
Axel lalu menggunakan kakinya untuk mendorong kaki Bella agar menyambut dirinya. Perlahan-lahan ia mendorong miliknya ke lembah hangat yang masih terasa begitu legit dan ranum meskipun sudah berkali-kali memasukinya.
"Ah.." Lenguhan dan des*han keduanya saling bersahutan seiring kegiatan yang mereka lakukan. Bibir mereka saling bertaut dengan nafas yang kian memburu.
Namun suasana syahdu itu harus terganggu oleh bunyi ponsel Axel yang kembali berdering. Konsentrasi keduanya langsung terpecah begitu saja.
"By! Ponselmu berbunyi" ucap Bella diantara nafasnya yang terengah karena Axel masih menari diatas tubuhnya.
"Biarkan saja" sahut Axel merasa tanggung jika menghentikannya karena sebentar lagi, ia akan keluar.
"Angkat dulu By! Siapa tau penting" kata Bella menahan dada suaminya saat ingin kembali menciumnya.
"Sayang, Ini sangat tanggung. Aku akan segera menyelesaikannya" kata Axel tak begitu perduli dan ingin mencium Bella.
Tapi ponselnya terus berdering membuat dia begitu kesal karena benar-benar terganggu. Ia rasanya ingin sekali membunuh siapa orang yang menelponnya. Ia segera mengambil ponselnya tanpa melepas penyatuannya.
"Siapa?" tanya Bella.
"Ayah" sahut Axel sedikit mengerutkan dahinya saat melihat Ayahnya yang menelpon. Karena tak biasanya Ayahnya menelpon jika tidak ada sesuatu yang penting. Axel segera mengangkatnya.
"Halo, Axel?"
"Ya Yah? Ada apa menelpon sepagi ini?" tanya Axel dengan gayanya yang malas.
"Pagi katamu? Sekarang lihat jam berapa" Ayah Indra terdengar menggerutu karena sekarang sudah jam 10 tapi anaknya bilang masih pagi.
"Ya, ini semua karena menantu mu yang terlalu bersemangat membuatkan cucu untuk mu sampai membuatku lupa waktu" sahut Axel membuat Bella membesarkan matanya. Ia tertawa tanpa suara melihat wajah istrinya yang kesal.
"Baiklah terserah apa katamu! Ayah hanya ingin mengatakan kalau hari ini Rafael ingin bertemu denganmu. Dia ini investor besar, anak kenalan Ayah. Ayah sudah mengirimkan profil nya padamu" kata Ayah Indra To the point.
"Tidak bisa. Aku sudah mengambil cuti dan tidak ingin diganggu oleh pekerjaan" sahut Axel sedikit kesal karena Ayahnya tidak tau situasi.
"Axel! Ini kesempatan langka. Ayah yakin, dengan bekerja sama dengannya. Perusahan akan semakin berkembang"
"Aku tidak berminat. Banyak investor besar lainnya yang siap bekerja sama dengan perusahaan kita" kata Axel masih kekeh dengan pendiriannya. Ia ternyata cukup keras kepala jika sudah memutuskan sesuatu.
"Tapi kali ini berbeda Axel! Dia benar-benar pengusaha muda yang sukses. Ayah sangat beharap bisa bekerja sama dengannya"
"Kalau begitu Ayah saja yang bekerja sama dengannya. Jangan memaksaku" kata Axel semakin kesal karena Ayahnya terlalu berlebihan memuji kehebatan orang itu.
Bella mengerutkan dahinya melihat wajah suaminya yang kesal. Ia bertanya dengan gestur mulutnya tapi Axel mengacuhkannya membuat Bella cemberut. Bella lalu tersenyum usil, ia menggerakkan tubuhnya dengan gerakan er*tis.
"Bella, Apa yang aku lakukan" Axel menahan desis anya karena tingkah Bella yang menggodanya.
"Axel! Kau tidak mendengar ayah? Ini peluang besar dan kau harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin" kata Ayah Indra lagi masih membujuk Anaknya.
"Argsss... Iya Ayah.. Nanti akan.. Sstt..Bella.." Axel semakin mendesis saat kini Bella semakin cepat menggerakkan tubuhnya. Ia lupa kalau Ayahnya masih mendengar suaranya yang grusak grusuk.
Bella tersenyum, ia mengambil jari Axel ada mengulumnya dengan gerakan menggoda. Axel semakin tak tahan melihat wajah Bella yang ho*ny.
"Axel! Kau sedang apa? Dasar anak tidak tau malu, Bisa-bisanya telepon sambil bercinta" Ayah Indra menggerutu kesal karena anaknya. Ia segera mematikan sambungan teleponnya.
Axel langsung membuang ponselnya setelah panggilan usai. "Sudah mulai berani ya sekarang?" bisiknya begitu gemas dengan istrinya.
"Bukankah itu menyenangkan By" kata Bella tertawa kecil.
"Dasar Nakal! Aku akan membalas mu Nyonya" kata Axel mencium bibir Bella dengan rakus dan membuat Bella kembali mend*sah seiring hujaman senjatanya yang menyesakkan.
****
"By, Apa aku tidak apa-apa ikut?" tanya Bella yang sore itu sudah begitu cantik dengan balutan dress berwarna peach.
"Tidak apa-apa. Kau kan istriku, Jadi kemanapun aku pergi, kau harus ikut" kata Axel mencium tangan istrinya lalu mengajaknya masuk kedalam restoran yang sudah dipesan untuk pertemuan mereka.
Axel mengedarkan pandanganya mencari sosok Rafael yang fotonya sudah dikirimkan Ayahnya tadi. Tapi ia belum melihatnya.
"Yang Mana By orangnya?" tanya Bella ikut celingukan.
"Tidak tau. Sebentar, aku akan menelponnya" kata Axel mengambil ponselnya.
"Tuan Axe!" terlihat seorang pria muda tergopoh-gopoh mendatangi mereka.
"Ya?" sahut Axel mengangkat alisnya.
"Perkenalkan, Saya Leo asistennya Tuan Rafael" Leo mengulurkan tangannya dengan senyum ramah.
"Lalu dimana dia?" tanya Axel setelah mereka berjabat tangan.
"Tuan Rafael ada di privat room. Mari, Saya antar" kata Leo memimpin jalan terlebih dahulu.
Axel meraih tangan Bella dan mengikuti Leo menuju privat room yang berada di ujung restoran.
"Beliau sudah menunggu anda Tuan, Silahkan masuk" kata Leo masih dengan senyum ramahnya.
"Baiklah, Terima kasih" kata Axel lalu memasuki privat room. Tapi apa yang dilihatnya sungguh membuatnya kaget.
Bella sendiri kaget saat melihat dua orang pria dan wanita tengah berciuman panas. Dengan sang wanita duduk dipangkuan sang pria. Axel langsung kesal dengan hal itu. Bagaimana bisa, Rafael malah berasyik-masyuk saat ingin bertemu klien.
"Ehem!" Axel berdehem keras untuk membuat dua orang tak tau malu itu sadar.
Dan benar saja, keduanya langsung kaget dan segera menyudahi aktivitasnya. Tapi Rafael merubah wajahnya menjadi biasa saja seolah tak terjadi apapun.
"Ah, Tuan Axel. Anda sudah datang" kata Rafael berdiri menyambut Axel.
Rafael memiliki tubuh yang tinggi tegap. Wajahnya tampak blasteran dengan hidung mancung dan bibirnya yang tipis. Bella mengakui kalau Rafael tampan, namun baginya tetap Axel yang lebih tampan.
"Ya, Apakah anda sudah selesai? Jika belum, saya akan pergi. Kita bisa mengatur jadwal kembali" kata Axel dingin, tatapan matanya begitu tajam.
"Oh..Wait..Wait..Tuan Axel. Kenapa harus terburu-buru. Aku minta maaf dengan apa yang aku lakukan tadi. Jadi, bisakah kita melupakan hal itu dan berkenalan dengan benar?" kata Rafael tenang seolah tak terpengaruh oleh sikap dingin Axel.
"Kau sudah mengenalku kan. Tak perlu bertele-tele. Aku sangat sibuk dan tak ada waktu meladeni mu" kata Axel terusik dengan ketenangan Rafael.
"By...Sabar By" Bella harus mengelus lembut lengan suaminya untuk mengurangi kekesalan dalam diri Axel.
Mendengar suara lembut Bella, Rafael langsung memusatkan tatapannya pada sosok Bella. Ia menatap Bella dari atas sampai bawah seperti men-scanning tubuh Bella. Dan ia langsung menemukan satu kata untuk wanita didepannya ini.
"Sempurna"
Happy Reading.
Tbc.
Hayoo... yang suka lupa pencet tombol like siapa? wkwkkk.. Othor nggak dikasih kopi nggak apa-apa asalkan likenya lancar terus... 😂😂😂 Btw.. Ini othor kasih visualnya Rapahel yakk..