MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Aku Memang Terjebak



"Astaga! Kalian" seru Tamara kaget.


Ia merasa malu melihat anak dan menantunya seperti itu. Tadinya ia ingin melihat Bella karena lama belum kembali. Tapi malah ia melihat hal mengejutkan. Tanpa mengucap kata, ia langsung pergi begitu saja.


Bella tidak tau apa yang ibu mertuanya itu pikirkan setelah melihatnya dengan Axel tadi. Ibu mertuanya pasti berfikir kalau mereka sedang berbuat mesum di dapur. Meskipun tak mengatakan apapun, tapi Bella merasa malu.


"Ini semua gara-gara kau, Ibu pasti berpikir yang tidak-tidak tentang kita" cetusnya kesal pada Axel yang dengan santai bangkit dari posisi tidurannya.


"Memangnya kita melakukan apa?" kata Axel merasa tak ada yang salah. Toh mereka sudah menikah.


"Tau ah, Males ngurusin orang nggak penting" sahut Bella langsung pergi meninggalkan Axel. Padahal ia belum jadi membuat susu.


"Ayah, Ibu. Bella langsung berangkat ya" ucapnya begitu sampai diruang makan. Ia tersenyum rikuh pada mertuanya.


"Loh kok buru-buru? Sarapannya belum habis gitu" kata Tamara menatap Bella biasa saja seolah tak pernah melihat apapun.


"Bella udah kenyang kok Bu" jawabnya seraya mengambil tas miliknya.


"Naik apa ke sekolah?" Tanya Ayah Indra membuat Bella sedikit kaget.


Selama beberapa hari disini tak pernah sekalipun mereka berbicara. Jadi bisa di bilang itu adalah pertama kalinya Ayah Indra berbicara padanya.


"Naik taksi ayah" kata Bella yang tau ayah Mertuanya menunggu jawaban darinya.


"Banyak mobil kenapa harus naik taksi, Biar Supir Ayah yang mengantarmu" ucap Ayah Indra datar namun terselip nada perhatian didalamnya.


"Tidak perlu ayah, Aku bisa naik taksi kok" tolak Bella tak ingin merepotkan.


Ayah Indra mengerutkan dahinya menatap tajam pada Bella membuatnya sedikit gugup. Apakah ia salah bicara?


"Bener kata Ayah Bella, Taksinya juga belum dateng kan? Dari pada nunggunya lama? Nanti kamu malah terlambat" Tamara ikut berbicara.


"Tapi.. " Bella benar-benar tak enak. Tapi menolak juga tak mungkin.


"Sudah Bu, Dia itu keras kepala. Tidak ada gunanya membujuknya" Suara Axel terdengar membuat Bella melotot kesal.


"Axel, Jangan mengganggu Bella. Kamu ini bukannya ke kantor" ujar Tamara melirik malas pada putranya. Padahal pagi-pagi tadi, Ia sudah mengatakan pada Axel untuk segera pergi karena Bella belum bisa memaafkannya. Tapi putranya ini juga keras kepala ternyata.


Axel hanya tersenyum. "Tidak ada, Biar aku saja yang mengantarkannya. Bukannya Ayah hari ini ada acara?" kata Axel mengerlingkan matanya menggoda Bella yang terus memasang wajah cemberut.


"Terserah Bella saja, Gimana sayang?" Tamara membiarkan Bella yang memilih sendiri.


"Bella pasti mau, Iya kan sayang" sambar Axel dengan sengaja menggoda Bella.


Bella semakin membesarkan matanya melihat tingkah Axel. Tapi disisi lain dia juga bingung. Apakah tidak ada pilihan lain?. Akhirnya dengan sangat terpaksa ia setuju Axel mengantar nya. Daripada ayah mertuanya yang terlambat.


"Tuh kan, Axel bilang apa? Bella pasti mau" kata Axel tersenyum lebar. "Ya sudah, Ayah Ibu kita berangkat dulu" kata Axel lagi seraya bersalaman dengan kedua orang tuanya di ikuti Bella.


"Ayah lihat? Bella membawa pengaruh baik untuk anak kita? Axel jadi sering tersenyum sekarang" ucap Tamara tersenyum bahagia. Ia berdoa dalam hati semoga anaknya di beri kemudahan dan kebahagian.


Ayah Indra hanya diam tak menyahut. Tapi ia membenarkan ucapan istrinya. Sepertinya Bella membawa kebaikan untuk putranya. Mungkin ini saatnya ia mengikhlaskan semua yang sudah terjadi.


****


"Lama banget sih, Evakuasi korban gini aja lemot banget. Dari tadi ngapain aja coba" gerutunya sebal.


"Udah jangan cemberut terus, mulutmu sudah seperti bebek" kata Axel tersenyum mengejek.


"Bodo amat" cetus Bella tak perduli. "Aku turun sini aja deh" ucap Bella langsung membuat Axel kaget.


"Kau mau apa? Ini masih jauh" cegah Axel menahan tangan Bella.


"Biarin, Ini mau sampek jam berapa coba. Bisa telat nanti" kata Bella menghempaskan tangan Axel dan bergegas turun.


Axel menggelengkan kepalanya melihat tingkah Bella. Ia juga ikut menyusul Bella karena takut terjadi apa-apa. Apalagi jalanan sangat ramai.


"Anak itu" gerutu Axel mendesis sebal.


Bella berjalan dengan langkah cepat. Panas matahari sudah mulai terasa. Apalagi bunyi klakson dan polusi udara bertebaran membuat suasana semakin berisik. Sayup-sayup ia mendengar seseorang meneriakkan namanya. Namun ia tak perduli, mungkin salah dengar.


"Bella!" Kali ini Bella mendengar jelas hingga ia berhenti dan menoleh. Ia sedikit kaget melihat Axel yang berjalan ke arahnya.


"Ngapain disini?" tanyanya spontan begitu Axel sampai di depannya.


"Aku akan mengantarmu, ayo" kata Axel meraih tangan Bella untuk di genggam.


"Ngaco! Kau mau semua orang tau tentang kita" Bella menolak saat Axel ingin meraih tangannya.


"Biarkan saja, Memangnya apa yang salah?" kata Axel mengangkat alisnya.


"Ya salah lah. Hubungan kita itu sudah salah. Dan memang tidak seharusnya kita bersama" kata Bella mulai kesal lagi kan.


"Kenapa tidak bisa? Bukankah setiap orang bebas menentukan pilihan masing-masing" kata Axel menatap dalam wajah Bella.


"Tapi tidak untuk kita. Kau tidak lupa kan, tentang apa yang pernah kau katakan. Bukankah kau sendiri yang melarang cinta ada diantara kita. Aku harap kau tidak akan terjebak" kata Bella balas menatap mata Axel.


Axel terdiam, ia menyesal sekali mengatakan hal itu. Nyatanya memang ia sudah jatuh cinta sedalam-dalamnya pada Bella. Bella tersenyum sinis, ia ingin kembali melanjutkan jalan tapi ucapan Axel menghentikannya.


"Bagaimana kalau memang aku terjebak?" ucap Axel menatap punggung Bella.


"Bagaimana kalau aku sudah jatuh cinta padamu?" ucapnya lagi. Ia ingat kata ibunya kalau wanita butuh pengakuan. Mungkin ia rasa ini saat yang tepat.


Bella menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia segera berbalik menatap Axel. Ingin mencari tau apakah ada kebohongan, tapi Axel menatapnya sangat serius.


"Jangan bicara omong kosong" kata Bella sarkas. Ia tak bisa percaya begitu saja. Sudah cukup hatinya terluka. Ia tak mau lagi terjatuh terlalu dalam.


"Aku minta maaf telah melakukan hal kasar padamu. Tapi percayalah, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya tidak bisa melihatmu bersama pria lain. Kau bisa tersenyum pada pria lain tapi kenapa bersamaku tidak" kata Axel menghela nafas sejenak. Ia meraih tangan Bella lagi. Kali ini Bella tak menolak.


"Bella, Iya aku cemburu melihatnya. Aku tidak bisa berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Karena selama aku mencintaimu aku akan selalu seperti itu. Itu semua aku lakukan karena aku takut kehilanganmu. Maafkan aku" ucap Axel lembut, sorotnya matanya tampak sendu menatap wajah cantik Bella yang selalu cantik seperti saat mereka bertemu pertama kali.


Ungkapan cinta Axel benar-benar membuat Bella kaget. Bella merasa perkataan Axel hangat dan manis membuat kekesalan Bella hilang entah kemana.


Happy Reading


TBC