MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Persiapan Pesta.



Acara pesta ulang tahun Papa Abimanyu ternyata dirayakan di sebuah hotel dan tergolong mewah. Selain acara ulang tahun itu, Papa Abimanyu berencana mengenalkan Elvan dan juga Dio ke publik sebagai pewaris sah keluarganya. Tapi sepertinya rencana itu tidak bisa di lakukan mengingat apa yang sudah terjadi antara Dio dan keluarga istri pertamanya.


Sore menjelang pesta itu saja, Karin harus terus merayu suaminya untuk datang ke pesta itu.


"Aku males, Lagipula aku tidak mengenal mereka. Kita disini saja ya" kata Dio masih berbaring malas di kasurnya, ia malah asyik bermain game di ponselnya.


"Nggak boleh males, kita udah jauh-jauh kesini ngapain kalau cuma di kamar doang, Udah sana mandi. Aku tinggal ganti baju doang, Tadi Papa udah Sherlock hotel tempat pesta itu" kata Karin seraya mengeringkan rambutnya di depan cermin.


"Kenapa sekarang kamu suka chatan sama Papa? Jangan-jangan kalian ada apa-apa lagi" kata Dio setengah menggerutu dan bangkit dari kasurnya.


Karin melirik suaminya malas. "Ada apa memangnya? Masa iya Abang cemburu sama Papa sendiri" kata Karin tak habis pikir.


"Aku selalu cemburu sama semua lelaki yang deket sama istri aku" kata Dio tiba-tiba sudah memeluk tubuh Karin dari belakang.


"Ya tapi nggak sama Papa juga lah, Aku mana demen sama yang udah tuwir begituan. Aku sukanya yang hot kaya Abang" kata Karin melempar senyum menggodanya pada Dio.


"Jangan memancingku Nyonya, Apa kau tidak kasihan aku harus menahan satu malam lagi" kata Dio mencium leher istrinya yang ia rasa sangat harum dan terasa manis.


Karin terdiam menatap wajah Dio, sepertinya suaminya ini salah menghitung jadwal haidnya karena ia sudah selesai hari ini.


"Aku udah selesai" bisik Karin seraya mengigit bibirnya.


"Ha?" Dio langsung mengangkat wajahnya saat mendengar ucapan istrinya.


"Kamu udah..?" tanya Dio memastikan lagi. Karin mengangguk tipis sebagai jawaban.


"Kenapa nggak bilang daritadi" kata Dio dengan gerakan cepat menggendong tubuh istrinya.


"Abang mau apa? Kita harus datang ke pesta ulang tahun Papa, Nanti malem aja mainnya" kata Karin memekik kaget.


"Ini juga udah malem" kata Dio sedikit menghempaskan tubuh Karin ke kasur dan langsung menindihnya.


"Abang! Kita juga belum makan,..." kata Karin menahan dada Dio saat ingin menciumnya.


"Aku mau makan hidangan pembuka dulu" kata Dio sebelum me lu mat bibir manis istrinya.


Tangannya bergerak lincah melepas tali handuk kimono yang membalut tubuh istrinya. Yang dilakukan Karin apalagi selain pasrah, ia menyesal karena sudah mengatakan kebenarannya tadi.


Beberapa saat kemudian, nafas keduanya sudah terengah dan keringat tampak menghiasi tubuh mereka. Karin sepertinya harus mandi lagi karena ulah suaminya.


______***______


"Abang, kita pasti telat banget ini" kata Karin ketika mereka sampai di hotel tempat acara itu di gelar.


Bukan hanya karena bercinta dengan panas yang membuat mereka terlambat, tapi karena sejak tadi Dio terus memprotes gaun yang di gunakan untuk datang ke pesta itu.


"Aku tidak suka gaunmu" kata Dio masih tampak kesal saat melihat tubuh seksi istrinya yang akan di lihat banyak orang.


"Astaga! Ini masih masalah gaun lagi, Gaun aku udah ke tutup gini, Apa aku perlu pakai baju ninja sekalian" seru Karin melirik malas pada suaminya. Padahal ia sudah menggunakan gaun bermodel putri duyung yang membalut tubuhnya hingga sampai ke mata kaki, tapi tetap saja Dio tak terima karena gaun itu menonjolkan lekuk tubuh istrinya.


"Kau harus ingat apa pesanku tadi, Jangan melihat pria lain lebih dari dua detik" kata Dio kini menatap istrinya serius.


"Iya, Aku nggak akan lihat. Udah, kita harus masuk sekarang. Kasihan Papa pasti nungguin" kata Karin mengiyakan saja perintah Tuan Posesif ini.


"Apa lagi?" Karin setengah membentak karena sangking kesalnya.


"Kenapa kau suka sekali memakai lipstik merah sekali, Aku tidak suka, cepat hapus" kata Dio menekuk wajahnya.


"Ya terus gimana, Bibir aku pucat kalau nggak pakai lipstik. Abang kenapa sih jadi kayak gini" kata Karin menatap suaminya dengan jengkel.


"Aku tidak suka kau terlalu cantik, Hanya aku yang boleh melihat kecantikan mu, sekarang cepat hapus lipstiknya" kata Dio lagi.


"Enggak, mau hapus pakai apa? Aku nggak punya tisu dan Aku nggak mau Abang cium" kata Karin tak ingin terjerumus pada trik licik suaminya lagi.


"Sudah berani menolak ku ya?" kata Dio malah menarik tangan Karin hingga tubuh mereka semakin dekat.


"Beranilah, Yang ada kita nggak jadi pesta lagi. Udah, Lepasin aku Abang" kata Karin sedikit merengek.


"Aku akan melepaskan mu, tapi kau harus menghapus lipstik mu dulu" kata Dio menatap mata indah istrinya.


"Aku nggak bawa tisu Abang, Biarin aja kenapa sih" kata Karin merenggut sebal.


"Tenang saja, suamimu punya cara antimainstream" kata Dio tersenyum jahil.


"Cara apa?" tanya Karin mengerutkan dahinya.


Dio melepaskan Karin lalu membuka dasinya dan kancing kemejanya menampakkan dadanya yang bidang. Karin semakin tak mengerti, tapi sedetik kemudian matanya membesar saat tau cara antimainstream yang suaminya usulkan.


"Abang serius nyuruh aku ini?" Karin menatap suaminya tak percaya.


"Serius Nyonya, Ayo, aku sudah menunggu sentuhan manismu" kata Dio mengrelingkan matanya.


"Dasar licik" seru Karin geram tapi ia segera mendaratkan bibirnya di dada suaminya. Ia malah sengaja memberi kecupan-kecupan kecil yang membuat suaminya itu mengerang.


"Udah kan, Bisa pakai sendiri kan bajunya? Bisa dong, masa gitu aja nggak bisa" kata Karin tersenyum puas saat melihat wajah tegang suaminya.


Dio masih mencoba mengendalikan dirinya karena godaan yang Karin berikan, istrinya itu memang sangat bisa membuat tegangan dirinya langsung naik.


"Awas saja nanti..." kata Dio menatap Karin dengan tajam.


Karin memasang wajah santainya dan segera turun dari mobil. Beberapa saat menunggu, suaminya akhirnya keluar dari mobil dengan tampilan rapinya. Karin segera tersenyum manis dan melingkarkan tangannya di lengan Dio.


"Jangan memasang wajah seperti itu Tuan Dio, nanti orang berpikir kita sedang marahan lagi, Ayo tersenyumlah" bisik Karin memasang senyum manisnya.


"Aku tidak perduli" kata Dio sedikit ketus.


Karin sedikit mendengus tapi tak mengatakan apapun, mereka segera masuk kedalam hotel tempat acara itu. Mereka berdua ternyata sudah di jemput oleh dua anak buah Papa Abimanyu yang memang ditugaskan untuk menyambut mereka.


"Tuan Abimanyu sudah menunggu Anda, mari saya antar Tuan" ucap salah satu dari mereka memimpin jalan terlebih dulu.


Dio hanya mengangguk tipis dan mengikuti arahan orang itu untuk masuk kedalam ruangan khusus yang memang sudah di pesan oleh Papa Abimanyu. Didalam sana seperti biasa sudah ada keluarga istri pertama Papanya, tapi Dio hanya bersikap acuh.


Happy Reading.


Tbc.