MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Salah Paham.



Karin mengerutkan dahinya merasa ucapan Dio terdengar sangat dingin itu. Ia menatap Dio yang wajahnya benar-benar tak enak di lihat.


"Ya, biasanya Abang pulangnya kan malem, makanya aku heran" kata Karin seadanya.


"Apa kau senang kalau aku pulang malam terus? Agar kau bisa dengan seenaknya keluar dengan laki-laki lain" kata Dio kini menatap Karin tajam dan serius.


"Apa maksud Abang? Aku nggak ngerti" kata Karin menggelengkan kepalanya.


"Tidak usah pura-pura tidak tau. Aku nggak nyangka kamu bakal ngelakuin ini ke aku" kata Dio membuat Karin semakin bingung.


"Abang ngomong apa sih? Aku emang baru aja keluar, aku dari rumahnya Bella" kata Karin menjelaskan.


"Jangan bohong kamu!" kata Dio dengan suara meninggi. Karin tersentak kaget mendengar suara Dio yang sangat keras itu, ini adalah pertama kali Dio membentak dirinya.


"Aku nggak bohong! Aku emang dari rumah Bella, Abang nggak percaya sama aku?" kata Karin lagi.


Dio tersenyum sinis mendengar ucapan Karin. "Bagaimana mungkin aku percaya padamu, jelas-jelas kau sudah membohongiku Karin. Kau baru saja keluar dengan pria lain tanpa sepengetahuanku!" kata Dio mengambil ponselnya dan menyerahkan pada Karin dengan kasar.


Karin semakin kaget mendengar itu, ia kemudian membuka ponsel Dio dan seketika matanya membesar saat melihat foto dirinya dan Yuda saat berpelukan tadi.


"Abang dapat foto ini darimana? Aku bisa jelaskan" kata Karin mencoba menjelaskan. Pantaslah Dio terlihat marah karena pria itu pasti salah paham.


"Nggak penting aku dapat darimana, Semuanya udah jelas kalau kamu pergi dengan pria itu. Kenapa kau melakukan itu? apakah menurutmu ini pantas dilakukan oleh wanita yang sudah bersuami?" kata Dio semakin meninggikan suaranya hingga ke penjuru rumah terdengar.


"Tapi ini nggak seperti yang Abang lihat. Aku tadi di mall bersama anak-anak Bella juga, tapi aku nggak sengaja ketemu kak Yuda, Aku juga bingung kenapa kak Yuda tiba-tiba memelukku" kata Karin mengatakan segalanya.


"Dan kau membiarkan saja pria itu memelukmu? Apakah kau tidak berpikir bagaimana perasaanku? Oh, aku tau, kau mungkin memang sengaja melakukannya karena kau masih marah padaku karena masalah kemarin kan? Apa sekarang kau mulai muak dan ingin berpaling dengan pria lain?" kata Dio masih begitu marah, tubuh dan pikirannya sangat lelah ditambah melihat foto yang membuat hatinya memanas membuat Dio tak bisa mengontrol ucapannya sendiri.


"Jadi menurut Abang aku sengaja melakukannya?" kata Karin menahan emosinya saat Dio menuduhnya seperti itu.


"Jika tidak kenapa kau membiarkannya memelukmu? Caramu yang tidak menolaknya itu sudah membuktikan segalanya kalau kau memang berselingkuh dengannya" kata Dio kini memandang Karin sangat tajam.


Karin mengertakkan giginya, wajahnya berubah kesal dan tak terima Dio mengatakan hal itu.


"Aku sudah menolaknya! Kau menuduhku selingkuh hanya karena melihat foto. Dio, kau tidak tau yang sebenarnya terjadi disana" kata Karin langsung membela dirinya, ia tak ingin menuduhnya selingkuh.


"Aku sudah tau semuanya! Dan berhentilah mengelak Karin! Aku kali ini masih memaafkan mu, tapi jangan pernah menemui pria itu lagi" kata Dio memegang kedua lengan Karin dengan keras, nyaris seperti cengkraman membuat Karin kesakitan.


"Tidak ada yang perlu di maafkan. Aku tidak bersalah dalam hal ini, Dan aku tegaskan lagi padamu, Dio! AKU TIDAK SELINGKUH!!!" Teriak Karin mendorong tubuh Dio dengan kasar dan berlari masuk kedalam kamarnya. Ia menangis sejadi-jadinya disana.


******


Dio tak ingin memikirkannya, kepalanya kini bahkan ingin pecah karena masalah yang bertubi-tubi menyerang dirinya. Untuk kasus tuntutan Elvan itu tak di khawatirkan, tapi sengketa lahan perkebunan itulah yang membuat Dio ketar-ketir.


Mendiang Papa Abimanyu memang membeli tanah itu dengan legal secara hukum, tapi dulu hanya menggunakan surat tertulis karena belum ada sertifikat, sekarang Dio harus mencari cara untuk membuat semuanya kembali seperti semula. Dio tak ingin nama Papanya tercemar karena masalah ini, karena Dio tau bagaimana Papa Abimanyu sangat bekerja keras sampai perusahaannya menjadi sebesar ini.


"Angga, Kapan jadwalku persidangan itu?" Dio segera menghubungi Angga untuk mengatur strategi untuk mengalahkan para warga itu.


"Lusa sidang gugatan itu akan dibacakan, Aku sudah mencari beberapa bukti, tapi sepertinya ini akan cukup sulit, Orang-orang itu membayar warga sangat mahal Dio" kata Angga di seberang sana. Ia pun tak kalah sibuknya dengan Dio, malah bisa di bilang, ia yang paling sibuk karena harus mengurus masalah ini dan juga perusahaan.


"Pasti Elvan yang melakukannya" kata Dio ingin sekali menemui pria itu dan menghajarnya habis karena sudah membuat kekacauan ini.


"Bisa jadi, warga itu tak ingin mengaku dan cukup sulit untuk di ajak kerja sama"


"Baiklah, apapun itu, aku ingin masalah ini segera selesai, Hubungi aku kalau ada kabar lagi" kata Dio sesaat sebelum mematikan sambungan telepon itu.


Dio kemudian beranjak dari ruang tengah untuk melihat keadaan Karin karena wanita itu belum turun sejak tadi sore. Meskipun ia marah, ia tak bisa mengabaikan wanita itu begitu saja. Dilihatnya Karin yang masih meringkuk dalam selimutnya, mata wanita itu tertutup, tapi Dio yakin kalau istrinya itu tidak tidur.


"Kau tidak ingin makan dulu?" ucapnya dengan suara tak sekasar tadi, tapi juga tidak bisa di katakan lembut.


Karin tak menggubrisnya, ia benar-benar marah pada Dio kali ini karena menurutnya Dio benar-benar keterlaluan karena sudah menuduhnya berselingkuh. Perkataan Dio sungguh menyakiti hati Karin kali ini, Apalagi Dio sama sekali tak percaya padanya.


Dio menghela nafasnya melihat aksi diam Karin. Tanpa mengatakan apapun, ia kemudian bangkit dari kasur dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


******


Setelah kejadian itu, hubungan Dio dan Karin benar-benar canggung dan asing. Baik Dio maupun Karin tak ada yang mau mengalah sama sekali. Tinggal di rumah yang sama tapi seperti orang yang tidak saling mengenal, sebenarnya Dio masih mengajak Karin bicara, tapi Karin hanya menjawabnya pendek-pendek dan singkat.


"Aku hari ini mungkin ke Kalimantan lagi, Kamu mau di rumah aja atau ke rumah Mama, nanti aku antar sekalian?" Dio berkata pada Karin saat mereka berdua sedang sarapan.


"Aku bisa kesana sendiri" kata Karin ketus tanpa melirik Dio sama sekali.


"Bisakah kau hentikan tingkahmu itu?Seharusnya aku yang lebih marah padamu karena masalah itu, kenapa kau seperti ini" kata Dio memandang Karin yang kini menatapnya sengit.


"Lalu kenapa kau tidak memarahiku? Bukankah aku memang salah, aku wanita yang tukang selingkuh kan?" kata Karin menghempaskan sendok dan garpunya dengan kasar.


Hal itu tentu membuat Dio sangat kesal, tapi ia menahannya. "Aku berangkat! Jangan dirimu baik-baik" kata Dio segera pergi darisana untuk menghindari Karin. Karena terpancing sedikit saja, bisa di pastikan kemarahannya akan meledak.


Happy Reading.


Tbc.