
Karin terlihat begitu sibuk, ia berencana ingin mengirim makan siang untuk Dio. Karin sudah menghubungi Angga bertanya tentang lokasi shooting yang akan mereka datangi, Tapi ternyata Dio sudah kembali ke kantor, jadi Karin ingin memberi kejutan pada suaminya itu.
"Dio pasti seneng banget lihat ini" ucap Karin begitu senang saat sudah selesai membuat cake kecil dan menu makan siang yang Dio sukai, yaitu salmon teriyaki.
Setelah menyusun semua menu ke kotak bekal, Karin segera bersiap dan berdandan secantik mungkin. Sebuah gaun berwarna lilac yang menjadi pilihannya, rambutnya yang panjang ia biarkan terurai karena Dio benar-benar tak memperbolehkan ia menggerai rambutnya.
Karin tiba di kantor suaminya saat menempuh perjalanan sekitar satu jam. Karin tersenyum tipis membayangkan reaksi suaminya nanti, Saat naik lift, ternyata ia bersamaan dengan wanita lain yang tampilannya modis. Wanita itu terlihat sedang berbicara di telepon, Karin awalnya tak perduli, tapi wanita itu berbicara cukup keras.
"Berikan aku nomor ponselnya, Aku akan menghubungi Tuan Dio sendiri, ya aku sudah di kantornya, Kau tau pasti alasanku terlambat. Sutradara tua itu selalu merusak dandanan ku" wanita itu berceloteh seraya terkekeh kecil.
Karin terdiam, ia menatap wanita yang kini sedang menggunakan pakaian yang sangat seksi. Wanita ini pasti akan bertemu Dio dan akan menggodanya.
"Hmmm....Kalau dia ganteng aku mau berkencan dengannya, siapa tau dia bisa menggantikan sutradara itu, jadi aku tidak perlu capek-capek bekerja lagi" Karin tersenyum sinis mendengar celotehan wanita itu. Mereka sudah sampai di lantai tempat kantor Dio, dan wanita itu langsung keluar lift dengan terburu-buru.
"Dia pemain wanita? Woho, bagus dong, Katakan padanya, aku akan menghangatkannya..." Karin masih bisa mendengar suara wanita itu sebelum ikut menyusul keluar.
Ia menatap wanita yang kini sedang melenggak-lenggokkan tubuhnya menuju ruangan Dio itu. Karin pun segera mengikutinya untuk mencegah calon pelakor itu, tapi....
"Nona, Anda tidak boleh masuk, Tuan Dio sedang ada tamu, anda juga belum membuat janji temu dengan beliau" Ucap Resepsionis kantor yang memang belum tau siapa Karin, karena Karin memang belum pernah datang kesini.
"Aku hanya sebentar, aku ingin mengantarkan makan siang" kata Karin menunjukkan kotak bekalnya.
Dua resepsionis itu saling pandang, mereka lalu menatap keseluruhan penampilan Karin.
"Kalau begitu tunggu saja disana Nona" kata Resepsionis itu menunjuk sofa tunggu.
"Apa aku tidak bisa langsung masuk saja, Aku hanya ingin mengantar makanan" kata Karin sedikit menekuk wajahnya. Ia resah memikirkan apa yang pelakor tadi lakukan bersama suaminya.
"Kau ini sudah di biarkan masuk malah ngelunjak ya, udah untung kami tidak memanggil satpam untuk mengusir mu, sudah tunggu saja sana.." kata Resepsionis satunya yang merasa tak suka melihat Karin.
Karin menghela nafas, ia harus tenang dan percaya kalau suaminya tak melakukan apapun, ia akhirnya menurut menunggu di ruang tunggu. Tapi ia mendengar bisik-bisik dari arah dua resepsionis tadi, sepertinya bukan di bilang bisik-bisik karena mereka cukup keras mengucapkannya, sepertinya sengaja agar Karin mendengarnya.
"Mau mengejar Tuan Dio? Huh, mimpi saja"
"Hahaha benar..."
"Dia terlihat cantik sih, kenapa tidak mencari orang lain untuk di godanya.."
"Iya, ini sudah yang keberapa? merepotkan saja, hampir setiap hari ada yang ingin menemui Tuan Dio..."
"Tapi aku yakin, ini juga akan berakhir sama. Kau tau sendiri kan bagaimana dinginnya Tuan Dio dengan para wanita penggoda itu..."
"Hahaha, bener-bener. Penasaran nggak sih siapa wanita yang menjadi istrinya nanti, pasti beruntung banget, Tuan Dio cool gitu..."
Kedua resepsionis itu terus berceloteh membahas Dio. Tapi Karin malah tersenyum tipis, sekarang ia tau satu hal kalau ada banyak wanita yang suka mengejar suaminya, tapi ia juga bangga saat tau suaminya tidak pernah menanggapinya.
Di dalam ruangan, Dio terlihat berbicara serius dengan Angga ketika pintu ruangan di ketuk. Angga segera membukanya.
"Oh, Sherly, Kau sudah datang. Masuklah" kata Angga memberikan jalan untuk Sherly masuk karena dia memang model yang akan membintangi salah satu merek perhiasan.
Sherly mengangguk dan tersenyum simpul, pandangannya lalu beralih pada sosok tampan yang kini sedang fokus dengan laptopnya, seketika saja raut wajahnya berubah saat menyadari kalau pria yang menjadi incarannya itu terlihat sangat gagah dan tampan.
"Selamat siang Tuan Dio" ucap Sherly dengan suara lembutnya. Ia memasang senyum paling indahnya pada Dio.
Dio mendongak saat mendengar suara orang lain. "Selamat siang, Anda terlambat 20 menit Nona Sherly" kata Dio datar saja. Tak terpengaruh dengan senyum memikat yang Sherly berikan.
"Ah, ya Maaf Tuan Dio. Anda tau bagaimana macetnya Jakarta bukan" kata Sherly tertawa manja menggoda.
"Baiklah, Kita bisa langsung saja membahas pekerjaan ini" kata Dio to the point'. Ia melirik Angga yang juga sudah duduk di tempatnya.
Sherly pun segera ikut duduk di depan Dio, karena mereka duduk di sofa, Sherly sengaja memasang pose yang semenarik mungkin dan memamerkan tubuh indahnya.
"Jadi bagaimana Tuan Dio? Apakah saya sudah masuk kedalam kriteria model yang anda cari?" tanya Sherly.
"Ya, Anda memang sudah memenuhi kriteria model yang kami inginkan. Saya juga sudah memilih beberapa model perhiasan yang akan anda promosikan, mungkin anda bisa melihatnya" kata Dio menunjukkan laptopnya.
Sherly terdiam sesaat, ia lalu melirik Angga yang masih disana. Sherly merasa tidak leluasa jika ada orang lain yang ia rasa cukup menggangu.
"Ehm, Aku sangat haus. Bolehkah aku meminta minum?" kata Sherly memandang Dio.
Dio sedikit mengerutkan dahinya tapi ia mengangguk. "Angga, ambilkan minum untuk Nona Sherly" ucapnya langsung.
"Baiklah" sahut Angga segera bangkit dan untuk melaksanan tugasnya.
Sherly mengulas senyum tipis saat melihat kepergian Angga. Ia lalu kembali menatap Dio yang menatapnya dingin, tapi entah kenapa membuat ia merasa senang. Ia membayangkan kalau Dio pasti akan sangat ga nas di ranjang.
"Oh, ini modelnya ya, aku akan melihatnya" ucap Sherly sedikit menunduk untuk melihat perhiasan di laptop. "Menurut anda mana yang bagus Tuan Dio?" ucap Sherly.
"Semuanya bagus, Tapi aku merasa ada kalung yang cukup unik, kalung ini aku rasa akan menjadi booming jika kita berhasil mempromosikannya" kata Dio menggeser layar laptop untuk mencari kalung yang di maksud.
"Benarkah? yang mana?" kata Sherly memilih bangkit dan berganti duduk di sebelah Dio. Ia ikut memandang layar laptop dengan sengaja mendekatkan dirinya.
"Yang ini, Kalung ini memiliki batu berlian yang cukup langka" kata Dio tak begitu perduli dengan Sheryl.
"Pilihan anda sangat bagus Tuan Dio, Anda memang yang terbaik" kata Sherly terkekeh riang.
Happy Reading.
Tbc.