MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Kesalahan Terbesar



"Aku berhak atas dirimu selama pernikahan kita masih sah. Seberapa pun kau menolak, aku tetaplah suamimu" kata Axel mencengkram lengan Bella yang kecil.


"Kau memang suamiku, tapi bukan berarti kau bisa bersikap seenaknya padaku. Aku harap anak ini segera lahir agar aku bisa cepat pergi dari sini! Kau sungguh membuatku muak!" bentak Bella meringis kesakitan karena cengkraman tangan Axel yang begitu erat.


Axel semakin mengencangkan cengkraman nya. Ia semakin tersulut dengan perkataan Bella. Kenapa wanita ini begitu ingin pergi meninggalkannya. Axel merasa tak terima, Apakah ia hidup hanya untuk di tinggalkan saja?.


"Baik, jika itu mau mu! Karena sekarang kau masih istriku, kau harus melayaniku!" kata Axel menatap Bella dengan bengis.


"Kau gila! Cepat lepaskan aku!" teriak Bella mecoba berontak tapi usahanya itu sia-sia karena Axel begitu kuat.


Tiba-tiba tubuhnya ditarik hingga menabrak dada bidang Axel. Belum sadar dari kekagetannya, Bella langsung merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh bibirnya. Bella semakin kaget, Apalagi Bella bisa merasakan aroma alkohol yang menyeruak.


"Ehmmm...." Bella menggelengkan kepalanya untuk menghindari ciuman Axel.


Axel meluapkan kekesalannya dengan mencium bibir Bella dengan brutal. Tidak ada kelembutan sama sekali dalam ciuman itu. Ia hanya ingin membuat wanita ini tunduk dan tak akan meninggalkannya. Apalagi pengaruh alkohol yang mulai bekerja membuat Axel tak memikirkan apapun lagi.


Bella rasanya ingin menangis mendapatkan perlakuan seperti ini. Axel benar-benar kasar. Bella semakin benci dengan pria itu. Axel bahkan tak segan merobek baju seragam milik Bella hingga kancing bajunya berserakan.


"Axel, Lepas!" Ucap Bella sesaat Axel melepaskan ciumannya.


Axel menatap lapar benda padat yang sudah lama sekali tak dilihatnya. Nafasnya semakin memburu dan gairahnya terpancing. Ia langsung menggendong tubuh Bella dan sedikit melemparkannya ke kasur.


"Argh!!" Teriak Bella kaget karena sikap Axel. Ia menjadi takut melihat wajah Axel yang begitu menyeramkan menurutnya.


"Axel, kau mau apa! jangan mendekat!" teriak Bella saat Axel ingin mendekatinya.


Axel menyeringai melihat Bella yang ketakutan. Ia melepaskan dasi dan bajunya hingga ia hanya bertelanjang dada. Ia segera mendekati Bella yang terus mundur hingga punggungnya menyentuh kepala ranjang.


"Axel, jangan coba-coba! Aku ini sedang hamil" teriak Bella begitu frustasi antara cemas dan takut menjadi satu. Mungkin dengan menggunakan anaknya, bisa menghentikan pria gila ini pikirnya.


Tapi Axel seolah tuli, dengan sekali tarikan saja ia sudah berhasil mengungkung tubuh Bella. Ia kembali mencium bibir Bella dengan rakus. Tangannya dengan lihai melepaskan satu persatu kain yang melekat di tubuh Bella. Axel juga memberikan tanda merah di seluruh tubuh Bella seolah menandai kalau Bella adalah miliknya.


"Axel...Sakit.." rintihan Bella terdengar namun tak membuat Axel berhenti.


Seberapapun Bella menolak dan mencakar tak menghentikan Axel yang sepertinya sudah kerasukan. Ia menyetubuhi Bella dengan sangat k kasar. Membuat Bella merasakan kesakitan di seluruh tubuhnya.


"Argh...Kenapa kau begitu enak sekali" ucap Axel mendesis nikmat merasakan miliknya begitu terpuaskan. Ia mempercepat gerakannya, dan seketika tubuhnya ambruk begitu ia mencapai pelepasannya.


Axel bahkan langsung pergi begitu saja setelah menyelesaikan semuanya. Meninggalkan Bella yang sudah tak berdaya di kasur yang penuh jejak percintaan mereka. Axel tak menyadari dengan apa yang diperbuat pasti akan sangat disesalinya.


"Aku membencimu Axel" batin Bella seraya memejamkan matanya erat. Ia memilih menangis dalam diam.


****


Keesokan harinya Axel terbangun saat matahari sudah meninggi. Kepalanya teras berat sekali, dan dia kini merasa menyesal setelah mengingat apa yang dilakukannya semalam. Ia mengutuk dirinya yang tak bisa mengendalikan diri.


Kenapa ia harus marah melihat Bella jalan dengan pria lain? Bukankah dia sendiri yang mendorong wanita itu untuk menjauh? Lalu kenapa sekarang ia menjadi tak rela jika Bella bersama orang lain? Axel merasa menjadi orang paling egois. Dia tak pernah sekalipun memikirkan perasaan Bella. Ia sibuk dengan rasa sakit hatinya sendiri. Sekarang Bella pasti akan semakin membencinya.


Saat Axel masuk ke kamar ia merasa miris melihat baju Bella yang sobek berserakan di lantai. Dia lalu menatap Bella yang masih tertidur pulas. Wajahnya masih sangat cantik namun bibirnya terlihat biru dan ada sedikit luka yang sepertinya akibat perbuatannya.


"Bella..!" panggilnya mencoba membangunkan. Namun tak ada respon sama sekali.


"Bella.." Panggil Axel lagi seraya menyentuh pelan bahu Bella dan ia seketika terkejut merasakan tubuh Bella yang sangat panas.


Saat Axel ingin keluar dari Apartemen tak sengaja berpapasan dengan Ibunya yang memang datang karena ingin bertemu putranya.


"Axel.. Kenapa dengan Bella?" tanya Tamara menatap cemas menantunya yang terlihat pucat.


"Dia pingsan, Aku mau membawanya ke Rumah sakit" jawab Axel tergesa.


"Astaga! Bagaimana bisa? Apakah dia sakit?" tanya Tamara lagi.


"Ibu, Tolong bertanya nanti saja" kata Axel dengan wajah panik yang sangat terlihat.


"Ya, ya cepat bawa ke Rumah sakit. Apalagi dia sedang Hamil. Ibu akan menemanimu" kata Tamara dan langsung di iyakan oleh Axel.


****


Axel membawa mobilnya sudah seperti orang kesetanan. Jika sampai terjadi sesuatu pada Bella dan bayinya, ia pasti tak akan bisa memaafkan dirinya. Ia bahkan tak bisa duduk tenang saat menunggu Bella ditangani Dokter.


"Axel, kamu tenang dulu nak. Bella pasti baik-baik saja" tutur Tamara melihat anaknya yang tidak bisa diam.


"Ini salahku Bu. Bella begini karena aku" kata Axel benar-benar menyesal.


"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Tamara menatap anaknya.


Axel terdiam sesaat. Apakah ia harus cerita ke ibunya kalau dia marah karena Bella jalan dengan pria lain sampai ia memperkosa istrinya sendiri?.


"Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau bercerita. Tapi Ibu hanya ingin mengatakan. Kalau dalam rumah tangga pasti ada ujian. Dan kamu harus sabar jika menghadapinya. Jangan terlalu mengedepankan emosi. Kamu juga harus ingat, apa alasan kalian menikah. Apalagi Bella masih muda, dia pasti masih ingin bersenang-senang. Ibu harap kamu harus mengerti hal itu" tutur Tamara seolah mengerti kebingungan yang dirasakan putranya.


Axel hanya diam saja, dalam hatinya ia membenarkan perkataan ibunya. Tak lama Dokter yang menangani Bella keluar dan mengatakan kondisi Bella.


"Keadaanya stabil, Untunglah bayi dalam kandungannya tidak apa-apa. Saya mengerti, mungkin masih pengantin baru dan lagi mesra-mesranya. Tapi lain kali tolong dikurangi ya pak frekuensinya. Jangan terlalu sering" Ucap Dokter Obgyn mengerlingkan sebelah matanya.


"Ya dok terimakasih" sahut Axel datar saja.


"Saya sarankan untuk satu atau dua bulan ini puasa dulu ya pak. Dan untuk Nona Bella harus bad rest dulu selama seminggu untuk mengurangi flek yang dialaminya" Kata Dokter itu lagi.


"Baik Dokter. Apakah saya sudah bisa melihat istri saya?" sahut Axel sepertinya mulai cukup kesal dengan tingkah dokter ini.


"Ya, silahkan"


Axel langsung masuk begitu mendapatkan izin. Ibunya menyusul dibelakang. Ia melihat Bella yang sudah sadar. Axel tersenyum lega.


"Hei..Sudah bangun" ucapnya lembut berbeda sekali dengan ulahnya semalam.


Tapi apa yang didapat?


"Pergi! Gue nggak mau lihat Lo!" Teriak Bella begitu melihat dirinya datang.


Detik itu juga. Axel semakin sadar kalau dia telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.


Happy Reading


TBC