
Mama Dio tampak meneliti penampilan Karin dari atas sampai bawah. Ia benar-benar seperti men- scanning wanita yang menjadi kandidat calon menantunya ini. Tapi ia tak mengatakan apapun dan menyambut saja uluran tangan wanita itu.
"Siapa namanya tadi?" tanya Mama Dio.
Dio sudah ingin menjawab tapi Mamanya sudah dulu memberikan gestur untuknya diam.
"Mama ingin tau sendiri dari mulut wanita yang kau sebut calon menantu Mama" kata Mama Dio membuat Dio menatap Karin tak tega.
Karin tersenyum menenangkan pada pria itu. "Saya Karin tante" ucapnya kemudian dengan nada sopan nya.
Mama Dio mengangguk singkat lalu mendudukkan dirinya disamping Dio. Karin tampak bingung harus apa, dia ingin pergi tapi Dio masih menahan tangannya.
"Mama kok tau aku disini?" tanya Dio menatap Mamanya.
"Tentu saja tau, kamu pikir Mama nggak punya mata-mata yang bisa mengawasi kamu. Mama juga tau apa yang sudah kamu lakukan, termasuk dengan dia" kata Mama Dio terdengar santai saja tapi membuat Karin gugup sekali.
"Aku hanya melakukan yang menurutku benar" kata Dio.
"Ya, jadi bagaimana? mau menikah kapan?" kata Mama Dio membuat Dio dan Karin kaget.
"Menikah? Maksud Mama?" tanya Dio bingung, ia menatap Karin yang juga menatapnya tak mengerti.
"Kalian berdua sudah punya hubungan kan? Lalu mau menunggu apa lagi kalau tidak di nikahkan?" kata Mama Dio tersenyum tipis.
"Mama setuju aku sama Karin?" Dio tak bisa menyembunyikan nada semangat dalam nada bicaranya.
"Ya dengan sangat terpaksa" kata Mama Dio membuat Karin menggigit bibirnya.
"Mama kok gitu sih" kata Dio tak enak dengan Karin jika Mamanya seperti ini.
"Ya mau bagaimana lagi? Kalian berdua sudah saling mencintai, mana mungkin Mama akan memisahkannya" kata Mama Dio mengembangkan senyumnya.
Dio dan Karin tampak kaget karena Mamanya dengan mudah memberikan restu. Tapi tak bisa di pungkiri kalau mereka juga lega dan bahagia.
"Sayang, Mama merestui kita" kata Dio ingin memeluk Karin tapi Mamanya langsung mencegahnya.
"Eh! Lepaskan Karin, Dio, Kalian berdua belum menikah. Jadi tidak boleh seperti itu" kata Mama Dio memperingkatkan.
Dio mengerutkan dahinya. "Kenapa memangnya? Kami sudah sering melakukannya" kata Dio sekenanya.
"Dio..." Karin melototkan matanya karena sikap Dio yang tak tahu malu.
"Kau! Bagaimana bisa kau seperti itu! Kalian berdua harus secepatnya menikah kalau begitu" kata Mama Dio merasa tak mengerti dengan gaya pacaran anak muda jaman sekarang.
"Dengan senang hati" kata Dio tersenyum manis.
Karin pun membalasnya, Ia juga lega karena Mama Dio mau menerima dirinya.
"Ma, mengenai Cindy.." kata Dio.
"Mama sudah tau, biar nanti Mama yang mengurusnya. Sekarang pulihkan saja dirimu" kata Mama Dio lagi.
"Makasih Ma" kata Dio memberikan pelukan hangat kepada wanita nomer satu dalam hidupnya itu.
Mama Dio tersenyum dan mengelus lembut punggung anaknya. Selama ini, ia merasa anaknya tak pernah sebahagia ini. Dio sering murung dan jarang berbicara membuat ia mengenalkannya pada Cindy. Tapi nyatanya anaknya juga masih tetap tak bahagia. Sekarang ia tau, kalau memang Karin lah yang selama ini Anaknya tunggu.
******
Nathan terlihat sedang membuka berkas pasiennya. Ia membaca dengan wajahnya yang serius ketika mendengar pintu ruangannya terbuka. Ia sedikit kaget, namun kemudian mengulas senyumnya.
"Ya, Aku sedang kesal. Dio memutuskanku" kata Cindy dengan gayanya yang manja dan berjalan mendekat ke arah Nathan.
"Kenapa dia memutuskan mu? Apa kau membuat kesalahan?" kata Nathan menyentuh pipi Cindy dan memindahkan sehelai rambutnya ke belakang telinga.
"Tentu saja tidak, tapi ini semua gara-gara Karin. Dio dan Karin itu punya hubungan. Kenapa sih kau harus membawa wanita itu masuk ke kehidupan kita" kata Cindy semakin kesal jika mengingat wajah Karin.
"Hei, tenangkan dirimu. Karin akan tetap bersamaku, kau tidak perlu khawatir" kata Nathan tersenyum menenangkan. "Sekarang kau harus membujuk Dio agar segera menikahimu, oke?" kata Nathan lagi.
"Ya, tapi kau harus ingat, jangan jatuh cinta padanya. Kau hanya boleh mencintaiku" kata Cindy menatap Nathan dengan serius.
Nathan tersenyum lalu menarik tangan Cindy agar duduk di pangkuannya. Cindy sedikit kaget tapi ia langsung mengalungkan tangannya di leher Nathan.
"Aku tidak akan jatuh cinta padanya, Kau tau sendiri kan tujuanku mendekatinya karena apa?" kata Nathan membuat Cindy tersenyum tipis.
Perlahan Nathan mendekatkan wajahnya, begitupun Cindy hingga bibir mereka menyatu. Mereka berciuman dengan begitu mesra dan juga panas. Tangan Nathan juga sudah mejalari tubuh Cindy dengan lihai membuat Cindy men desah keasikan.
"Nathan...Ini di rumah sakit" kata Cindy di antara nafasnya yang terengah.
"Tidak akan ada yang akan berani kesini" kata Nathan tetap melanjutkan kegiatannya.
******
Pemulihan Dio cukup cepat, dia sudah sembuh dan bisa pulang. Karin juga sudah bersiap untuk menjemput Dio dari rumah sakit. Semalam ia tidak menginap di rumah sakit karena sudah ada Mama Dio yang menjaganya.
"Mama, Aku mau ke rumah sakit dulu, jemput temen aku yang kemarin" kata Karin berpamitan kepada Mamanya.
"Udah sembuh temen kamu?" kata Elmira.
"Udah Ma, Karin jalan dulu ya" kata Karin mengambil tangan Mamanya dan menciumnya.
"Eh, Mama baru inget kalau kemarin Papa kamu minta di beliin vitamin" kata Elmira.
"Yaudah, nanti Karin belikan sekalian. Apa nama vitaminnya?" tanya Karin.
"Mama juga lupa, coba kamu tanya Nathan. Soalnya waktu itu dia yang kasih" kata Elmira lagi.
Karin terdiam sesaat, ia malas sekali jika harus bertemu dengan Nathan. Belakangan ini saja ia sengaja menghindari pria itu. Tapi sekarang ia juga butuh pria itu.
"Baiklah" kata Karin menyetujui. Lagipula hanya menanyakan vitaminnya kan?.
Karin segera berangkat menuju rumah sakit tempat Nathan bekerja terlebih dulu baru akan menjemput Dio agar tidak perlu putar balik. Ia sudah menghubungi pria itu namun tidak di angkat.
"Kak, Dokter Nathan ada?" tanya Karin pada salah satu suster.
"Oh, Ada di ruangannya" kata Suster itu.
"Ruangannya sebelah mana Kak?"
"Kamu lurus aja, nanti di ujung lorong belok kanan, ruangannya paling pojok belakang" kata Suster itu membuat Karin mengangguk.
Karin berjalan menyusuri lorong yang cukup sepi, ternyata ruangan Nathan jauh dari keramaian membuat ia sedikit bergidik ngeri saat melewati ruangan sepi itu.
Setelah menemukan ruangan Nathan, ia ingin langsung membukanya tapi Karin sedikit mengerutkan dahinya saat melihat pintu ruangan itu tak tertutup rapat. Perlahan membukanya, hanya sedikit tapi Karin sudah bisa melihat pemandangan di depannya.
Happy Reading.
Tbc.