MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Sama-Sama Terluka.



"Aduh Rin, Sorry kayaknya nggak bisa batal" kata Angga semakin bingung karena Karin ingin membatalkan kontrak ini.


"Kenapa nggak bisa? Toh, Kita juga belum ada pekerjaan" kata Karin dengan entengnya.


"Rin, Kamu serius mau batalin kerja sama ini?" tanya Angga lagi.


"Iya"


"Berarti kamu udah siap buat ganti rugi enam kali lipat gaji kamu disini?" perkataan Angga membuat Karin terhenyak.


"Apa maksud kamu?" ucapnya tak mengerti.


"Kamu tadi nggak baca kontraknya? Kalau kamu memutuskan kerja sama ini sepihak, kamu harus ganti rugi enam kali lipat gaji kamu" kata Angga memberikan kembali surat kontraknya pada Karin yang langsung membaca keseluruhan isinya.


Sial! Kenapa dia tidak tau kalau memang pemilik perusahaan ini adalah Dio, Padahal namanya tertulis dengan jelas dinnsamping tempatnya tanda tangan tadi.


Dio hanya diam memperhatikan Karin yang sengaja memutuskan kontrak setelah tau dirinya siapa. Ia menarik sudut bibirnya, masih ingin terus berlari rupanya. Baiklah, Akan aku ikuti permainan mu, pikir Dio.


"Biarkan saja ngga, Kita bisa cari model lain yang lebih profesional. Lagipula kita bakalan untung kalau dia batalin kerja sama ini" kata Dio tenang saja.


Karin menatap Dio tajam, Beraninya dia mengatainya tidak profesional. Tapi jika ia bersikap seperti ini, Ia memang sangat tidak profesional. Argh.... Kenapa ia tadi tak melihatnya dulu sih.


"Rin, Pikirin lagi deh, Ini peluang buat kamu. Kita kasih waktu sampai besok gimana?" kata Angga masih membujuk Karin karena menurutnya Karin ini sudah sangat cocok menjadi modelnya.


"Angga, Tak ada gunanya kau membujuk dia, Sudah aku katakan kan, kalau lebih baik kita cari model lain saja" kata Dio tak melepaskan tatapannya dari Karin.


"Nggak bisa gitu Bro, Karin ini udah cocok banget buat iklan ini. Aku juga sudah menghubungi klien kita kalau sudah mendapatkan modelnya dan mereka udah setuju kalau lusa kita bisa langsung take. Kalau mau cari model lain nggak bakal keburu, sedangkan waktunya cuma besok" kata Angga kini memijit kepalanya yang tiba-tiba berdenyut.


"Rin, Please jangan batalin ya?" Angga menatap Karin penuh harap.


Karin menarik nafas, menghembuskan perlahan. Ia harus tenang, lagipula kenapa ia harus gusar jika bertemu dengan Dio.


Exhale Inhale Karin.


"Baiklah" ucapnya langsung membuat Angga lega.


"Nah, gitu dong. Kalau gini kita sama-sama enak" kata Angga tersenyum lega.


Dio mengulas senyumnya saat Karin tak jadi membatalkan kerja sama ini. Akhirnya menyerah juga perempuan keras kepala itu, pikirnya.


"Apa kau yakin? Kita akan akan mendaki gunung untuk pemotretan ini" kata Dio seolah meremehkan Karin.


"Tentu saja, Itu bukan hal susah. Angga tadi juga sudah mengatakan padaku" kata Karin mengerutkan wajahnya karena sikap Dio yang meremehkannya.


"Baiklah, Angga. Siapkan saja semuanya, Lusa kita akan langsung berangkat" kata Dio langsung.


"Siap" kata Angga.


"Tadi dimana lokasinya?" tanya Karin yang memang belum tau lokasi pastinya.


"Gunung Rinjani Rin, Lombok" kata Angga.


"Jauh banget" kata Karin berpikir kalau tadinya akan ke Gunung Bromo karena itu gunung paling terkenal di Indonesia.


"Iya, Kita mau cari yang terbaru Rin. Kan jarang tuh ada yang ngadain pemotretan disana. View nya juga bagus" kata Angga lagi. Dio hanya diam menyimak.


"Oh oke, Berarti udah nggak ada lagi yang perlu di bahas kan? Apa aku sudah bisa pulang?" kata Karin merasa sudah cukup informasinya.


Karin juga ikut tersenyum sebelum bangkit dari duduknya. Ia sempat melirik Dio yang terus menatapnya sejak tadi, Tanpa basa-basi, Karin langsung menyelonong keluar ruangan itu.


******


Karin menggulung spaghetti miliknya berulang kali, tapi tak ada niat untuk memasukan spaghetti itu ke mulutnya. Karin merasa bosan dan entah memikirkan apa. Padahal di depannya sudah ada Nathan yang duduk dengan tenang seraya meminum kopinya.


"Jadi gimana? Udah keterima kerja?" tanya Nathan setelah keheningan cukup lama antara keduanya.


"Iya sudah" kata Karin seadanya.


"Lalu, kenapa kau tampak tidak bersemangat? Bukankah harusnya kau senang, karena bisa mendapatkan pekerjaan ini. Cita-citamu kan?" tanya Nathan mengerutkan dahinya.


"Aku hanya masih sedikit ragu, Karena ini proyek pertamaku. Aku takut gagal nanti" kata Karin tak mungkin mengatakan kalau di gusar karena satu kantor dengan Dio.


"Tenang saja, Kau pasti bisa Karin. Semangat dong, Impian udah di depan mata loh ini" kata Nathan mengulas senyum untuk menyemangati Karin.


"Iya, Makasih" kata Karin tersenyum tipis.


"Aku ke toilet sebentar" kata Nathan di balas anggukan oleh Karin.


Karin melemparkan pandangannya ke pemandangan lantai 20 yang indah. Kesunyian disana membuat dirinya tenang.


"Ehem...." Suara berat itu kembali terdengar, membuat Karin yang sibuk melihat jendela kaget bukan kepalang. Matanya menyipit memandang Dio yang duduk menggantikan Nathan tadi. Gayanya terlihat santai namun sangat menawan.


"Kau lagi? Kau sengaja mengikuti ku ya" kata Karin antara tak percaya dan kesal melihat Dio yang datang kesana. Ia menunjuk batang hidung Dio karena sangking kesalnya.


Dio mencondongkan tubuhnya, menyingkirkan telunjuk Karin yang masih mengarah padanya. dengan santai membuka ponselnya dan menunjukkan pada Karin.


Tertulis disana, Nathan mengajaknya makan bersama di restoran ini karena Cindy juga akan kesini.


"Bagaimana? Apa aku mengikuti mu? Tolong jangan terlalu percaya diri. Aku memang menyukai mu, tapi tak sebanyak yang ada di pikiranmu sekarang" kata Dio menyandarkan tubuhnya dengan santai. Karin mengerucutkan bibirnya, menandakan dia sedang kesal.


"Aku tidak perduli" kata Karin ketus.


"Benarkah? Kalau kau memang tidak peduli, kenapa kau terus menghindari ku? Apa ini karena kejadian lima tahun yang lalu?" kata Dio kembali mencondongkan tubuhnya dan menatap Karin serius.


Mendengar ucapan Dio membuat Karin terdiam, Ingatannya langsung melayang disaat malam menyakitkan bagaimana Dio menyentuhnya dengan kasar. Karin sangat ingat bagaimana rasa sakit itu sampai sekarang. Mata Karin bahkan langsung berkaca-kaca jika mengingatnya.


"Karin...Maafkan aku.." Ucap Dio dengan sungguh-sungguh, ia menyentuh tangan Karin dan menggenggamnya.


Mata Karin semakin mengembun, Ia menatap wajah Dio yang terlihat sangat menyesal. Hatinya ingin menerima, tapi kenapa rasanya tak bisa. Air matanya semakin tak terbendung.


"Aku sangat menyesal sudah melakukan hal itu, Aku benar-benar minta maaf..."


Sumpah demi apapun, Dio rasanya tak tega melihat Karin yang menangis seperti ini. Apalagi penyebab Karin menangis adalah dirinya. Jujur saja, pertemuan mereka terakhir kali adalah saat menyakitkan bagi keduanya, karena dia pun terluka karena Karin menolak pertanggung jawaban darinya.


"Wah....Kau sudah datang" terdengar suara Nathan mendekat membuat Karin langsung melepaskan genggaman tangan Dio. Ia juga mengusap air matanya dengan kasar agar Nathan tak melihatnya.


"Karin, Ada apa denganmu? Kau menangis?" kata Nathan langsung duduk di samping Karin dan melihat wajah wanita itu yang memerah.


"Oh, tidak..Sepertinya kemasukan debu, Aku ke toilet dulu" kata Karin buru-buru bangkit dan pergi darisana.


Happy Reading.


Tbc.