MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Akhir Kisah Bianca.



"Saya juga berterimakasih Tuan Axel. Anda memang yang terbaik" Ucap Robert mengangguk pada Axel.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Selamat bersenang-senang" kata Axel menatap Bianca sebentar sebelum berlalu pergi dari sana.


"Axel! Kau mau kemana? Axel jangan tinggalkan aku" Bianca mencoba mengejar Axel, tapi Tuan Robert malah menghadangnya.


"Mau lari kemana Sayang? Sudah cukup aku memberimu kebebasan, sekarang waktunya kembali pulang" kata Tuan Robert menatap Bianca yang mulai meronta.


"Tidak mau. Cepat lepaskan aku. Pergilah pria menjijikkan" teriak Bianca kesal.


Plak


Sebuah tamparan keras langsung mendarat di pipi mulus Bianca. Robert ternyata mulai muak dengan sikap Bianca. Ia memegang dagu wanita itu agar menatap dirinya.


"Apa maksudmu menyebutku menjijikan? Apa nggak cukup semua yang kau minta sudah aku turuti. Bianca! Apa kau kira aku tidak cemburu melihatmu mengejar Pria itu siang malam. Seharusnya kau sadar diri semenjijikan apa dirimu ini? Apa kau pikir Axel akan mau jika mengetahui siapa kau sebenarnya" cecar Robert menghempaskan wajah Bianca dengan kasar. Ia menatap sinis pada wanita di depannya.


"Kau yang harusnya sadar diri! Dasar tua bangka!" teriak Bianca tak terima di hina seperti ini. Pipinya terasa sangat panas karena tamparan Robert yang begitu keras.


"Kau sudah mulai kurang ajar sekarang! Sepertinya aku harus memberitahumu seberapa rendah nilaimu di mataku" ucap Robert begitu geram.


Robert segera memanggil kedua anak buahnya yang langsung tau apa yang harus mereka lakukan. Mereka lalu mengikat kedua tangan Bianca.


"Apa yang mau kau lakukan Brengsek!" Teriak Bianca merasa sangat marah. Kenapa seharian ini hidupnya sial sekali.


Robert menatap Bianca dengan sinis. Ia lalu duduk berjongkok mengamati wajah Bianca yang menurutnya selalu cantik.


"Kau dulu wanita favoritku, Kau sangat cantik dan aku sangat menyukainya" kata Robert dengan emosi menjambak rambut Bianca hingga wajahnya mendongak ke atas.


"Lepaskan tanganmu!" sentak Bianca mengeryit jijik. Ia sedikit meringis karena rambutnya terasa sakit.


"Tapi karena kecantikan mu inilah yang membuatmu terus ingin lari dariku. Jadi, Aku harus merusak wajah cantik ini agar tak bisa lari lagi dariku, bukan begitu sayang?" Robert lalu mengayunkan pisau yang disimpannya sejak tadi ke pipi Bianca yang mulus hingga darah mengalir dari pipi Bianca.


"Argh! Sakit!" Teriak Bianca menahan nyeri yang luar biasa di pipinya.


"Kau dulu wanitaku yang patuh, Tapi Kau sekarang menjadi pembangkang" Tak perduli Bianca yang kesakitan. Robert kembali menggores lengan Bianca yang terbuka hingga darah menetes membasahi lantai.


"Sakit!!! Tolong, Ampuni aku. Aku sudah tidak tahan.. Tolong bunuh saja aku" Teriak Bianca begitu frustasi. Ia tak sanggup lagi menahan siksaan ini.


"Membunuhmu? Aku terlalu sayang membunuh wanita secantik dirimu" kata Robert dengan seringai kejinya. "Kalian! Bersenang-senanglah dengan wanita ini sebelum aku membuat dirinya tak menarik lagi" Perintah Robert pada dua anak buahnya.


Dua anak buah Robert tampak saling pandang, Namun kemudian tersenyum, menatap Bianca dengan penuh gairah.


"Jangan! Jangan aku mohon! Robert jangan lakukan itu padaku! Robert, Demi masa lalu kita, jangan lakukan itu aku mohon" Bianca mengiba memohon belas kasih yang tersisa.


Bianca hanya menatap nanar pada Robert, Air matanya terus mengalir merasakan siksaan yang begitu menyakitkan. Kenapa dia tidak di biarkan mati saja? Bahkan sekarang sendi- sendinya terasa ingin copot dari tempatnya. Robert bahkan sudah membunuh jiwanya sebelum raganya.


Robert hanya diam menyaksikan pemandangan di depannya. Dulu ia memang sangat mencintai Bianca karena wajahnya yang cantik dan tentunya pelayanan yang memuaskan. Jika ditanya bagaimana mereka bisa kenal?


Sejujurnya, Bianca adalah tangan kanan Ayahnya sendiri. Ia biasa menggoda atau bahkan berkencan dengan bos bos besar agar pekerjaan mereka mulus. Dengan kemampuan analisis yang biasa saja, Jordan sangat sulit untuk menggaet para investor. Jadi ia menggunakan anaknya sendiri sebagai pancingan. Termasuk Robert tentunya.


Tapi sialnya, Robert malah jatuh cinta pada wanita yang sepantasnya menjadi anaknya itu. Dia di perbodoh dengan rasa cinta hingga mau menuruti apa kemauan Bianca. Bahkan jika Bianca mau, Robert bisa saja meninggalkan keluarganya. Tapi ternyata cintanya saja tak cukup membuat wanita itu mau dengannya. Bianca malah memilih mengejar pria yang sama sekali tak menginginkannya.


Robert tak terima. Jadi ketika Axel menghubunginya, ia langsung datang menjemput wanita pujaannya itu. Tapi lagi-lagi Bianca menolak dirinya. Robert marah karena merasa tak di inginkan. Baiklah, Jika itu yang Bianca mau. Setidaknya jika tak bersamanya, Tak ada lagi yang akan mau dengan Bianca.


****


"Gila! Beritanya langsung Boom menguap begitu aja? So Easy Bro?"


Jofan berdecak melihat berita tentang Axel hilang begitu saja setelah Bianca memberikan klarifikasi. Bahkan kini akun sosial media Bianca yang panen hujatan karena dianggap sebagai wanita tak tau diri.


"Sebetulnya hal kayak gini mudah banget kan buat Lo? Kenapa Lo mesti biarin masalah ini sampai berlarut larut" ucap Jofan lagi menatap Axel dengan penasaran.


Axel hanya menarik sudut bibirnya. "Gue pengen lihat sejauh mana di bertindak. Ternyata cuma gini doang" kata Axel seadanya.


"Hem, Tapi menurut sifatnya yang nggak pantang menyerah, Apa lo nggak mikir, Suatu saat dia akan balik nyerang Lo" kata Jofan berfikir kedepan. Ia sudah cukup tau tipe wanita seperti apa Bianca ini.


"Itu nggak mungkin terjadi" Kata Axel serius.


"Kenapa Lo begitu yakin? Apa lo udah habisin dia?" Mengingat sifat Axel yang tak suka basa basi dan cukup tak tertebak. Bisa saja kan ia menghabisi Bianca, pikir Jofan.


"Nggak, Gue nggak bunuh dia. Yah, meskipun gue ingin. Tapi kalau ada yang lebih mau? Kenapa harus gue" kata Axel seadanya.


"Yang lebih mau? Maksud Lo?"


"Robert! Pemilik RHK group. Gue nggak tau hubungan seperti apa yang mereka miliki. Tapi Gue yakin, Robert punya masalah sendiri dengan wanita itu. Ibarat sekali tepuk dua lalat akan mati. Gue bisa balas dendam tanpa harus mengotori tangan gue sendiri. Bukankah itu sangat menarik?" Kata Axel menyeringai. Ia cukup puas dengan rencananya.


"Bravo! Lo bener-bener hebat. Tapi kok gue agak ngeri ya temenan sama Lo. Salah dikit aja, Lo mainnya langsung Nyawa! Sadis Man" kata Jofan menatap Axel tak percaya.


Axel yang paling pendiam di antara temannya ternyata punya sisi mengerikan yang tak tertebak.


"Udah, Gue mau cabut dulu. Kabarin gue kalau Lo udah ada hasilnya" kata Axel mengibaskan tangannya sambil lalu.


Happy Reading


Tbc