
Dio ingin menjawab namun melihat seseorang yang datang membuatnya terdiam. Ia hanya menatap tajam pria yang kini berjalan kearahnya.
Sedangkan Kedua sahabat Bella itu tampak kaget melihat Axel yang ada di sana? Untuk apa pikirnya?.
"Brengsek!" maki Dio langsung menerjang tubuh Axel yang baru saja sampai.
Axel tak terima balas memukul Dio hingga terjatuh. "Sialan! Gue nggak punya urusan sama lo" bentak Axel mengusap bibirnya yang belum sembuh kini harus berdarah lagi karena ulah Dio.
"Udah! Kalian ini apa-apaan. Bella lagi berjuang di dalam sana tapi kalian malah ribut kayak gini" ujar Tiara menengahi agar Axel dan Dio tak lagi ribut.
"Kalau sampai terjadi sesuatu sama Bella, lo bakal habis sama gue" kata Dio masih sangat kesal sekali karena tak bisa membalas Axel.
"Cih!" Axel hanya berdecih mendengar ancaman Dio.
"Kak Axel ngapain disini? Jangan bilang kalau kakak yang udah buat Bella seperti ini?" Karin tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya.
"Lo apaan sih rin, sempet banget ya lo nanya hal semacam ini disaat kek gini" sergah Tiara merasa Karin tak tau tempat menanyakan hal seperti ini.
Karin mengigit bibirnya, meskipun sudah jelas apa hubungan Axel dan Bella, tapi tetap saja hatinya merasa tidak terima dan ingin mendengar langsung dari mulut Axel. Pintu ruangan yang terbuka membuat perhatian mereka teralihkan.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Axel langsung.
"Maafkan saya Tuan, kami tidak bisa menyelamatkan bayi anda. Bayi anda sudah meninggal dalam kandungan karena Istri Anda terlalu banyak mengeluarkan darah. Maafkan kami" kata Dokter Evelyn membuat semua orang kaget.
"Anak saya tidak bisa diselamatkan dok?" Axel seperti linglung saat menanyakan hal itu. Nada suaranya tak bertenaga. Nyawanya seolah tercabut dari raganya.
"Iya Tuan, kami sudah berusaha tapi maaf, Anak anda tidak bisa kami selamatkan" kata Dokter Evelyn lagi.
"Bagaimana keadaan Bella?" tanya Tiara.
"Ya Dokter, bagaimana keadaan istri saya? Dia baik-baik saja kan?" tanya Axel.
"Keadaan istri anda stabil tapi sekarang masih lemah. Mungkin beberapa jam kedepan sudah bisa sadar" jelas Dokter Evelyn lagi membuat Axel sedikit lega.
****
"Bella..." ucap Axel menatap wanita yang dicintainya berbaring tak berdaya dengan hati tersayat.
Bahkan air matanya tiba-tiba meleleh begitu saja membanjiri wajahnya. Padahal selama hidupnya Axel tidak pernah menangis meskipun seberat apapun cobaan yang dilalui. Tapi kini ia harus kehilangan anaknya dan wanita yang pagi tadi masih berada di pelukan nya berbaring tak sadarkan diri.
"Bella, Bangunlah.. Apa kau tidak ingin melihat anak kita.." Axel mencium kedua tangan Bella yang kini sudah basah karena air matanya.
Ceklek
Terlihat Tiara datang dengan wajah yang memerah karena ia juga baru saja menangis. Tapi ada hal yang ingin ia sampaikan kepada Axel.
"Kak Axel, Suster mengatakan kalau jenazah anak kalian sudah bisa dibawa" kata Tiara dengan suara seraknya. Ia sangat sedih melihat sahabatnya seperti ini.
Axel mengigit bibirnya untuk menahan tangis. Ia tak boleh lemah seperti ini, Bella butuh pendamping yang kuat. "Baiklah, aku akan segera kesana" ucapnya pada Tiara.
"Hei, aku akan mencarikan tempat ternyaman untuk anak kita. Segeralah bangun agar aku bisa membawamu kesana" kata Axel mengecup lembut kening Bella sebelum pergi untuk mengurus anaknya.
****
Saat diruang jenazah Axel melihat seorang bayi perempuan yang begitu kecil. Tubuhnya membiru dan sudah tak bernyawa lagi. Demi Tuhan tidak ada yang lebih menyakitkan dari apa yang Axel rasakan saat ini. Ia mengumpulkan keberanian untuk menyentuh tubuh anaknya yang kecil, sangat kecil sekali. Tangannya gemetar saat menyentuh darah dagingnya. ia langsung memeluk anaknya erat hingga air matanya yang mengalir semakin tak tertahankan.
Tepukan dibahunya membuatnya seketika menoleh melihat Ayahnya yang baru saja datang saat mendengar apa yang terjadi.
"Tegakkan kepalamu. Ini bukan waktunya menyalahkan diri sendiri. Ini semua sudah takdir dari yang maha kuasa Axel" kata Indra Jaya mengusap punggung anaknya.
"Ayah, apakah ini semua karmaku? Kenapa harus anakku yang harus menanggungnya. Dia bahkan belum sempat melihat Mamanya" kata Axel lagi dengan suara beratnya. Indra Jaya tak bisa menjawab karena ia pun turut larut dalam suasana.
****
Axel merebahkan anaknya disamping Bella yang masih enggan membuka matanya. Ia menatap keduanya bergantian dengan perasaan pilu. Rasanya Axel begitu tersiksa melihat ini semua, dadanya terasa sesak hingga kesulitan bernafas.
"Bangunlah, aku membawa anakmu.." bisik Axel dengan bibir gemetar.
"Gwenyth Kiamora Leander, Aku memberi nama itu untuk putri kita. Nama yang berarti putri cantik yang kuat dan berani. Dia sangat kuat dan cantik sepertimu Bella, apa kau tidak ingin melihatnya" kata Axel lagi namun rasanya sia-sia karena Bella masih tak merespon apapun.
"Axel, Sudah nak. Kita harus segera memakamkan anakmu karena diluar mendung" ujar Indra Jaya sangat tak tega melihat anaknya begitu hancur.
Axel mengusap kedua matanya yang basah dan mengiyakan apa yang di katakan ayahnya.
****
Bahkan alam pun seperti berduka saat Axel membawa putri kecilnya ke pemakaman. Tangannya gemetar saat memasukan anaknya ke peristirahatan terakhirnya. Tak banyak orang yang datang. Hanya ada Ayah, Para sahabatnya yang baru saja mendapatkan kabar pun turun hadir. Juga Dio, Karin dan Tiara beserta Bram asistennya.
"Be strong Bro..." ucap Jofan memberi tepukan pelan pada pundak sahabatnya.
"Terima kasih" kata Axel seadanya.
"Tidak pulang?" tanya Indra Jaya yang melihat anaknya masih bergeming ditempatnya. Awan gelap tampak menghiasi. "Sebentar lagi hujan, Bella pasti mencarimu nanti" kata Inda Jaya lagi.
Axel mengangguk, ia mengelus nisan anaknya penuh sayang sebelum beranjak kembali kerumah sakit.
"Papa pulang dulu .."
****
Tamara tampak menenangkan Bella yang menjerit histeris saat bangun tidur dan mengetahui anaknya sudah tiada. Axel yang baru saja dari pemakaman langsung memeluk tubuh Bella dengan erat, menyembunyikan wajahnya dalam-dalam di leher Bella. Tamara langsung membuang muka melihat Bella dan Axel mencoba saling menguatkan dengan berlinang air mata.
"Anak kita sudah tenang disana" ujar Axel disela isakkannya.
Tangis Bella langsung pecah mendengar perkataan Axel. Jadi anaknya benar-benar telah meninggalkannya?. Apakah ini balasan karena ia dulu begitu ingin menghilangkannya. Kenapa sekarang rasanya begitu menyakitkan.
"Ini semua salahku. Anak kita pergi karena aku" kata Bella meraung.
"Nggak.. Nggak.. Kamu Mama terbaik di dunia ini. Kamu Mama terkuat yang Gwen punya" kata Axel mengecup kepala Bella berkali-kali.
"Gwen? Itukah nama anak kita?"
"Ya, putri kecil kita Bella. Dia sangat cantik seperti dirimu. Segeralah sembuh agar kita bisa mendoakannya sama-sama"
Happy Reading
TBC