
"Dimana istriku?" tanya Axel dengan wajahnya yang dingin, sorot matanya tampak mengerikan.
"Jawab!" bentak Bram tepat ditelinga orang itu membuat orang itu kaget.
"Aku tidak tau!" jawab pria itu dengan lantang membuat Axel begitu emosi, Tanpa peringatan atau ancaman, Ia menarik pelatuk pis tolnya dan menembak tepat di paha pria itu membuat pria itu menjerit kesakitan.
Bahkan Bram saja kaget saat melihat hal itu, ternyata Axel bukan tipe orang yang suka berbasa-basi.
"Sekali lagi kau mengatakan tidak tau! Aku pastikan seluruh peluru ini akan bersarang di tubuhmu!" Teriak Axel sudah begitu emosinya. Wajahnya tampak tampak memerah karena emosi. Apalagi darah yang sudah mengering di dahi Axel membuat pria itu tampak mengerikan.
"Dilantai dua..Argh...Bisakah kau hentikan ini. Ini sangat menyakitkan" teriak Pria itu menjerit karena darah di pahanya mengucur deras dan terasa sangat nyeri.
Axel yang mendengar itu masih begitu emosi, Ia malah menarik pelatuk pis tol itu lagi dan mengarahkan ke lantai di tengah paha pria itu membuat sang empunya terkejut setengah mati, Pria di depannya ini benar-benar mengerikan.
Anak buah yang lain segera mengamankan orang itu, sedangkan 3 orang lainnya ikut dengan Axel dan Bram naik ke lantai dua.
Mata Axel yang awas menatap sekelilingnya yang kosong. Ia menajamkan telingannya saat mendengar suara wanita yang sangat ia kenal.
"Bella..." Axel berjalan cepat saat mendengar suara itu, Ia sama sekali tidak tau kalau di ruangan itu sudah di pasang perangkap anak buah Ayah Rafael yang tiba-tiba muncul dari segala sisi.
"Brengsek!" umpat Axel dengan gigi gemeletuk menahan amarah. Ia menatap sekelilingnya yang sudah di kepung.
"Sikat!" kata Ketua dari kelompok itu langsung menyerang Axel dan Bram.
Axel sudah di kepung oleh 4 orang, Ia awalnya bisa mudah menjatuhkan dua orang. Tapi kemudian satu orang di belakangnya menarik lehernya menggunakan rantai membuat ia meringis kesakitan. Axel mencoba melepaskan dengan sekuat tenaga, tapi pria di belakangnya pun kalah kuat.
Axel lalu menggunakan menyikut perut orang itu membuat jerat rantai itu terlepas. Axel tak menyianyiakan kesempatan itu, Ia langsung menarik tangan pria itu lalu memban ting tubuhnya ke lantai dengan keras.
"Tuan! Cari Nona Bella" teriak Bram yang kini menindih ketua kelompok itu. Axel mengangguk dan mencari asal suara yang terdengar. Semakin dekat dengan suara itu, Jantung Axel semakin tak karuan.
"Jangan....Aku mohon...Berhenti..." teriak Bella menangis pilu saat Ken sudah berhasil merobek kardigan yang di pakainya.
Di ruangan itu ada banyak sekali pria yang kini menatap Bella dengan tatapan merendahkan. Bella sejak tadi terus memohon namun tak mengehentikan mereka sama sekali.
"Lanjutkan Ken! Setelah ini, Buat dia kehilangan jarinya seperti yang suaminya lakukan pada anakku" kata Ayah Rafael tertawa mengejek membuat Bella semakin ketakutan.
Ken hanya tersenyum dan kini ia sudah memegang kancing baju Bella. Ia sempat menelan ludahnya saat melihat belahan dada yang begitu menggoda, Tapi Ken tak mau terlalu memikirkannya. Ia segera membuka baju Bella sebelum...
"Jangan berani menyentuh istriku!!" Teriak Axel dengan nafas terengah-engah. Wajahnya memerah karena amarah yang sudah di ubun-ubun saat melihat Istrinya di perlakukan seperti itu.
Axel sempat beradu pandang dengan istrinya. Hatinya sangat sakit saat melihat pipi dan hidung istrinya yang berdarah.
Ayah Rafael tampak terkejut, namun ia mengubah menjadi senyuman yang sinis. "Ternyata tamu kita sudah datang" kata Ayah Rafael dengan santainya.
"Tidak akan, Kau sudah membuat aku kehilangan anakku. Jadi, Kau harus merasakan Bagaimana sakitnya kehilangan anak! Ken! amankan dia" kata Ayah Rafael.
Axel yang melihat itu langsung mengambil pis tolnya. Dan mengacungkannya pada Ayah Rafael.
"Tem baklah, Ayo mati bersama" kata Ayah Rafael lalu mengarahkan pis tolnya ke arah Bella.
Axel yang melihat itu kaget bukan kepalang, Ia mungkin rela mati demi Bella dan anaknya tapi. Istrinya tak salah apa-apa, Apalagi anaknya. Bella pun tak kalah kagetnya, Ia semakin menangis karena posisinya saat ini sangat sulit.
"Jangan lakukan apapun pada mereka, Mereka tidak salah apapun. Jika kau ingin membunuh, bunuh saja aku" kata Axel menjatuhkan dirinya kelantai, ia membuang harga dirinya demi anak istrinya. Ia benar-benar kalah.
"Hahahaha, Akhirnya kau menyerah juga Axel! Habisi dia" kata Ayah Rafael tertawa penuh kepuasan saat melihat Axel berlutut di depannya. Ia memerintahkan anak buahnya untuk meng hajar Axel.
"Axel!" Teriak Bella saat melihat tubuh suaminya di tendang, di pukul dengan membabi buta.
Axel tak melawan, Ia hanya menerima pukulan dan tendangan di tubuhnya. Ada sekitar sepuluh orang yang menghajar dirinya membuat Axel tubuh Axel terasa remuk. Darah tampak keluar dari mulutnya saat Ken melesatkan tendangan ke dadanya. Tapi ia masih sadar.
"Hentikan! Aku mohon! Hentikan!!" Bella menjerit dengan sekuat tenaga. Ia menangis keras saat melihat Axel sudah tak berdaya tapi masih di hajar tanpa ampun oleh anak buah Ayah Rafael.
"Lepas..kan..dia" ucap Axel diantara kesadarannya yang masih tersisa. Tubuhnya sudah tergeletak tak berdaya. Bajunya pun basah dengan darahnya.
"Sayangnya, Aku tidak berjanji untuk tidak membunuhnya. Tak kusangka kau begitu bodoh" kata Ayah Rafael dengan senyumnya yang mengerikan.
Axel tentu kaget dengan hal itu, Ia mencoba bangkit dengan sisa tenaganya yang tersisa. Tapi Ken dengan sigap menendang tubuhnya hingga kembali jatuh.
"Axel!!" teriak Bella sungguh frustasi karena menyaksikan tubuh Axel yang di siksa sedemikian rupa tapi ia tak bisa berbuat apapun karena tangannya terikat di tiang itu.
"Tolong jangan bunuh mereka, Bunuh saja aku, maka semua masalah akan selesai. Akulah yang salah disini" kata Axel benar-benar tak perduli apapun lagi. Sudah cukup ia berbuat dosa di dunia ini, jangan sampai istri dan anaknya menanggung dosa dari perbuatan kejinya.
"Sungguh pengorbanan yang mengharukan!" kata Ayah Rafael saat melihat Axel dan Bella melempar pandangan penuh cinta. "Lihatlah, wajah kalian berdua yang memohon padaku. Baiklah, jika itu maumu! Bersiaplah ke Neraka Axel!"
Ayah Rafael tersenyum penuh kemenangan, ia langsung mengarahkan pistol itu ke arah Axel yang berlutut. Axel pun sudah pasrah jika timah panas itu akan menembus tubuhnya. Ia melemparkan senyumnya pada Bella. Setidaknya jika ia mati sekarang, ia masih bisa melihat wajah orang tercintanya.
Sedangkan Bella terus menangis, Ia bergerak pun tak bisa karena ikatan di tangannya. Ia ingin sekali memeluk tubuh ringkih itu.
Duar!!!!!
Happy Reading.
Tbc.