MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Pelukan Itu



"Bagaimana bisa dana sebesar ini keluar tapi pembangunan itu belum selesai juga. Ini sudah terlewat dari masa yang di janjikan. Kalian harusnya menekannya agar proyek itu segera selesai. Aku tidak mau tau apapun lagi tentang itu. Jika satu bulan ini mereka tidak bisa menyelesaikannya pecat saja mereka"


Axel membanting beberapa map yang berisi dokumen. Ia terlihat begitu kesal pada para karyawan yang menurutnya tak becus bekerja. Ia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut memikirkan segala masalah yang datang bertubi-tubi. Belum lagi Bella yang masih marah dan tak ingin menemuinya membuat Axel benar-benar tak bisa berfikir.


Ia menghabiskan waktunya dengan bekerja dan bekerja tanpa kenal lelah agar tak memikirkan wanita itu. Bukan, bukannya ia tak ingin memperbaiki segalanya. Axel sengaja memberikan waktu untuk Bella. Meskipun ia harus mati-matian menahan rasa ingin bertemu wanita itu. Tapi malam ini, Rasanya ia ingin menyerah.


Axel melajukan mobilnya ke rumah orang tuanya. Ia berharap bisa melihat wajah wanita itu meskipun dari jarak jauh. Setidaknya untuk mengobati rasa rindunya. Saat Axel tiba di rumah, ternyata ibunya belum tidur. Axel sedikit terkejut melihatnya.


"Ibu" ucapnya seraya mengambil tangan ibunya untuk bersalaman.


"Kamu baru pulang jam segini? Udah makan belum?" Tamara menatap wajah Axel yang terlihat pucat, lingkar matanya pun tampak terlihat. Sudah berapa malam anaknya ini tak tidur. pikir Tamara.


"Sudah, Ibu kenapa belum tidur?" Tanya Axel cukup heran.


"Ya, Ibu belum mengantuk" jawab Tamara seadanya. Ia memperhatikan Axel yang sejak tadi celingukan melihat ke sembarang arah seolah mencari sesuatu. Tamara mengulas senyum tipisnya melihat hal itu.


"Dia sudah tidur, tadi ibu baru saja memberikan vitamin dan susu" ucap Tamara.


"Benarkah? Apakah dia tidak apa-apa bu? Apa dia ingin sesuatu yang lain?" tanya Axel antusias.


"Bella baik-baik saja Axel, Mungkin besok sudah mulai sekolah" kata Tamara lagi.


"Apakah dia sudah sembuh?"


"Sejauh ini dia baik-baik saja, Selain itu Axel, ada hal penting yang ingin ibu bahas denganmu" kata Tamara mendadak berbicara serius.


"Hal penting?" Axel mengerutkan dahinya.


"Ya, Bella tadi bercerita kalau anak kalian lahir kalian akan berpisah, benar?" Tamara menuntut jawaban itu dari mulut anaknya.


Axel terdiam membuat Tamara menggelengkan kepalanya tak percaya. "Bagaimana bisa Axel? Apakah kau akan menelantarkan anakmu sendiri?" ucap Tamara dengan kesalnya.


"Itu memang yang di inginkan Bella Bu, Bella masih ingin mengejar cita-citanya. Aku tidak ingin sampai anakku menjadi batu sandungan untuk masa depannya kelak" kata Axel lirih. Sorot matanya menyuram membayangkan Bella akan meninggalkannya.


"Dan kau setuju begitu saja? Axel, menikah itu bukan sekedar berhubungan antara kamu dan Bella saja. Apakah kamu tidak memikirkan keluarganya? Bagaimana bisa anaknya yang baru saja melahirkan akan ditinggalkan oleh suaminya" kata Tamara ingin membuka mata hati Axel yang seolah beku.


"Kami sudah membicarakannya, Dan Bella setuju dengan hal itu. Lagipula dia sudah punya kekasih. Bisa saja setelah bercerai denganku dia akan kembali pada kekasihnya. Tentang anak itu ibu tenang saja, karena hak asuh akan jatuh di tanganku" kata Axel merasa nyeri mengatakan kenyataan yang menurutnya begitu pahit.


"Kenapa kamu berfikir Bella ingin menikah lagi? Tidakkah kamu berfikir kalau Bella juga ingin mempertahankan pernikahan ini?"


"Itu tidak mungkin" sergah Axel dengan yakin.


"Kenapa tidak?"


"Karena Bella tidak mencintaiku Bu"


"Bagaimana kau bisa begitu yakin? Kamu tau Axel? Wanita itu makhluk yang cukup unik. Dia biasa berkata tidak namun hatinya bilang iya. Dan wanita itu tak akan dengan gamblang menunjukan perasaanya. Dia lebih senang memendam. Ibu tau kamu mencintai Bella, Jadi jangan biarkan cintamu itu pergi karena kesalahanmu" kata Tamara memberi jeda sejenak ketika berbicara


Axel terdiam mencerna ucapannya ibunya. Apakah itu artinya masih ada harapan untuknya?


****


Axel membuka pintu kamar dengan sangat hati-hati. Rasanya sudah lama sekali ia tak masuk ke kamarnya ini. Pandangannya lalu bertumbuk pada sosok mungil yang tengah meringkuk dalam selimut. Axel menatap Bella dengan perasaan tak menentu.


Setelah melepas sepatu dan jasnya. Axel menjatuhkan tubuhnya di samping Bella. Ia memeluk tubuh Bella erat seraya memejamkan matanya. Menghirup dalam-dalam aroma rambut Bella yang begitu ia rindukan.


Bella merasakan sesuatu melingkari tubuhnya. Ia mengerjapkan kedua matanya melihat seseorang yang memeluknya erat. Dan sontak terkejut melihat Axel yang tidur disampingnya.


"Axel..kau" ucapnya kaget hingga terduduk dan ingin menjauhinya. Tapi Axel menahannya agar tak menjauh.


"Bella" panggil Axel lirih.


"Kenapa kau bisa disini?" Ucap Bella bingung, dia cukup takut Axel akan macam-macam padanya.


"Aku tau kau masih marah padaku, tapi izinkan aku tidur disini malam ini saja Bella" ucap Axel dengan sorot memohon.


"Kau gila, aku tidak bisa..


"Malam ini saja Bella, aku mohon" pinta Axel lagi dengan wajah sendunya. Ia tidak ingin apapun selain tidur memeluk Bella.


Bella terdiam mendengar permintaan Axel. Entah apa yang membuatnya menyetujui begitu saja. Tanpa mengucap sepatah katapun, Bella langsung berbaring begitu saja membelakangi Axel.


Axel rasanya begitu lega saat Bella mengizinkannya untuk tidur bersama. Ia menatap punggung Bella, ingin sekali rasanya ia memeluk tubuh Bella tapi Axel takut Bella akan marah.


"Apakah aku boleh memelukmu?"


Pertanyaan Axel membuat Bella terkesiap. Ia menggigit bibirnya bingung harus menjawab apa. Ia memilih mengangguk tanpa suara membuat Axel mengangkat tangannya dan memeluk tubuh Bella dari belakang. Bella tau seharusnya ia masih marah, tapi saat bertemu dengan Axel seolah kemarahannya lenyap begitu saja. Ternyata rasa cintanya lebih besar dari segalanya.


Malam itu Axel benar-benar memeluk Bella dengan erat sepanjang malam.


"Ya Tuhan, Aku benar-benar mencintai wanita ini" batin Axel tanpa sadar matanya sudah berair.


Ternyata Hal yang paling Axel takutkan adalah takut kehilangan Bella. Membayangkan saja Axel tak bisa, ia pasti tak akan sanggup. Axel berjanji tidak akan membuat Bella terluka. Ia akan selalu menjaganya melebihi nyawanya sendiri. Itulah janjinya.


*****


Mohon maaf atas keterlambatan up ya kakak..


HAPPY READING


TBC