MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Rencana Honeymoon.



Pagi menyingsing cepat menggerus gelapnya malam berganti sinar matahari yang begitu cerah. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 saat Bella terbangun, ia bergegas mandi dan berpakaian sebelum suami mesumnya itu bangun. Saat ia sudah selesai mandi dan berdandan barulah ia membangunkan suaminya.


"Sayang, Bangun" ujarnya menggoyangkan pelan lengan Axel tapi suaminya itu hanya menggeliat saja.


"Masih pagi, Tidur lagi aja, sini" Axel hanya bergumam seraya menepuk-nepuk kasur disisinya bermaksud untuk menyuruh Bella tidur di sana.


"Apanya yang masih pagi, Ini sudah siang, Semua orang sudah menunggu kita untuk sarapan" kata Bella tak terpengaruh dengan ajakan suaminya.


"Biarkan saja" sahut Axel masih acuh saja membuat Bella jengkel.


"Kalau kau tidak mau yasudah! Aku akan kesana sendiri" gerutu Bella kesal karena Axel malah memejamkan matanya lagi.


Mendengar suara istrinya yang kesal, Axel membuka sedikit matanya melirik wajah Bella yang sudah begitu cantik pagi itu. Ia lalu menarik tangan Bella sedikit kasar hingga terjatuh diatasnya.


"Axel! Apa yang kau lakukan!" seru Bella semakin kesal karena perlakukan suaminya.


"Kenapa marah-marah sepagi ini Nyonya? Apakah kau sudah tidak mencintaiku" goda Axel dengan suaranya yang lembut menghipnotis. Tatapan matanya begitu mendamba pada Bella.


Bella ingin sekali marah, tapi setiap melihat mata Axel, kemarahannya menguap begitu saja. Tapi kali ini ia tak terpengaruh dengan hal itu. Selain tubuhnya lelah, semua orang sudah menunggu mereka berdua untuk sarapan.


"Enggak ada kaitannya sama cinta! Udah lepasin" kata Bella mencoba melepaskan diri.


"Iya.. Iya.. Aku mandi sekarang. Kau mulai cerewet sekarang" kata Axel pura-pura menggerutu dan melepaskan Bella dari jeratannya.


"Baru tau kalau aku cerewet? Kenapa, apa kau menyesal" sahut Bella seraya melirik tajam suaminya.


"Enggak mungkin dong aku menyesal, Biar cerewet gini, Aku tambah sayang" kata Axel mengedipkan sebelah matanya.


Bella hanya mencibir mendengar ucapan suaminya. Sedetik kemudian ia berdecak saat melihat Axel berjalan dengan bertelanjang ria. Suaminya itu benar-benar tak tau malu sekali. Meskipun sudah sering melihatnya, tetap saja rasanya begitu aneh saat melihatnya seperti ini.


Butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk mereka siap dan segera bergabung bersama keluarga yang lain.


"Maaf, Kami terlambat" ucap Bella tersenyum kikuk. Sedangkan Axel hanya cuek saja. Ia menarik kursi untuk Bella dan kursinya sendiri.


"Ya sayang. Tidak apa-apa" kata Ibu Tamara seperti biasa, selalu saja bermurah senyum. Baginya sudah hal biasa kalau pengantin baru akan bangun kesiangan. Karena mereka pun pernah muda dan pernah mengalami hal itu.


Mereka pun akhirnya memulai acara sarapan bersama di restoran hotel. Oh sepertinya bukan sarapan, lebih tepatnya makan siang karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah 11. Acara pagi itu di isi dengan obrolan ringan tentang berbagai hal. Mereka tampak begitu hangat dan kompak.


"Ini, Mama dan Papa tidak memberi mu hadiah apa-apa" kata Mama Anita menyodorkan dua lembar kertas pada Bella.


"Apa ini?" Tanya Bella mengambil kertas yang di berikan Mamanya.


"Honeymoon? Di Bali?" Dahi Bella semakin berkerut saat membaca tulisan di kertas itu. Ia tak pernah berpikir untuk melakukannya.


Lagipula untuk apa? Sedangkan Axel saja tak pernah memikirkan bagaimana tempat mereka bercinta. Pria itu selalu mencoba berbagai hal yang kadang membuat Bella tak habis pikir. Di setiap sudut rumah mereka saja sudah mereka jelajahi. Dari mulai dapur, ruang makan, ruang tengah, dan yang paling gila bagi Bella adalah saat mereka bercinta di pondok di pinggir kolam renang.


"Iya Benar. Kalian selama ini kan selalu sibuk, Jadi jarang ada waktu untuk berdua. Apalagi setelah banyaknya kasus yang kalian hadapi kemarin, Mama rasa kalian perlu untuk liburan" kata Mama Anita lagi.


"Iya Ibu juga setuju" Tamara ikut menyahut. Ia juga sudah sangat mendambakan cucu dari anaknya.


"Eh? Tapi bukankah ini terlalu mendadak?" tanya Bella sedikit kaget. Ia melirik suaminya yang bertampang santai saja.


Bella kembali saling padang. Kalau sudah begini, Bella sudah tak bisa membantah. Ia akhirnya mengangguk membuat Mama dan Ibu mertuanya tersenyum senang.


*****


Disisi lain terlihat sepasang anak manusia yang masih begelung dalam selimut tebal dengan tubuh yang saling berpelukan.


Karin masih terlelap dalam tidurnya. Matanya terasa berat dan enggan sekali terbuka. Apalagi tubuhnya yang terasa sakit semua membuatnya enggan untuk bangun. Tapi sinar matahari yang begitu menyilaukan membuat ia mau tak mau membuka matanya.


"Argh..." desis Karin memegang kepalanya yang begitu pusing. Matanya pun terlihat begitu sembab.


Karin menatap sekelilingnya merasa sangat asing. Lalu pandangannya beralih pada tangan pria yang kini memeluk tubuhnya dengan posesif. Karin begitu kaget dan segera menyingkirkan tangan itu. Ingatannya langsung mencerna kejadian semalam yang ia alami.


"Nggak!Nggak! Ini nggak mungkin" ucap Karin menggelengkan kepalanya saat kejadian itu berputar di kepalanya.


"Argh!!! Enggak mungkin!" Teriak Karin bahkan masih merasakan nyeri saat membayangkan pemerkosaan itu.


Teriakan Karin yang begitu keras membuat pria yang sejak tadi terlelap itu bangun. Ia mecoba mengumpulkan setengah dari kesadarannya yang belum sepenuhnya pulih. Dilihatnya punggung wanita yang kini sedang menunduk dan menangis? Siapa wanita itu? Kenapa dia bisa bersamanya disini.


"Hei, Kau siapa?" tanyanya dengan suara serak.


Tangis Karin langsung berhenti saat mendengar suara itu. Seketika saja tubuhnya langsung bergetar karena takut dan juga marah. Ia langsung menoleh dan menatap tajam pada pria ba ji ngan itu.


"Karin!!" seru pria itu kaget saat melihat wajah Karin. Bagaimana bisa ia bersama dengan wanita yang menjadi sahabat orang tercintanya.


"Puas lo sekarang! Puas lo udah hancurin hidup gue! Brengsek!" teriak Karin begitu emosi. Ia langsung memukul Dio untuk melampiaskan amarahnya. Ia semakin marah saat mengingat bagaimana pria ini menyentuhnya dan malah menyebut nama wanita lain.


"Karin! Stop! Apa yang sebenarnya terjadi?" Bentak Dio mencekal tangan Karin untuk menghentikan pukulan itu. Ia begitu bingung dengan kejadian ini.


"Lepasin gue! Gue nggak sudi lo sentuh. Ba ji ngan" teriak Karin memberontak.


Setelah tubuhnya terlepas ia segera menarik selimut dan bergegas pergi, tapi saat kakinya hendak digunakan, daerah intinya terasa begitu sakit. Tapi ia menahannya dengan mengigit bibirnya, Ia kemudian masuk ke kamar mandi untuk mengambil bajunya yang semalam.


Dio terlihat begitu kaget saat melihat noda darah yang sudah mengering di atas sprei. Darah? Apakah Karin masih perawan? Dan ia yang mengambil keperawanan nya.


"Oh ****!!" umpatnya seraya menjambak kepalanya yang ingin pecah. Ia kembali mengingat kejadian semalam.


Happy Reading


Tbc.


Bonus Visual


Karina_



_Dio