
Dio dan Angga tampak masih mengobrol di taman, mereka banyak membahas tentang pekerjaan yang sudah cukup lama Dio tinggalkan. Tapi meskipun begitu, tak ada yang perlu di khawatiran karena kondisi perusahannya kini masih stabil, bahkan setiap bulan pendapatannya semakin bertambah.
"Bagus, kau memang sudah bisa di andalkan" kata Dio sedikit tersenyum saat Angga mengatakan tentang perusahannya.
"Ya, tapi sekarang aku menjadi lebih sibuk, bahkan aku tak punya waktu untuk makan, Kau kapan akan pulang, Aku ingin mengambil cuti" kata Angga.
"Cuti apa?" Dio mengerutkan dahinya.
"Tentu saja cuti menikah" kata Angga membuat Dio kaget.
"Siapa yang menikah?" kata Dio.
"Ak....
"Dio!! Angga!!!" Kedua pria itu langsung menoleh saat mendengar suara teriakan Tiara.
Dio bahkan langsung meloncat dari kursinya, ia bergegas lari karena ia tau kalau pasti terjadi sesuatu dengan istrinya. Sesampainya di ruang tengah, pandangannya langsung tertuju pada Karin yang mencoba mengatur nafasnya.
"Karin? Kamu kenapa?" tanya Dio mendatangi istrinya dengan raut wajah khawatir yang tak di sembunyikan.
"Karin sepertinya mau melahirkan Dio" sahut Tiara mewakili.
"Astaga, Ayo. Apakah sudah terasa?" kata Dio semakin memandang Karin cemas.
"Sudah, tanda- tandanya seperti yang dokter katakan" kata Karin menahan rasa nyeri yang kembali menyerang, terkadang juga hilang begitu saja.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang" kata Dio langsung sigap.
"Iya...aduh..." Karin kembali mengadu saat tiba-tiba rasa sakit itu datang kembali.
"Apakah sakit sekali? Kau masih bisa berjalan?" kata Dio lagi.
"Bisa, nyerinya kadang ada, kadang hilang" kata Karin.
"Kita akan ke dokter, Angga, tolong bawakan mobilku, Tiara disini dulu tidak apa-apa kan? Di rumah sakit biasanya tidak boleh terlalu banyak orang" kata Dio memandang Angga dan Tiara bergantian.
"Iya, nggak apa-apa, kamu bawa Karin aja" kata Tiara mengangguk setuju.
"Baiklah, Ayo sayang, aku akan membantumu" kata Dio memegang tangan istrinya lalu menuntunnya untuk masuk kedalam mobil.
Angga langsung tau tugasnya, ia membukakan mobil pintu untuk Karin, setelah wanita itu aman di posisinya, Dio segera masuk begitupun Angga yang langsung membawa mobil itu ke rumah sakit.
Selama di perjalanan, Karin kembali merengek saat rasa sakit itu kian menjadi, ia bahkan beberapa kali me re mas lengan Dio untuk menyalurkan rasa sakitnya.
"Abang....sakit...." rengek Karin lagi.
"Sabar sayang...Kita akan segera sampai" kata Dio.
"Sakit......" Karin terus saja merengek membuat Dio semakin tak tega melihat istrinya.
Setalah cukup lama perjalanan, akhirnya mobil mereka sampai di rumah sakit, Dio langsung turun dan membantu istrinya. Setelah di periksa dokter, ternyata Karin sudah pembukaan lima, wanita itu sudah berbaring di ruang persalinan dengan Dio yang selalu mendampinginya.
Berjam-jam Dio menunggu dan melihat bagaimana tersiksa Karin saat rasa sakit itu menyerang, ia membiarkan seluruh badannya menjadi sasaran saat Karin kesakitan, baginya rasa sakit itu tak sebanding dengan apa yang di alami istrinya.
"Apakah sakit sakit sekali?" kata Dio benar-benar tak tega melihat wajah Karin yang pucat dengan keringat dingin yang membasahi.
"Aku tidak akan meminta anak lagi nantinya" kata Dio tak ingin lagi melihat istrinya kesakitan seperti ini.
"Kenapa? Dia akan kesepian nanti" tanya Karin terlihat lebih rilex saat rasa sakit itu kembali hilang.
"Tidak, kita berdua yang akan menemaninya" kata Dio lagi.
Karin tersenyum mendengarnya, tapi sesaat kemudian ia kembali meringis saat perutnya kembali nyeri, bahkan kian menjadi membuat Dio langsung memanggil Dokter kandungan yang sudah bersiaga.
"Pembukaannya sudah lengkap, sekarang waktunya Nyonya, kalau saya bilang dorong baru mengejan, kalau tidak jangan ya, atur nafas anda" kata Dokter memberi instruksi.
Dio tak berani melihat apa yang Dokter lalukan pada istrinya, namun telinganya menangkap jelas percakapan Dokter yang membuat tubuhnya seperti bergetar, Dio terus menggenggam tangan Karin dan melihat bagaimana istrinya berjuang dengan keras melahirkan anak mereka, Dio bersumpah tak akan menyakiti wanita selama hidupnya, wanita yang sudah mempertaruhkan nyawa untuk anaknya.
"Sedikit lagi Nyonya, ya baguss....Dorong" kata Dokter lagi.
Karin kembali mengejan sekuat tenaga, kali ini dengan segala tenaganya yang tersisa hingga pada akhirnya tangis bayi perempuan pecah dan Karin langsung lemas. Dio kaget saat melihat bayi berlumuran darah di letakan di dada istrinya, itu anaknya? Buah hati mereka.
"Terima kasih, Terima kasih sayang, Kamu sudah berhasil menjadi Mami...Aku cinta sama kamu" kata Dio memberikan ciuman di seluruh wajah Karin yang terlihat basah.
Karin tersenyum namun juga menangis secara bersamaan, ia lega karena anak mereka lahir dengan selamat. Dokter disana segera sibuk, membersihkan semuanya, termasuk memandikan anak mereka lalu kembali menyerahkannya pada kedua orang tua baru itu.
"Tuan, Nyonya, Ini bayi anda, Bayi perempuan yang sangat cantik, Selamat ya" kata Dokter menyerahkan buntalan kecil ke tangan Dio yang gemetar saat pertama kali menyentuh anaknya.
Anaknya terlihat sangat putih, tubuhnya pun tampak sangat montok dan sehat, rambutnya sangat lebat dan memiliki bibir kecil yang lucu sekali.
Mata Dio berkaca-kaca saat melihat makhluk kecil yang langsung membuatnya jatuh cinta, ia kini sudah resmi menyandang predikat baru, yaitu seorang Ayah.
"Sayang, Anak kita" kata Dio mendekatkan putri kecil mereka ke arah Karin.
"Siapa namanya?" kata Karin menahan tangisnya saat melihat anak mereka, rasa sakitnya seolah terbayarkan saat melihat anak mereka lahir dengan sehat.
"Queensha Jingga Oceana" kata Dio tersenyum memandang istri dan anaknya bergantian. Rasanya hidupnya kini sudah sempurna.
"Apa artinya?" kata Karin.
"Queensha artinya ratu, Oceana lautan, Sedangkan Jingga warna indah yang ada di saat matahari akan tenggelam, Aku ingin putri kita nanti menjadi ratu yang cantik seperti warna Jingga dan memiliki hati seluas lautan" kata Dio menjelaskan.
"Namanya bagus, Jingga" kata Karin gemas ingin mencium anaknya.
"Nona, setelah ini putri anda akan di berikan imunisasi awal, jadi saya harus membawanya dulu ke ruang imunisasi anak" kata seorang perawat mendatangi mereka.
"Oh baiklah" kata Karin tak rela sebenarnya jika anaknya akan di bawa, tapi ini semua demi kesehatan anaknya juga.
"Aku akan menemani putri kita" kata Dio mencium kening Karin sekilas lalu menyusul perawat yang sudah lebih dulu keluar ruangan.
Dio mengikuti perawat itu menyusuri lorong rumah sakit yang panjang, Tapi saat sampai di lorong yang menghubungkan ruang persalinan dan unit depan tiba-tiba ada seseorang yang mengambil anak Dio dengan paksa dari tangan perawat itu.
Mata Dio membesar melihat hal itu, ia semakin kaget saat melihat siapa orang yang mengambil anaknya.
Happy Reading.
Tbc.