
"Dio! Aku tidak jadi ikut kalau kau seperti itu!" seru Karin kesal karena sadar jika Dio sengaja melakukannya. Ia langsung ingin turun tapi Dio kembali memegang tangannya.
"Maafkan aku, Aku tidak akan melakukannya lagi. Tapi kau harus pegangan, agar tidak jatuh" kata Dio dengan suara lembutnya, menatap mata indah Karin dari balik kaca helm.
"Baiklah, Aku benar-benar akan melompat dari motormu jika kau seperti itu lagi" kata Karin dengan nada mengancamnya.
Dio mengangguk dan kembali menjalankan motornya dengan pelan. Karin memilih berpegangan pada jaket Dio dari pada memeluk perut pria itu. Tapi pinggangnya juga lama-lama sakit karena jalanan disana yang cukup buruk dan licin. Tapi egonya juga terlalu tinggi untuk memeluk Dio.
Karin masih bertahan tapi lama-lama ia tak tahan juga, akhirnya ia melingkarkan tangannya di perut Dio saat mereka melewati tanjakan yang cukup tinggi. Dio tersenyum lebar saat melihat tangan Karin yang memeluk dirinya. Berbohong sekali kalau dia tidak menikmatinya.
Well? Sesederhana itu keinginannya?
Mereka berdua tiba di lokasi air terjun setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam. Disana ternyata cukup ramai orang.
"Capek?" tanya Dio membantu Karin melepaskan helmnya.
"Lumayan" sahut Karin menatap wajah Dio yang menurut Karin sangat tampan, rambut pria itu yang biasanya tersisir klimis tampak jatuh di dahinya membuat Dio terlihat imut menurutnya.
"Sudah, Jangan di lihat terus" kata Dio langsung membuat Karin sadar.
"Ehmm...Disini pemandangannya bagus" kata Karin mengalihkan pandangannya ke arah lain karena malu sekali tertangkap basah seperti ini.
Dio hanya tersenyum, Ia lalu menarik lembut tangan Karin dan menggenggamnya.
"Air terjunnya ada di bukit itu, kita harus turun ke bawah agar bisa melihat dengan jelas" kata Dio mengajak Karin berjalan menyusuri jalan menuju lokasi air terjun itu.
"Kau sudah pernah kesini?" tanya Karin sedikit penasaran.
"Belum"
"Lalu, kenapa kau tau empat ini?" tanya Karin mengerutkan dahinya.
"Kan bisa cari di internet" kata Dio tertawa kecil membuat Karin menatapnya.
"Dia sangat manis jika seperti itu" batin Karin saat melihat tawa Dio. Ia kembali membuang muka saat Dio menatapnya.
Air terjun disana benar-benar bagus dan airnya sangat jernih. Banyak orang yang tampak berenang disana.
"Mau berenang?" tanya Dio saat melihat wajah Karin yang antusias sekali.
"Enggak, Kita juga nggak bawa baju ganti" kata Karin lagi.
"Sini" Dio tiba-tiba sudah menarik tangannya dan mengajaknya turun.
"Mau apa?" tanya Karin bingung saat melihat Dio melepas jaketnya dan menggulung celananya hingga di bawah lutut.
"Airnya jernih, Kau tidak ingin merasakannya?" kata Dio lalu turun ke bawah dan merendam kakinya di air.
Karin tersenyum sedikit dan mengikuti Dio, melepas jaket dan menggulung celana nya lalu ikut bergabung bersama Dio.
"Dingin banget" kata Karin saat kakinya menyentuh air.
"Enggak, Masa begini aja dingin" kata Dio tiba-tiba mencipratkan air itu ke arah Karin.
"Dio! Apa yang kau lakukan" kata Karin kaget saat Dio melakukan itu. Ia tak terima langsung membalas dengan Dio hingga baju pria itu basah kuyup.
"Kau curang, Aku hanya menyiram mu sedikit" kata Dio tampak memprotes.
"Biar, Kau kan yang mulai...sekarang rasakan ini" kata Karin tersenyum jahil lalu kembali menciprati tubuh Dio dengan air.
"Karin! Aku pasti membalas mu" Dio ikut menciptarti tubuh Karin.
Akhirnya mereka berdua malah asik bermain air, Karin tak henti tertawa saat melihat Dio yang sudah basah kuyup. Dio mengulas senyumnya saat melihat Karin yang tertawa seperti itu. Tanpa sadar mereka berdua sudah membuang batasan yang sengaja di bangun oleh keduanya.
"Ayo! Katanya kau mau membalas ku" kata Karin dengan wajah mengejeknya.
"Menantang ku ya? Baiklah.." kata Dio langsung menggendong tubuh Karin dan membawanya ke tengah air yang cukup dalam.
"Dio! Kau mau apa? Turunkan aku" kata Karin mencoba berontak dari gendongan Dio.
"Dio!" teriak Karin begitu wajahnya dan Dio muncul di permukaan.
"Hahahaha....Seru kan" kata Dio tertawa melihat wajah kesal Karin.
"Jadi basah semua kan, Ish" Karin berdecak seraya kembali mencipratkan air ke wajah pria itu.
"Yasudah, Kita naik. Sepertinya akan turun hujan" kata Dio menarik lembut tangan Karin agar berenang ke pinggir.
"Kau sih, nanti gimana pulangnya coba" kata Karin masih menggerutu.
"Gampang, Kau kedinginan?" kata Dio saat melihat wajah Karin yang pucat.
"Udah tau nanya!" kata Karin dengan wajah sebalnya. Ia mengambil jaketnya dan segera memakainya.
"Maaf, Aku akan mencarikan baju ganti untukkmu. Sekarang pakai jaketku dulu" kata Dio mengambil jaketnya dan membalutkan di tubuh Karin.
"Lalu kau? Aku sudah pakai jaket" kata Karin menatap Dio yang juga basah kuyup.
"Tidak apa-apa.." kata Dio tersenyum tipis lalu menggandeng tangan Karin untuk naik ke atas.
Dio mengedarkan padangannya melihat ada beberapa toko makanan, tidak ada toko baju sama sekali. Ia kemudian mengajak Karin untuk mencari minuman hangat.
"Kamu duduk aja dulu" ucapnya mencarikan tempat duduk yang nyaman untuk Karin.
"Iya" Karin menurut saja.
Dio kemudian berlalu untuk memesan minuman, padahal dia sebenarnya cukup kedinginan tapi Dio menahannya. Setelah mendapatkan pesanannya, ia langsung membawanya dan kembali duduk bersama Karin.
"Minumlah, Aku memesan cokelat hangat untukmu" kata Dio memberikan satu cangkir cokelat yang masih mengepulkan asapnya.
"Terima kasih" kata Karin langsung meminum cokelat itu begitu saja membuat lidahnya terasa terbakar, cokelat itu benar-benar panas sekali.
"Aduh..." ucap Karin saat merasakan lidahnya kepanasan.
"Astaga! Kau langsung meminum cokelat mu, kenapa tidak menunggu dingin dulu" kata Dio dengan sigap mengambil air putih dan menyuruh Karin meminumnya.
"Panas..." kata Karin masih merasakan panas di lidahnya.
"Tentu saja, Lain kali jangan seperti itu, Apakah masih sakit?" kata Dio dengan lembut menatap Karin yang tampak salah tingkah karena tatapan mata Dio.
"Sudah tidak, Ehm...kenapa memesan cokelat" kata Karin.
"Suka aja. Kata orang, Cokelat itu bisa buat orang bahagia. Tapi aku sudah menghabiskan banyak cokelat, tetap saja tidak bahagia" kata Dio menatap Karin yang juga menatapnya.
"Kenapa tidak bahagia? Bukankah kau sudah mendapatkan semuanya? Kau juga punya kekasih dan saling mencintai" kata Karin antara perduli dan tidak.
"Yang terlihat belum tentu sama dengan apa yang terjadi" kata Dio sedikit tersenyum kecut.
Karin tak menyahut, ia bingung harus berbicara apa. Jadilah, keduanya tampak diam dengan pikiran masing-masing. Sebenarnya ada banyak sekali yang ingin Dio katakan pada Karin, tapi mulutnya seolah terkunci.
"Apa kau memang tidak bisa memaafkan ku?" kata Dio melirik Karin yang masih diam saja.
"Aku sudah memaafkan mu" kata Karin membuat Dio sedikit kaget.
"Apa kau serius?" tanya Dio langsung memutar tubuhnya hingga melihat jelas wajah Karin.
"Iya, Toh semuanya sudah terjadi dan tak akan bisa di ulangi kembali" kata Karin membuat Dio meraih lengan wanita itu agar menghadap padanya.
"Karin"
"Hm...
"Aku mencintaimu" kata Dio menatap wanita itu sungguh-sungguh.
Happy Reading.
Tbc.