MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Aku Mencintaimu



Mendengar kata kencan membuat wajah Bella yang tadinya kusut langsung berubah ceria. Tapi ia masih pura-pura kesal.


"Kau yakin mau mengajakku kencan" ucapnya dengan nada sedikit ketus.


"Yakin. Kau ingin aku ajak kencan kemana?" kata Axel sembari melihat jalanan di depannya.


Ia sama sekali tak memiliki ide untuk kencan. Jujurnya ia tak pernah melakukannya. Mungkin dulu ia pernah berkencan waktu SMA. Tapi ia sendiri lupa bagaimana rasanya. Karena saat dewasa ia tak pernah berkencan dengan wanita manapun. Setiap wanita yang dikenalnya malah akan berakhir di ranjang.


"Kan kau yang mengajak, kenapa malah bertanya padaku" kata Bella menatap malas pada Axel.


"Aku tidak pernah kencan sebelumnya. Jadi kau saja yang menentukan akan kemana" kata Axel jujur saja.


Bella mengerutkan dahinya. Tidak pernah kencan katanya? Rasanya tak mungkin. Orang se keren Axel tak pernah berkencan? Tapi Bella tak mau ambil pusing. Ia lalu berfikir akan pergi kemana hari ini. Bella tersenyum riang saat menemukan ide di kepalanya.


"Baiklah, hari ini aku ingin ke Taman Bermain" kata Bella dengan semangat.


"Taman Bermain?" tanya Axel memastikan. Bella mengajaknya kesana? Apakah tidak salah?


"Ya, Dan aku ingin kita tidak menggunakan fasilitas pribadi"


"Maksudmu?" Axel tak mengerti dengan apa yang diucapkan Bella.


"Aku ingin berkencan naik bus" kata Bella langsung membuat Axel kaget seketika.


"Bella apa kau yakin? Naik bus?" Axel begitu terhenyak saat Bella mengajaknya naik bus. Kencan apa itu. pikirnya.


"Kenapa tidak? Apa kau keberatan?" kata Bella langsung memasang wajah ingin dikasihani. Ia memang ingin sekali naik bus, karena selama hidupnya ia tak pernah naik. Orang tuanya selalu mengantar jemput dirinya dari kecil hingga dewasa.


"Bukan begitu, Oke. Kita akan berkencan naik bus" kata Axel tak bisa membantah. Apalagi melihat wajah Bella yang memelas membuat Axel tak tega.


Akhirnya Axel menghentikan mobilnya di halte terdekat. Ia juga sudah menghubungi Bram untuk mengambil mobilnya. Begitu turun dari mobil, cuaca panas langsung menyambutnya. Ternyata di Halte itu cukup banyak orang yang menunggu.


"Kita tunggu Bram dulu" ujarnya pada Bella yang sejak tadi diam saja.


"Ya," kata Bella singkat. Ia sangat senang karena Axel mau menuruti apa yang di inginkan. Bella tau jika sebenarnya Axel tak nyaman, terlihat sekali dari wajahnya yang tampak berkerut sejak tadi. Tapi pria itu menahannya agar bisa membuat Bella senang.


"Jangan memasang wajah seperti itu. Wajahmu sangat jelek tau" celetuknya ingin menggoda Axel.


Axel melirik Bella yang tampak begitu senang. Ia benar-benar tak nyaman berada ditempat keramaian seperti ini. Tapi ia menekan rasa itu agar Bella senang.


"Ya, kenapa busnya lama sekali? Apa tidak sebaiknya kita naik mobil saja" kata Axel mencoba bernegosiasi.


"Tidak mau, Tadi kan kau sudah bilang mau naik bus denganku" kata Bella sedikit merengek manja.


Axel menghela nafas karena tak berhasil membuat Bella merubah pemikirannya. Sampai beberapa menit kemudian, akhirnya bus yang ditunggu-tunggu datang bersamaan dengan Bram yang baru saja muncul.


"Selamat pagi Tuan, Nona" ucap Bram dengan sopan.


"Dia siapa?" tanya Bella memang tak pernah melihat Bram sebelumnya.


"Asistenku" jawab Axel singkat. "Bram, bawa mobilku ke kantor. Hari ini kosongkan semua jadwalku. Dan jangan menghubungiku jika tidak penting" ucap Axel dengan nada seriusnya.


"Memangnya anda ingin kemana Tuan?" tanya Bram tak bisa menahan rasa penasarannya. Sebenarnya ada hal lain yang mengganjal di hatinya. Yaitu melihat bosnya ini di Halte bus, untuk apa?


"Jangan banyak bertanya dan lakukan saja pekerjaanmu" kata Axel datar tatapan dingin yang mengantarkan.


Bella mengerutkan dahinya mendengar cara bicara Axel yang menurutnya cukup galak. Padahal asistennya sudah begitu sopan.


"Hei, kenapa kau berbicara seperti itu padanya. Dia kan hanya bertanya" kata Bella langsung protes.


Axel menautkan kedua alisnya, merasa tak senang dengan cara Bella membela Bram. Ia lalu melirik tajam pada asistennya yang langsung salah tingkah dibuatnya.


"Eh, Nona. Tidak apa-apa. Saya memang terlalu lancang bertanya seperti itu. Kalau begitu saya pamit" ucap Bram sedikit terbata. Tatapan Axel seolah bisa membunuhnya jika bisa.


Bella semakin mengerutkan dahinya lebih dalam. Tapi tak mengatakan apapun. Ia segera naik ke dalam bus karena sudah cukup lama menunggu dirinya dan Axel. Sedangkan Bram langsung bernafas lega begitu Axel pergi.


****


Wajah Axel tampak kesal, ia ingin sekali memaki supir bus yang ugal-ugalan menurutnya. Belum hilang rasa kesalnya ada seorang pria muda yang langsung menyerobot didepan Bella. Axel tampak tak suka, apalagi ia tau kalau pria muda itu ingin berdekatan dengan Bella. Ia langsung menarik tubuh Bella hingga menempel padanya.


Axel juga memberikan tatapan tajam pada pria itu, seolah mengatakan jangan macam-macam.


"Kita tidak akan naik bus lagi" ucapnya datar. Ia benar-benar tak nyaman. Apalagi hawa di dalam bus itu sangat panas.


"Iya" jawab Bella tersenyum sedikit. Ia memang sudah tak ingin naik bus lagi. Ia pun sebenarnya cukup tak nyaman.


"Jangan tersenyum seperti itu, Kau ingin menggoda orang lain ya" kata Axel masih dengan nada kesalnya.


"Eh? Masa senyum saja tidak boleh" kata Bella bingung dengan permintaan Axel yang menurutnya aneh.


"Tidak boleh, kau hanya boleh tersenyum padaku" kata Axel seadanya.


"Baiklah Tuan posesif" sahut Bella merasa Axel terlalu berlebihan.


Axel hanya diam tak menyahut, ia berharap bus yang ditumpanginya segera sampai ditempat tujuan. Bella cukup menikmati perjalananya, apalagi saat Lagu Ada untukmu karya Tyok Satriyo diputar membuat Bella menatap Axel dalam diam.


Awal ku mengenalmu.


Tersita seluruh hatiku.


Oh indahnya dirimu, Ku jatuh hati Padamu.


Tak terasa waktu berlalu.


Kini kau t'lah jadi milikku.


Betapa bahagianya aku.


Saat kau ada di sisiku.


Kini tiba saatnya.


Kita harus melangkah


Temani diriku, disisa waktumu.


Genggam lah tanganku bersamaku.


Kau kan menentukan arah.


Bersama diriku yang kan selalu.


Menjaga dirimu.


Yakinkan hatimu temani ku.


Di setiap langkah-langkahku.


Ku disini, Di Sampingmu, Ku kan slalu.


Ada untukmu.


Setiap lirik yang dinyanyikan membuat Bella mengulik masa lalunya dulu. Bagaimana ia bertemu Axel dan begitu membencinya. Tapi perlahan rasa benci itu berubah sering perhatian yang Axel berikan.


Axel yang sabar saat ia memaki atau mengabaikan niat baiknya. Axel yang tidak menyerah meyakinkannya untuk tetap mempertahankan bayinya. Diberikan kasih sayang sebegitu besarnya oleh pria seperti Axel. Bagaimana ia tak luluh?


"Aku mencintaimu" bisik nya dengan tulus dari hatinya terdalam.


Happy Reading


TBC