
"Angga! Kunci mobil"
Dio berlari tergesa-gesa keluar dari ruangannya, Wajahnya tampak sangat panik namun juga menahan amarah. Ia harus secepatnya pulang untuk menyelamatkan istrinya.
"Ada apa?" tanya Angga bingung dan kaget saat melihat Dio berlari kalang kabut seperti itu. Ia segera menyerahkan kunci mobil pada Dio.
"Rumahku di serang, segera hubungi polisi, Aku akan pulang sekarang" kata Dio dengan cepat menyambar kunci itu.
Angga tersentak kaget, tanpa di perintah dua kali, ia segera menghubungi polisi untuk segera datang ke rumah Dio. Ia juga secepat mungkin ikut berlari menyusul Dio yang sudah terlebih dulu pergi.
Sementara itu dirumah, Elvan tampak tersenyum puas saat melihat Karin sudah terpojok, wanita itu terus menangis karena sangat ketakutan Elvan akan melakukan sesuatu padanya.
"Menyerahlah Karin, aku janji tak akan berbuat kasar padamu" kata Elvan memerangkap Karin di dinding, tubuhnya yang menjulang tampak sangat menakutkan bagi Karin.
"Tidak! Kau mau membunuhku? Lakukanlah, Elvan! Kalau itu membuatmu puas" kata Karin memberanikan dirinya untuk melawan Elvan meskipun saat ini tubuhnya gemetar hebat.
"Aku tidak ingin membunuhmu, tapi aku menginginkanmu" kata Elvan berbisik di telinga Karin, ia mendekatkan wajahnya untuk mencium leher wanita itu tapi Karin segera mendorongnya.
"Tidak! Pergi darisini kau" kata Karin mencari celah untuk berlari dari jeratan Elvan, tapi ia kalah cepat karena Elvan sudah lebih dulu menarik tangannya.
"Argh.....Lepaskan aku, DIO! TOLONGGGGG!!" Karin berteriak sekuat tenaga berharap ada orang yang akan membantu dirinya.
"DIAM! Kau sepertinya memang suka sekali di paksa ya" kata Elvan mengeram marah, ia langsung mendorong Karin hingga wanita itu terhempas di ranjang.
Sejak pertama kali bertemu Karin, Elvan memang sudah merasa begitu tertarik dengan wanita ini, Karin yang cantik dan memiliki senyum yang manis membuat Elvan menjadi semakin tertarik dan ingin memilikinya. Apalagi saat tau kalau wanita ini adalah istrinya Dio, keinginan Elvan menjadi semakin kuat.
"Pergi! Jangan mendekatiku" Karin menjerit histeris saat Elvan mengungkung tubuhnya. Ia memegang perutnya yang mulai merasa nyeri karena rasa panik yang menyerang dirinya.
"Jadilah milikku Karin, tinggalkan Dio, aku akan memberikan segala yang kau mau" kata Elvan benar-benar di buat mabuk kepayang oleh adik iparnya ini.
"Tidak mau! Kau gila Elvan, aku ini istri dari adikmu sendiri" teriak Karin tak habis pikir kenapa Elvan meminta hal gila seperti itu.
"Baiklah, kalau aku tidak bisa memilikimu, lebih baik kau mati Karin" kata Elvan tanpa di duga tiba-tiba mencekik leher Karin dengan keras hingga wanita itu kesulitan bernafas.
"Le-pa-s" Karin memukul tangan Elvan agar pria itu melepaskannya, kerongkongannya terasa sangat sakit saat Elvan terus mencekik lehernya, matanya bahkan mulai berair karena rasa sakit akibat kesulitan bernafas.
"Aku tak akan membiarkan Dio hidup senang" kata Elvan semakin mencekik leher Karin dengan keras, tak perduli wanita itu sedang hamil dan terlihat sangat kesakitan, Elvan benar-benar ingin membuat Karin mati agar Dio tak bisa bersatu dengan orang yang dicintainya. Elvan tak ingin Dio bahagia sampai kapan pun.
Wajah Karin sudah pucat pasi, keringat dingin bercampur air mata sudah membahasi wajahnya. Perlahan mata sayunya mulai tertutup, ia sudah tak kuat menahannya. Mungkin ini memang saat terakhirnya untuk hidup di dunia.
"LEPASKAN ISTRIKU BRENGSEK!!!!"
Dio berteriak penuh amarah dan langsung melibas batang leher Elvan dengan tendangan yang sangat keras hingga pria itu melepaskan cekikan nya pada Karin. Karin langsung terbatuk-batuk saat Elvan melepaskan tangannya, ia menghirup udara sebanyak-banyaknya dan merasakan kelegaan yang luar biasa.
Sedangkan Dio langsung menarik Elvan dan kembali menghajar pria itu tanpa ampun, tapi Elvan segera melawannya.
"Anak haram! Seharusnya dari dulu aku menghabisi mu! Dasar pengkhianat!" Elvan pun ikut berteriak dan menendang Dio hingga pria itu tersungkur ke belakang.
"Sekarang aku yang akan lebih dulu membunuhmu, Ba ji ngan!" Dio kembali menyerang Elvan hingga keduanya terus berkelahi.
Diluar pun terdengar sangat ramai karena terjadi bentrok antara anggota polisi dan anak buah Elvan. Karin yang berada di sana menjadi semakin ketakutan melihat Dio dan Elvan itu, tubuhnya menggigil hebat, dan mencoba tak mendengarkan apa yang tertangkap oleh telinganya.
"Sialan! Bangun aku brengsek! jangan jadi pengecut!"
BUGH BUGH BUGH
"Lawan aku lagi!"
"Ba ji ngan"
Karin terus memejamkan matanya rapat tak ingin melihat apa yang terjadi disana, ia sangat takut sekali hingga hanya bisa diam berjongkok di sudut ruangan. Kepalanya bahkan mulai berdenyut dan ingin pingsan tapi sebuah tepukan lembut di bahunya membuat ia mengangkat wajahnya.
"Karin....Everything is alright" Karin terdiam membeku saat mendengar ucapan Dio yang kini mencoba tersenyum padanya meskipun sangat sulit.
Di kamar itu masih banyak sekali orang berlalu lalang untuk mengamankan Elvan yang kini tak sadarkan diri karena perkelahiannya dengan Dio, tapi Dio tak memperdulikannya, ia langsung mendatangi istrinya, tau betapa ketakutannya Karin saat ini.
"Abang...." ucap Karin langsung menubruk tubuh Dio dengan erat. Tangisnya langsung pecah saat bisa merasakan kehangatan dari suaminya.
"Aku disini, Aku disini sayang..." bisik Dio mencium kepala Karin dan memeluk istrinya dengan erat. Suaranya terdengar masih emosi karena ingat apa yang sudah di perbuat Elvan. Sepertinya ia harus segera memusnahkan bedebah sialan itu agar tak menganggu keluarganya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Dio.
Karin terdiam, justru seharusnya ia yang bertanya seperti itu karena melihat wajah Dio yang kini terlihat lebam di beberapa bagian. Mulutnya baru saja ingin menanyakan hal tersebut tapi urung tatkala merasakan perutnya yang tiba-tiba nyeri.
"Kamu kenapa?"
Karin masih bisa melihat mata Dio yang berkilat-kilat penuh amarah dan juga khawatir sambil berteriak-teriak panik memanggil namanya ketika bersamaan ia merasa semuanya terlihat sunyi dan gelap.
"Karin?!" Pekik Dio kaget saat melihat Karin tak sadarkan diri. Ia segera meraih tubuh istrinya dan membawanya lari untuk ke rumah sakit.
"Angga! siapkan mobil sekarang" teriak Dio saat dirinya sampai di lantai satu rumahnya yang kini hancur lebur tak berbentuk.
Ruang makan yang sangat berantakan dan ruang tengah pun lebih parah. Jendela setinggi langit-langit yang mengelilingi seluruh ruangan hancur berkeping-keping, Sofa dan meja terbalik tak karuan. Belum lagi TV LED yang berinci besar retak dan teronggok begitu saja di lantai, sangat-sangat mengerikan sekali.
Dio tak ada waktu untuk memikirkan rumahnya yang rusak total itu, yang terpenting sekarang adalah ia harus secepatnya membawa istrinya ke rumah sakit.
Happy Reading.
Tbc.