MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Semua Sudah Selesai.



Bella sudah rapi dan bersiap untuk ke kantor suaminya. Ditangannya menenteng kotak makanan kecil yang berisi nasi goreng kesukaan Axel. Bella sengaja memasak untuk suaminya karena takut Axel lupa makan karena terlalu sibuk.


Perjalanan mereka hanya sebentar karena jarak rumah mereka dan kantor memang dekat. Sesampainya di kantor, Bella langsung turun.


"Kamu pulang aja, Nanti saya bareng suami saya kalau pulang" ujarnya pada supir pribadinya.


Bella lalu berjalan masuk, Di depan kantor sudah ada satpam yang setiap malam berjaga.


"Selamat malam Pak Budi" ucapnya menyapa satpam itu.


"Selamat malam, Nona ada apa kemari?" tanya Pak Budi langsung berdiri menyambut Istri atasannya.


"Saya cuma mau nganter makanan buat suami saya, Katanya dia lagi lembur. Saya masuk dulu ya" kata Bella dengan senyum tipis.


"Tapi maaf Nona, Di dalam sudah tidak ada siapapun. Semua orang sudah pulang" Pak Budi menatap Bella dengan pandangan kasihan.


Bella terdiam sesaat. "Bapak salah kali, Tadi bilangnya ada meeting darurat" kata Bella menenangkan hatinya sendiri sebenarnya.


"Tidak ada meeting hari ini Nona, Tuan Axel juga sudah pulang dari tadi bersama temannya" kata Pak Budi lagi membuat Bella semakin kaget.


"Teman siapa?" tanya Bella sedikit mendesak.


"Saya lupa namanya, Tapi belakangan ini sering kesini. Kalau nggak salah namanya..Na.. Na siapa ya?"


"Naura?" sahut Bella langsung.


"Nah iya, Naura"


Jantung Bella berdetak kencang, dan nafasnya kian sesaat. Mata Bella sudah mengembun, tapi ia masih mencoba meyakinkan diri sendiri kalau Axel pasti ada di kantor. Bella berjalan masuk ke ruangan suaminya, berharap bisa melihat Axel disana. Tapi, ruangan itu kosong.


"Kamu tega by, Kamu bohongin aku demi bisa pergi dengan wanita itu" ucap Bella dengan air mata tak terbendung.


Bella meletakan kotak makan yang di bawa di meja kerja suaminya. Ia lalu mengambil satu kertas kosong yang ada disana dan sebuah pena. Bella ingin menuliskan sebuah surat.


Aku pergi ya, Jangan lupa makan. Terima kasih untuk segalanya.


I give up.


Hati Bella sakit sekali saat menulis surat itu, Rasa sakit yang tak tertahankan seperti ribuan anak panah yang menghujam dadanya. Bella lalu menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Dengan tangan gemetar, Bella melepaskan cincin itu dan meletakkannya di atas surat dan kotak makanan.


Bella kemudian berdiri dan beranjak keluar, tapi pandangannya teralihkan oleh jas Axel yang menggantung di kursi kerja. Bella mengambilnya dan memeluknya erat. Ia mencium jas itu menghirup harum tubuh Axel yang khas dengan air mata yang terus mengalir.


Setelah cukup lama, Bella segera mengembalikan jas itu ke tempat semula. Ia ingin cepat-cepat pergi dari ruangan itu, ketika di ambang pintu. Bella menoleh sesaat.


"Semuanya sudah selesai"


Bella langsung pergi begitu saja dari kantor Axel, Bella mencegat salah satu taksi yang lewat. Ia sudah tak memikirkan apapun lagi, Yang jelas ia ingin pergi sejauh mungkin dari Axel. Bella terus menangis sepanjang perjalanannya menumpahkan rasa sesak di dadanya.


"Pak, tolong antar saya ke perumahan XXX" kata Bella menyebut alamat orang tuanya.


Supir itu tak menjawab membuat Bella sedikit bingung. Tapi ia memilih diam memperhatikan jalanan yang dilewati dengan air mata yang tak henti mengalir. Sampai Bella sadar kalau jalanan yang dia lewati bukan jalan menuju rumah orang tuanya.


"Hei, Ini salah! Kau mau membawaku kemana?" seru Bella mendadak cemas dan sangat takut.


"Aku akan membawamu ketempat yang membuat hatimu tenang. Bukankah kau sedang sakit hati karena suami mu mengkhianatimu" kata Supir itu lalu menjentikkan jarinya dan tiba-tiba saja di belakang Bella sudah ada orang yang membungkam mulutnya dengan sapu tangan.


Bella mencoba berontak tapi aroma di sapu tangan itu membuat ia perlahan lahan kehilangan kesadarannya.


Axel masih mencekik leher Naura dengan keras hingga wanita itu kesusahan bernafas. Tapi Axel tak perduli, Ia sangat benci pada seseorang yang menghina istrinya.


"Axel...lep ..as" ucap Naura tak tahan rasa sakitnya.


"Dengarkan aku baik-baik! Jika kau mencoba masuk kedalam kehidupanku lagi dan menganggu istriku, Aku sendiri yang akan mencabut nyawamu. Aku tak akan segan-segan menghancurkan mu dan keluargamu Naura!" teriak Axel tepat di depan wajah Naura hingga membuat tubuh wanita itu terjingkat.


Axel lalu melepaskan cekikannya membuat Naura terbatuk-batuk dengan mata yang berair.


"Kau jahat! Padahal kau masih mencintaiku, kenapa kau terus menyangkalnya Axel!" teriak Naura yang memang tipe wanita yang tak gampang menyerah.


"Itu hanya mimpimu! Setelah aku menikah aku tidak pernah menyukai wanita manapun! Aku hanya mencintai istriku saja! Apa kau mengerti!!" teriak Axel masih begitu emosinya, tangannya mengepal erat hampir saja memukul Naura.


Tapi Axel lebih memilih pergi dari sana, Naura yang melihat itu langsung mencegahnya dengan menarik lengan pria itu hingga Axel berbalik dan dengan cepat ia mencium bibir Axel dengan penuh perasaan.


Axel yang melihat hal itu semakin emosi dan mendorong tubuh Naura hingga wanita itu terjatuh ke belakang.


"Jangan melewati batas mu Naura! Aku peringatkan sekali lagi padamu, jika kau kembali datang padaku, Aku benar-benar akan membunuhmu" teriak Axel langsung pergi begitu saja.


Naura tersenyum tipis melihat hal itu, Ia mengusap bibirnya yang basah karena ciuman singkatnya tadi.


"Aku pasti mendapatkan mu"


****


Setibanya Axel di rumah dua pengawal yang menjaga rumahnya tampak terheran-heran.


"Selamat malam Tuan" sapa mereka.


"Hmmm...Bagaimana keadaan Nyonya? Apakah dia ingin keluar rumah?" tanya Axel membuat keduanya bingung.


"Bukankah Nyonya Bella bersama anda Tuan? Beliau tadi mengatakan ingin mengantar makanan ke kantor anda" kata Salah satu pengawal membuat Axel begitu kaget.


"Sial!" umpat Axel langsung berjalan berbalik untuk mencari istrinya.


"Maaf Tuan, Tunggu dulu" Bibi Mauli terlihat tergopoh-gopoh menghampiri Axel. "Ini ponsel Nona Bella sepertinya tertinggal" kata Bibi Mauli menyerahkan ponselnya pada Axel.


Axel menerima ponsel itu dengan perasaan campur aduk, bagaimana bisa Bella pergi tanpa membawa ponsel seperti ini. Axel semakin cemas memikirkan istrinya. Ponsel itu kemudian menyala menampakan satu pesan baru. Axel langsung membukanya, dan kilat amarah tampak menghiasi matanya saat melihat foto yang di kirim. Ia lalu melihat pesan sebelumnya yang berisi foto-fotonya bersama Naura.


"Naura!" kata Axel dengan gigi gemeletuk. Ia pasti akan menghancurkan wanita itu.


Tapi sekarang ia harus menyusul istrinya terlebih dulu, Axel langsung menancap mobilnya dengan kecepatan penuh berharap Bella masih berada di kantornya.


"Apa tadi Nyonya Bella datang kemari?" kata Axel pada pak Budi.


"Benar Tuan, tapi beliau sudah pergi lagi. Tapi beliau titip pesan katanya ada sesuatu untuk anda di meja kerja anda" kata Pak Budi.


Mendengar itu Axel bergegas ke ruangannya, Ia setengah berlari agar secepatnya sampai. Tubuh Axel terasa lemas saat melihat cincin pernikahan mereka di tinggalkan oleh Bella. Ia lalu membaca pesan yang di tulis rapi oleh Bella.


Axel menundukkan wajahnya dan menjambak rambutnya saat melihat isi pesan yang di tulis istrinya, ia lalu membuka kotak makanan yang berisi nasi goreng kesukaannya.


"Lagi-lagi aku mengecewakanmu"


Happy Reading.


Tbc.