MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
True Friends Stab You In The Front



Jika ditanya apa yang sangat menyakitkan di dunia ini? Karin akan menjawab dengan lantang kalau tidak ada hal yang lebih menyakitkan selain melihat orang yang kita cintai memilih orang lain. Apalagi jika itu orang yang sangat kita kenal. Hati Karin begitu hancur saat mengetahui kenyataan kalau Pria yang dicintainya telah menikah dengan sahabatnya.


Entah apa yang terjadi sehingga membuat keduanya menikah. Karin tak ingin tau alasannya. Yang jelas ia bisa melihat kalau Axel begitu mencintai Bella, terbukti saat Karin tak sengaja melihat Axel yang menangis di samping Bella. Ia juga turut simpati dengan apa yang di alami sahabatnya itu, Tapi untuk bersikap biasa saja rasanya Karin belum bisa. Hatinya masih terlalu sakit untuk menerima semua ini.


"Lo mau sekalian njenguk Bella nggak?" tanya Tiara saat mereka baru saja pulang dari pemakaman anak Bella.


"Sekarang?" Kata Karin entah kenapa enggan sekali untuk bertemu dengan sahabatnya itu.


"Iya, gue nggak tenang kalau belum lihat dia" sahut Tiara lagi.


"Gimana kalau besok aja? Sekarang udah mendung, gue juga mesti balik ke sekolahan buat ambil mobil" kata Karin mencoba menolak dengan cara halus.


Tiara menatap Karin yang terlihat begitu murung. Ia tau sahabatnya ini pasti sangat terluka. "Lo inget nggak awal kita jadi sahabat?" ucap Tiara tiba-tiba.


Karin tak menyahut, tentu dia sangat ingat bagaimana persahabatan mereka bertiga di awali. Waktu itu mereka sebenarnya adalah musuh bebuyutan, ralat. Dia dan Tiara yang memusuhi Bella karena menganggap Bella itu sok cantik menurutnya.


"Dia belagu banget sampai buat kita ilfil" ucap Tiara menggelengkan kepala mengingat sikap Bella yang sombong dan manja. Karin masih diam.


"Tapi waktu lo di bully habis-habisan sama anak kelas lain dia malah yang maju duluan untuk Belain elo" sambung Tiara lagi.


Ingatan Karin melayang saat mereka masih duduk di bangku SMP. Waktu dulu, penampilan Karin sangatlah jauh berbeda dari sekarang. Karin yang dulu adalah Karin si gadis culun yang selalu memakai kaca mata tebal. Karin sering jadi bulan-bulanan karena penampilannya yang kuno. Saat itu hanya Tiara yang mau berteman dengannya karena orang tua mereka sudah bersahabat lama.


Sepertinya kasus Bullying sudah menjadi hal biasa bagi remaja jaman sekarang. Hal itu menjadi momok menakutkan bagi anak yang lemah dan tidak berani melawan.


"Lo tau? Wajahmu itu sebenarnya lumayan. Tapi sayang sekali penampilanmu sangat kampungan. Lo bisa menggerai rambutmu , dan buang pagar gigimu. Pokoknya tinggalkan semua yang kuno ini. Saran saja, jika kau merubahnya mungkin anak-anak nggak akan ngeremehin lo. Buat mereka sadar kalau lo bisa lebih hebat dari apa yang mereka katakan"


Kata-kata Bella waktu itu membuat penilaian Karin terhadap Bella berubah. Bella yang dikiranya sombong ternyata mempunyai sifat yang membuat Karin kagum. Meskipun Bella terkesan sombong tapi ia tak pernah menghina orang lain. Bella sangat tak suka jika ada orang yang menghina fisik atau derajat orang lain. Karena bagi Bella semua sama dimatanya tak perlu ada yang dibeda-bedakan.


"Gue selalu inget dan nggak akan ngelupain hal itu" ucap Karin membuat Tiara tersenyum.


"Jadi, Kita tetep sahabatan kan?" tanya Tiara hati-hati.


"Maybe No, Maybe Yes" kata Karin mengangkat bahunya.


"Why?"


"Gue masih kesel sama dia, Gimana bisa punya masalah segini gedenya tapi dia nggak cerita. Dia pikir kita nggak bisa bantu apa" omel Karin mengingat ke keras kepala an Bella.


"Bella pasti punya alasan lain. Lagian gue juga kasihan banget lihat dia kayak gini, pasti dia terpukul banget" kata Tiara.


"Gue juga kasihan, tapi juga kesel"


"Lo kesel gara-gara nggak di kasih tau kalau dia hamil atau karena hal lain?"


"Ya dua-duanya sih. Tapi bagaimanapun juga cinta nggak bisa di paksain Ra. Sekuat apapun gue berjuang ujung-ujungnya tetep aja sakit hati" kata Karin mencoba berfikir logis. Lagipula Axel juga belum tentu mencintainya. Dia harus sadar diri kalau wanita yang mengambil hati pria itu adalah sahabatnya sendiri.


"Lo bener sih. Gue pikir lo bakalan marah sama Bella" kata Tiara membuat Karin melirik malas.


"Gue nggak se egois itu Ra" sahut Karin mencibir.


"Itu baru namanya sahabat gue" kata Tiara langsung merangkul bahu Karin.


****


Seminggu berlalu keadaan Bella sudah membaik dan dia di izinkan pulang. Sebelum mengajaknya pulang ke rumah. Axel lebih dulu mengajak Bella ke makam anaknya. Keduanya berjalan beriringan, Bella bisa melihat sebuah gundukan kecil yang berjajar tapi di sana.


"Hai Gwen, Ini Papa. Hari ini Papa bawa Mama kesini" ucap Axel duduk berjongkok. Dia berbicara seolah sedang menyapa anaknya.


Tangan Bella bergetar saat menyentuh gundukan tanah yang masih basah. Pandangannya beralih pada nisan anaknya dan tangisnya langsung pecah.


"Aku bahkan belum sempat menyentuhnya" ucap Bella dengan air mata berderai.


"Maafkan Mama tidak bisa menjagamu. Kenapa harus kamu Gwen? Apa kamu sedang memberi Mama hukuman karena dulu Mama selalu menolak kehadiranmu" kata Bella mulai tak jelas. Hatinya sangat sakit sekali melihat makam kecil tempat buah hatinya beristirahat.


"Jangan bicara seperti itu, Gwen pasti tidak akan menyukainya" Axel membenamkan kepala Bella di bahunya.


Bella masih terisak dan Axel setia menenangkan Bella dengan menepuk punggungnya. Saat sudah tenang Bella kembali melihat makam anaknya.


"Ayo kita pulang" ajak Axel.


"Aku ingin disini.." kata Bella tak rela rasanya meninggalkan buah hatinya sendiri.


"Bella, kita bisa kesini kapan pun" ujar Axel mencoba membuat Bella mengerti.


Bella masih tak rela tapi ia tak mungkin terus disini. Apalagi luka bekas melahirkannya belum sembuh. Bella mengusap kedua matanya yang basah lalu menatap Axel yang sangat sabar menunggunya.


"Mama pulang dulu. Nanti Mama kesini lagi"


Dengan kaki gemetar Bella beranjak, rasanya ia benar-benar tak rela. Bahkan berulang kali ia menengok ke makam anaknya seakan tak mau pergi dari sana.


Bella langsung disambut hangat kedua orang tuanya dan orang tua Axel. Mereka sudah berkumpul ke rumah yang baru. Sebenarnya Mama Anita menyuruh Bella tinggal dirumahnya, Tapi Papa Nugraha seolah memberi ruang bagi Axel dan Bella yang baru.


"Yang sabar ya sayang" Mama Anita menjadi orang pertama yang memeluk Bella penuh kerinduan.


Kesibukan di Bandung benar-benar menyita waktu mereka hingga sampai tak ada waktu untuk anaknya.


"Terima kasih Ma" kata Bella masih dengan suara seraknya.


Setelah mengobrol sebentar, Bella di ajak Axel ke kamar untuk istirahat karena tubuh Bella belum benar-benar pulih. Axel menata bantal agar Bella nyaman.


Axel menemani wanita itu sampai tertidur pulas, mungkin karena efek obat dan kelelahan, Bella menjadi cepat tidur. Saat memastikan Bella sudah benar-benar tidur, Axel segera turun dari ranjang dan memberikan kecupan hangat di kening Bella sebelum mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Bagaimana?" Ucap Axel datar tak bernada.


"Sesuai perintah, Kita berhasil mendapatkannya"


Happy Reading


TBC