan saja" kata Axel dengan mata berkilat. Kekejaman tampak sangat jelas di matanya. Jika wanita itu bisa bermain licik, maka dia pun bisa.
"Baik Tuan" sahut Bram sedikit bergidik melihat tingkah bosnya. Karena seperti yang sudah-sudah. Axel pasti tak akan melepaskan siapapun yang mencoba mengusik kehidupannya.
Axel tak menyahut, dia memberikan gestur untuk Bram pergi dari ruangannya. Dia menatap pemandangan kota Jakarta yang terlihat begitu macet siang ini. Namun bukan itu yang di pikirannya. Melainkan Bella, wanita yang sudah dua minggu ini mengacuhkannya.
Dalam hatinya ia merasa ingin sekali melihat wanita itu tersenyum manis. Tingkah polosnya yang lucu juga wajah galaknya ketika Axel melalukan kesalahan. Axel tertawa kecil membayangkan hal itu. Tanpa sadar ia mulai merindukan sosok itu.
****
Bella sendiri menjadi lebih pendiam dari biasanya. Ia terus kepikiran tentang perkataan Axel memperjelas tentang perasaanya. Bella sengaja menjaga jarak untuk menjaga hatinya agar tak jatuh terlalu dalam. Karena jujur saja, dia sudah mulai merasakan benih-benih cinta pada pria itu.
Dalam hati kecilnya, ia selalu mencari sosok itu. Diam-diam ia mulai merindukan pelukan hangat Axel setiap malam menemaninya. Ia rindu perhatian kecil yang selalu ia abaikan. Ia rindu semua tentang pria itu. Tak ayal terkadang Bella menangis sendiri setiap malam jika mengingatnya.
Apalagi sekarang Kedua orang tuanya belum kembali karena Nenek semakin drop dan mereka tak tega untuk meninggalkannya. Bella benar-benar sendiri, terkadang dia merasa menjadi anak yang terbuang.
"Bella...Ada paket nih!" Suara Dani kembali terdengar. Seperti biasa, temannya itu selalu mengantarkan paket makan siang yang sudah dua minggu ini selalu datang berturut-turut.
Bukan hanya makan siang saja, terkadang pengirim misterius itu memberikan buku, ikat rambut dan macam-macam benda lainnya. Yang jelas orang itu sangat paham apa yang Bella sukai. Awalnya Bella mengira itu dari Axel, tapi ternyata harapannya terlalu tinggi. Memangnya dia siapa? Dia hanya remahan sampah di mata pria itu. Dan kebetulan telah mengandung anaknya.
"Lo mau ngaku sendiri atau gue paksa?" kata Bella menatap tajam pada Dani yang seketika gugup.
"Maksud Lo?" kata Dani dengan wajah tak mengerti.
"Siapa yang ngirim paket ini?" Tanya Bella.
"Lo pikir gue bego? Cepetan jawab siapa yang udah ngirim paket ini?" kata Bella dengan suara sedikit keras. Ia menarik kerah baju Dani hingga pria itu semakin gugup.
"Gue bilang nggak tau!" Elak Dani lagi.
"Pembohong!" seru Bella menghempaskan tubuh Dani dengan kasar. Sebenarnya badan Dani lebih besar darinya. Tapi pria itu memang sengaja tak melawan. Bukan karena takut, hanya saja ia tak mau melawan perempuan yang menurutnya makhluk paling benar.
"Terserah lo mau percaya atau tidak! Yang jelas gue cuma di suruh nganter ini doang" kata Dani lagi seraya mencampakkan paper bag yang di bawanya tadi di meja.
Bella mendengus sebal melihat tingkah Dani. Ia membuka isi paper bag itu yang isinya ternyata berbeda. Yang biasanya berisi makan siang, kali ini berisi beberapa aneka coklat yang terlihat mahal. Bella mencari-cari kartu ucapan yang biasanya selalu ada, namun kali ini nihil. Melihat cokelat itu mengingatkannya pada seseorang.
****
Bella berjalan dengan langkah cepat. Tujuannya hanya satu, yaitu mencari cowok yang selama ini memberikannya paket. Bella sudah sangat hafal apa yang akan di lakukan pria itu di jam istirahat begini. Pandangannya mengedar mencari sosok yang paling menonjol di antara yang lain. Saat menemukannya, Bella langsung mendatanginya.
Tanpa basa basi, Bella mencampakkan paper bag itu ke arah Dio yang kaget dengan kedatangannya. Teman-temannya pun ikut memandang ke arah Bella, mereka semua seolah ingin tau apa yang terjadi dengan mantan couple favorit di sekolah mereka itu.
"Bella, Ada apa?" tanya Dio dengan wajah kagetnya. Dia bertanya kenapa Bella mendatanginya, padahal selama ini jika mereka bertemu, Bella selalu menghindarinya.
"Nggak usah pura-pura bego Lo! Maksud lo apa selalu ngirimin gue makan siang? Mau sok perhatian? Telat!" kata Bella langsung berapi-api.
Dio mengerutkan dahinya melihat coklat yang bertebaran di lantai. Lalu menatap Bella yang menatapnya marah.
"Sorry! Aku nggak ada maksud apa-apa. Maaf kalau hal itu membuatmu tak suka" kata Dio mengulum bibirnya. Ia memang suka mengirimkan makan siang untuk Bella. Tapi selalu ia lakukan sembunyi-sembunyi karena ia tau Bella pasti akan menolaknya.
"Gue peringatin lo kali ini, Jangan pernah lagi ngirim hal yang nggak penting kayak gini. Hubungan kita udah selesai. Dan Lo nggak usah sok perduli sama gue" kata Bella penuh penekanan.
Dio terdiam sesaat, ia lalu memunguti coklat coklat yang Bella buang. "Oke aku nggak akan ngirimin apapun ke dirimu lagi, Tapi untuk coklat ini aku mohon kau menerimanya" kata Dio dengan wajah penuh harap.
"Ck, nggak perlu. Gue bisa beli sendiri...
"Selamat ulang tahun Bel, Hari ini umurmu genap 17 tahun. Aku minta maaf karena telat ngucapinnya. Biasanya aku menjadi yang pertama kali" kata Dio menyela ucapan Bella. Ia tersenyum kecil mengingat masa indahnya dulu.
Setiap ulang tahun Bella, ia selalu menjadi yang pertama yang mengucapkannya. Setelah itu, mereka akan seharian menghabiskan waktu bersama. Sayang sekali, sekarang hanya tinggal kenangan.
Happy Reading
TBC