MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Hanya Milikku Selamanya



Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka sudah berada di area puncak. Jofan memutuskan mengajak kekasih dan juga adiknya untuk menginap karena merasa kondisi jalan yang pastinya di tutup karena hujan lebat. Bella yang sejak tadi diam sempat memprotes ide Jofan, tapi setelah mendengar alasan Jofan, dia berfikir ada benarnya juga. Apalagi sekarang tubuhnya terasa tidak fit.


Kepalanya kembali pusing dan perutnya mual. Bella baru ingat jika dia belum sarapan apapun sejak tadi pagi. Dan sekarang sudah pukul dua siang, pantas saja perutnya terasa perih sekali.


"Kak, bisa mampir ke tempat makan dulu nggak, Bella laper nih" keluh Bella merasa tak kuat jika diteruskan lebih lama lagi.


"Ya ampun bel, Lo kok pucet banget sih! Lo kenapa? Sakit?" Tiara baru menyadari jika wajah Bella benar benar pucat.


"Nggak! Gue laper, dari pagi belum sarapan" ucap Bella dengan suara lemahnya.


"Kok bisa sih? Lo kan punya magh" seru Karin ikut melihat kearah Bella.


"Gue nggak papa kok" Sungguh Bella tak ingin merepotkan semua orang.


"Nggak papa gimana, muka Lo udah pucet gini! Kakak burunan nyetirnya" sentak Tiara cemas jika Bella sakit.


"Iya" sahut Jofan merasa ikut panik mendengar suara adiknya.


Axel kembali melirik cemas kearah Bella. Anak itu, bagaimana bisa bilang tidak apa-apa sedangkan tubuhnya begitu lemas. Apa dia memang sudah terbiasa telat makan seperti ini pikirnya.


Sekitar lima belas menit, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah makan yang cukup sederhana namun terlihat nyaman. Hujan masih belum reda, meskipun tidak se deras tadi. Semua orang sudah turun ketika ponsel Axel berdering. Ternyata dari Ibunya. Axel segera mengangkatnya. Setelah beberapa menit akhirnya panggilan berakhir dan dia segera menyusul yang lain. Ternyata Bianca belum masuk, dia memilih menunggu Axel.


"Kenapa tidak masuk dulu?" tanya Axel mengerutkan dahinya.


"Aku menunggumu" kata Bianca seadanya.


"Baiklah, ayo kita masuk! Tak enak jika mereka melihat kita berdua seperti ini" kata Axel membuat Bianca lagi lagi mengulum senyumnya. Kenapa susah sekali meluluhkan hati Axel.


Bianca berjalan terlebih dulu, dia menatap rombongannya tadi tampak sudah berkumpul di salah satu meja. Saat Bianca hendak menuju ke arah mereka, entah kenapa tiba tiba kakinya terkilir. Dan Axel yang memang berada di belakangnya dengan sigap menangkap tubuh Bianca dengan memeluk pinggang rampingnya. Bianca menatap wajah Axel yang kini begitu dekat dengannya, Alisnya yang tebal, hidung mancungnya, bibirnya yang tipis dan juga matanya yang hitam seperti galaxy malam. Bianca terperangkap dengan mata indah itu.


Kejadian itu tentu saja di lihat oleh Bella dan yang lainnya. Karin menatapnya dengan sendu, dia tentu merasa cemburu melihat adegan yang menurutnya romantis. Dia juga ingin di peluk begitu mesra oleh kak Axel.


"Hiks.. gue juga pengen" kata Karin dengan wajah sedihnya.


Sedangkan Bella menatapnya dalam diam, dia mengamati tangan Axel yang melingkar di pinggang wanita itu. Dan tangan wanita itu tampak bergelayut manja di leher Axel dengan tujuan supaya tidak terjatuh. Entah kenapa melihat hal itu perut Bella langsung bergejolak ingin muntah, padahal dia belum makan apapun.


"Ya ampun! Bella! Lo kok pucet banget Kenapa?" Tiara berteriak kaget melihat wajah Bella bagai tak di aliri darah.


"Mu...Al" Bella memberikan gestur ingin muntahnya. Dia segera berdiri dan berlari ke toilet.


Suara teriakan Tiara barusan menyadarkan Axel dengan apa yang sudah terjadi. Dia begitu kaget saat melihat Bella yang berlari ke arah toilet. Tanpa sadar dia melepaskan tangannya pada Bianca membuat wanita itu terjatuh.


"AW... Sakit! Axel kenapa kau melepaskannya" Bianca menjerit kesakitan karena pan-tatnya terbanting ke lantai.


Axel tak memperdulikannya, dia bergegas mendatangi Bella saat ini.


"Axel.. tunggu! Kau mau kemana?" Bianca berteriak untuk memanggil Axel, dia merasa tak terima di perlakukan seperti ini.


Jofan dan Diana pun ikut panik melihat keadaan Bella. Mereka juga cukup bingung melihat Axel yang tampak begitu khawatir pada Bella. Jofan merasa hal itu cukup aneh baginya, karena Axel itu terkenal cuek dan dingin pada wanita manapun. Tapi dengan Bella?.


"Kau mau kemana?" tanya Jofan menghalangi langkah Axel yang akan ikut ke toilet. Sedangkan Diana mendatangi Bianca yang tampak dibantu oleh beberapa pelayan yang ada di sana.


"Gue mau lihat keadaan Bella" kata Axel dengan wajah cemasnya.


"Lo gila! Dia ada di toilet perempuan, Disana juga ada Tiara dan Karin" Jofan semakin mengerutkan dahinya melihat sikap Axel.


"Kenapa Lo begitu peduli sama Bella? Apa ada hal lain yang belum gue ketahui?" Jofan langsung to the point' membuat Axel meliriknya namun dia hanya memilih bungkam.


****


Di dalam toilet, Bella memuntahkan semua isi perutnya hingga mulutnya terasa begitu pahit. Setiap dia mengingat Axel dan Bianca saling bersentuhan perutnya Kembali bergejolak hebat. Hingga Bella merasa begitu lemas dan pandangannya kabur. Setelah itu semuanya terasa sunyi dan gelap.


"Dia pingsan"


Karin dan Tiara menunggu dengan cemas di depan toilet. Mereka benar -benat khawatir dengan keadaan Bella.


"Bel.. Lo nggak papa?"


"Kita masuk ya?"


"Bel...Bella"


Mereka mencoba mengetuk pintunya beberapa kali namun Bella tak menyahut. Membuat mereka saling pandang. Dengan segera mereka mendobrak pintu toilet yang ternyata tidak terkunci. Alangkah terkejutnya saat mereka melihat Bella yang sudah terbaring di lantai.


"Astaga! Bella! Lo kenapa" Karin bergegas mendatangi Bella yang pingsan. Dan Tiara memilih keluar untuk mencari bantuan.


"Kakak! Bella pingsan Kak!" ucap Tiara dengan wajah paniknya.


Jofan dan Axel yang mendengar itupun begitu terkejut. Axel bahkan langsung berdiri hingga kursi yang ia duduki terjungkal. "Dia dimana?" tanya Axel tak sabar.


"Di toilet"


Secepat kilat Axel langsung menuju toilet tempat dimana Bella berada. Mata Axel membesar melihat tubuh lemah Bella yang tampak pucat bagikan mayat.


"Kita harus membawanya ke dokter" Axel tak membiarkan Karin berbicara sedikitpun, dia bahkan langsung mengangkat tubuh Bella dari pangkuannya.


Karin dibuat bengong dengan sikap implusif Axel. Karin berfikir kenapa begitu panik melihat Bella sakit? Apa kak Axel menyukainya. Tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkannya. Karin segera bangkit dan menyusul yang lainnya.


****


"Jo, Lo yang bawa mobil, Yang lain Tunggu disini dulu" Ucap Axel yang tak sabar ingin Bella segera mendapat pertolongan.


Jofan yang melihat wajah serius Axel langsung mengiyakan tanpa banyak tanya. Dia sudah hafal jika Axel kali ini sedang sangat khawatir. Jadi di lebih memilih diam, meskipun banyak tanda tanya dihatinya saat ini.


"Diana, Aku anter Bella dulu, kamu disini sama yang lainnya, nanti aku kabari" Jofan merasa perlu berpamitan lebih dulu pada tunangannya.


"Iya tenang aja, Aku aman kok disini" Diana tau jika Jofan juga mengkhawatirkan dirinya.


"Baiklah, see you" Tak lupa Jofan mengecup kening Diana sebagai ritual wajibnya.


Bianca yang sejak tadi diam kini merasa benci pada Bella yang sebenarnya tidak salah apa-apa itu. Selama mengenal Axel, tak pernah sekalipun dia melihat pria itu begitu khawatir. Jadi melihat sikap Axel barusan, Bianca merasa jika wanita itu cukup menarik perhatian Axel.


"Nggak! Nggak akan aku biarkan dia merebut Axel dari aku, dia itu hanya milik aku selamanya" batin Bianca merasa marah dan juga cemburu. Dia bertekad harus mendapatkan Axel bagaimanapun caranya. Meskipun itu harus dengan cara kotor sekalipun.


***


Happy Reading...


TBC...