
"Di luar aja" bisik Axel kembali mencium bibir Bella dan mengayunkan tubuhnya. Setelah beberapa saat saja, Gerakannya mulai tak terkendali.
"By! Jangan lupa" kata Bella kembali mengingatkan karena Axel sudah hampir sampai.
Axel tak menyahut, ia fokus pada kenikmatan yang di gali nya. Ia kembali mencium dada istrinya saat dirinya sampai puncak. Bella mendorong kepala Axel yang masih asyik dalam kegiatan favoritnya.
"By! Lihat aku?" kata Bella menangkup pipi suaminya agar menatapnya.
"Apa...." Axel hanya menyahut malas dan kembali menenggelamkan wajahnya. Tapi Bella kembali mendorong kepala suaminya.
"Lihat aku By, Kamu pasti sengaja nggak pakek itu" kata Bella.
"Enggak, aku lupa" kata Axel memasang wajah polosnya.
"Nggak usah pura-pura, Awas aja nanti kalau aku sampai hamil lagi" kata Bella segera melepaskan dirinya dari suami mesumnya ini.
"Kalau hamil lagi ya kamu tinggal nyalahin aku, Lagian aku juga kangen lihat perut besar kamu" kata Axel santai saja dan kembali memeluk tubuh istrinya.
"Aneh-aneh aja, Aku itu lagi nikmatin masa kuliah aku By, Ih... Nyebelin banget sih" kata Bella memukul lengan suaminya dengan keras.
"Terus gimana? Udah kejadian kan? Ayo, sekarang kita lanjut ronde ketiga, biar lebih pasti hamilnya. Gantian kamu yang mimpin" kata Axel menarik lembut tubuh istrinya agar berada di atasnya.
"Enggak! Tadi kamu lupa kita lagi bahas apa By, Cepet bantuin Karin" kata Bella menolak ide itu.
"Gimana bantuinnya, Aku nggak bisa mikir kalau lagi tegang gini" kata Axel menunjuk bagian kebanggaannya yang sudah mode on.
"Dasar!" Sungut Bella sebal tapi tak menolak saat suaminya kembali mengajaknya membagi peluh bersama.
Bella yang sudah lelah karena tenaganya terkuras habis langsung tertidur saat Axel menyelesaikan ronde terakhirnya. Melihat Istrinya yang sudah tertidur, Axel tersenyum tipis lalu mencium pipi Bella sebelum turun dari ranjang dan mengambil ponselnya.
"Bram, Aku ada tugas untukmu"
******
Bram ingin sekali membunuh siapa saja yang meneleponnya di tengah malam buta begini. Ia bahkan baru saja menyentuh kasur dan merebahkan tubuhnya ketika mendengar ponselnya berdering. Tapi ia tentu tak seberani itu saat melihat siapa yang meneleponnya.
"Ya Tuan?" ucapnya dengan suara biasa padahal hatinya dongkol setengah mati.
Bram mendengarkan dengan seksama penjelasan dari atasannya. Raut wajahnya berubah serius ketika tau apa alasan atasannya meneleponnya.
"Baik Tuan" ucapnya segera mengurus segalanya.
******
Angga berdiri gugup di bandara, matanya menatap ke arah pesawat pribadi yang baru saja mendarat. Di sampingnya sudah ada Bram dan Jenderal polisi yang memang sudah di tugaskan oleh Bram.
Semalam saat Bram menghubunginya, Angga cukup bingung karena ia tak mengenal siapa Bram sebenarnya. Tapi setelah menjelaskan semuanya, Angga paham kalau mereka memiliki tujuan yang sama untuk menyelamatkan Dio. Angga merasa lega karena akhirnya ada orang yang mau menolong temannya sekaligus atasannya itu, karena ia juga cukup pusing memikirkan semuanya.
Seorang pria setengah baya terlihat turun dari pesawat itu. Raut wajahnya tampak tegas dan sangat berwibawa. Tatapan matanya tajam pada sosok Angga yang semakin gugup, Karena ia tidak menyangka kalau Ayah Dio yang akan turun tangan langsung.
"Siapa yang memerintahkan kalian?" kata Ayah Dio dengan suara beratnya. Ia menatap Jenderal polisi dan pria muda lain yang juga berada disana.
"Semua operasi ini di perintahkan langsung oleh Tuan Axel Leander, Atasan saya" kata Bram buka suara.
"Axel Leander?" Ayah Dio merasa cukup familiar dengan nama itu.
"Bukankah dia pemilik Belaxe High Conporation?" Ia baru ingat kalau Axel adalah salah satu pengusaha muda sukses yang cukup terkenal di kalangan orang pebisnis seperti mereka.
"Benar, Beliau minta maaf tidak bisa menemui anda secara langsung karena beliau sangat sibuk. Tapi Beliau tetap akan memantau keadaan operasi penyelematan Dio. Saya sudah menyampaikan apa permintaan beliau kepada Angga semalam, Tuan Axel tidak ingin sampai orang tau kalau beliau yang berada di balik misi penyelamatan ini. Tuan Abimanyu, Hal itu dilakukan semata-mata karena ingin keluarganya tidak akan tersangkut dalam masalah ini nantinya" kata Bram menjelaskan.
"Baiklah, Aku mengerti. Angga sudah menjelaskannya dan aku pastikan permintaan itu akan terlaksana. Lalu, bagaimana keadaan putraku sekarang?" tanya Ayah Dio.
"Sampai sekarang kami masih memantau keadaannya, Tuan Dio sedang di sekap di gudang di daerah pesisir pantai pinggiran kota. Kami sudah mengepung dan mengamankan lokasinya" jelas Jenderal polisi menjelaskan keadaannya.
"Lalu kapan kalian akan menerobos masuk?" tanya Ayah Dio tampak cemas memikirkan bagaimana nasib putranya. Sebenarnya hal ini cukup mengejutkan dirinya karena yang melakukan ini semua adalah saudaranya sendiri.
"Sebentar lagi, kami akan memastikan keadaan sekitar aman untuk melakukan penyergapan" kata Jenderal polisi itu.
"Kalau begitu segera laksanakan" kata Ayah Dio tegas.
******
Dio membuka matanya perlahan, pandangannya berkunang dan kepalanya sangat sakit hingga menjalar ke punggungnya. Hantaman balok Nathan memang tak main-main, sangat keras hingga masih begitu sakit hingga sekarang.
Dio lalu mengedarkan pandangannya pada tempat itu, ia melihat hanya ada satu orang yang berjaga dan tertidur pulas. Dio lalu menatap sekelilingnya yang tampak sudah terang, sepertinya sudah pagi.
Dio meringis kesakitan saat ia mencoba membuka ikatan tangannya, ia juga tak punya tenaga untuk memaksa hal itu. Dio ingin memejamkan matanya saat melihat sekelebat bayangan dari luar. Dio sedikit bingung melihat hal itu, Tapi beberapa saat kemudian ia kaget saat pintu ruangan itu terbuka dengan keras hingga membuat penjaga disana kaget.
"Diam ditempat!" Teriak salah satu ketua polisi membuat penjaga itu dengan sigap mengambil senjatanya.
Tapi ternyata dia kalah cepat karena polisi itu segera melesatkan tem bakan di kaki penjaga itu hingga timah panas langsung menembus daging. Dio juga kaget akan hal itu, ia lalu melihat beberapa anak buah Nathan yang teryata juga sudah di lumpuhkan. Mereka semua di kumpulan menjadi satu di dalam ruangan itu.
"Amankan mereka" ucap Jenderal polisi itu lalu mendatangi Dio yang masih terikat di kursi. Ia segera mengiris tali yang mengikat Dio.
"Tuan Dio, Bagaimana keadaan anda?" tanya Jenderal polisi pada Dio.
"Aku tidak apa-apa" kata Dio mencoba bangkit tapi ia sedikit sempoyongan. Mungkin karena pukulan di kepalanya. Ia lalu melihat tangannya yang meninggalkan bekas ungu yang cukup parah.
"Anda jangan banyak bergerak dulu Tuan, Sepertinya tangan anda cidera cukup parah" kata Jenderal polisi memeriksa keadaan tangan Dio.
"Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa. Siapa yang mengirim kalian?" tanya Dio menahan rasa sakitnya dengan tak menggerakkan tangannya.
"Ayah anda langsung yang memerintahkan kami setelah tau anda disekap dan beliau ingin dalang dari penyekapan ini di tahan dan di hukum langsung"
Happy Reading.
Tbc.