MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Noda Merah.



Pagi itu, Bella terbangun lebih awal. Ia sempat melihat suaminya yang masih tidur pulas. Dengan gerakan pelan, Ia turun dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci muka. Saat di kamar mandi, pandangan Bella berpusat pada kemeja Axel yang direndam. Ia mengerutkan dahinya saat melihat hal itu.


Padahal biasanya Axel tak pernah merendam baju kotornya. Ia akan menyimpan di keranjang laundry atau di gantung sembarangan. Lalu kenapa sekarang di rendam? Bella segera mengambil kemeja itu, meskipun sudah sedikit pudar tapi Bella masih melihat jelas kalau ada Noda merah di kemeja itu.


"Noda apa ini? Apa mungkin..." tiba-tiba firasat buruk menyergap dirinya.


"Kamu nggak mungkin kan By, khianati aku?" batin Bella memejamkan matanya dan setitik air mata lolos melewati pipinya.


Axel baru bangun setelah waktu sudah hampir siang. Ia meraba sampingnya dan sudah tak menemukan Bella disana. Axel bergegas mandi dan mencari istrinya, Dilihatnya sudah banyak sekali makanan di meja makan. Tapi ia tak menemukan istrinya itu ada disana.


"Nona Bella sudah pergi pagi-pagi tadi Tuan" jawaban yang diberikan Bibi Mauli sungguh mengejutkan Axel.


Axel mencoba menghubungi nomor istrinya, namun tidak diangkat. Axel lalu keluar rumah bermaksud mencari Bella, tapi tiba-tiba teleponnya berdering.


"Ada apa?" bentak Axel merasa begitu kesal karena Bram meneleponnya di waktu yang tidak tepat.


"Anda sudah di tunggu untuk meeting Tuan"


"Batalkan saja meeting itu" ucap Axel dengan enteng.


"Maaf Tuan, Tapi meeting ini tidak bisa di tunda. Semua petinggi perusahaan sudah ada disini, termasuk Ayah anda"


"Sial!" umpat Axel segera mematikan telepon itu. Ia lupa kalau hari ini memang ada meeting penting yang tidak bisa di tinggal.


*****


Bella duduk termenung di pinggir pantai, Angin laut yang semilir tampak menerbangkan rambutnya yang panjang. Sorot mata Bella tampak suram dan tak bersemangat. Dia terus memikirkan alasan kenapa suaminya semalam tidak menepati janjinya. Bagaimana bisa Axel dengan mudah melupakan janjinya, Apa sekarang Axel sudah menganggap dirinya tak penting. Lalu noda merah itu..?


Bella merasakan ponselnya bergetar, ada kiriman pesan di WhatsApp nya. Bella segera membukanya, Dari nomor yang tak dikenal mengirimkan sebuah foto. Jantung Bella terasa berhenti berdetak dan nafasnya kian sesak saat melihat foto-foto yang dikirimkan.


Di foto itu, tampak Axel sedang merangkul pundak seorang wanita di depan ruang rumah sakit. Seolah belum puas hanya mengirim foto, orang itu tampak kembali mengirim sebuah video. Dengan tangan bergetar, Bella membuka video itu. Ia tak bisa membendung air matanya saat video itu di putar memperlihatkan suaminya yang sedang memeluk dan menenangkan wanita yang tak lain adalah mantan kekasihnya.


Dunia Bella seakan runtuh, Bagaimana bisa Axel memeluk dan menenangkan wanita lain. Dia juga memberi perhatian dan bersikap begitu lembut pada wanita itu. Air matanya kian menderas, Hatinya begitu sakit seperti di iris-iris.


"Mau balon?" tiba-tiba seseorang menghampirinya dan memberikan satu balon dengan warna ungu untuknya.


Bella menoleh dan mengusap air matanya. Ia mengerutkan dahinya saat melihat seorang pria yang usianya mungkin seumuran dengannya. Ia hanya diam menatap pria itu.


"Sudah, Jangan menangis. Jika tidak mau satu balon, bagaimana kalau banyak?" ujar Pria itu lagi membuat Bella semakin mengerutkan dahinya.


"Kau pikir aku anak kecil" seru Bella dengan ketus.


"Anda tau Nona? Ini bukan hanya sekedar balon, dengan balon ini kita bisa menerbangkan impian kita hingga jarak tak terbatas" ujar pria itu lagi.


"Haha, Tidak mungkin ada seseorang di dunia ini yang tidak mempunyai mimpi Nona. Kita hidup di itu ibarat seperti balon ini, Di tiup lalu terbang dan akan jatuh. Jika tidak jatuh, kita tidak akan merasakan bagaimana sakitnya. Kita juga tidak akan merasakan bagaimana rasanya berjuang dan berjalan lagi" kata Pria itu mengulas senyum manis yang indah. Ia menyerahkan balon itu untuk di genggam oleh Bella.


"Bayangkan balon ini adalah masalah mu, Lalu lepaskanlah balon ini ke angkasa dan ia akan menghilang. Dan kamu akan lega" kata Pria itu membuat Bella semakin tak mengerti.


"Apaan sih, Ini hanya sebuah balon" kata Bella tak percaya begitu saja. Bagaimana bisa melepaskan balon bisa membuat dirinya lega.


"Percayalah Nona, Pejamkan matamu dan bayangkan yang kamu genggam adalah masalah mu. Semakin kamu menggenggamnya, maka kamu akan semakin tersakiti karena balon itu terus tertiup angin. Lepaskanlah Nona, Bebaskan lah dirimu dari rasa menyakitkan itu"


Perkataan pria itu seolah mantra yang membuat Bella mengikuti apa yang di ucapkan. Ia memejamkan matanya dan menggenggam erat balon itu. Dia benar-benar mempertahankan balon itu agar tak tertiup angin, tapi lama kelamaan tangannya sakit karena angin terlalu kencang. Perlahan-lahan Bella membuka genggaman tangannya, membiarkan balon itu lepas ke angkasa.


*****


Axel terlihat baru saja pulang ke rumah saat jam delapan malam. Saat ia masuk kedalam rumah suasana sangat sepi. Ia berpikir mungkin Bella sudah tidur, tapi saat ia masuk kedalam kamar ternyata Bella juga tidak ada disana. Axel mulai cemas, Ia segera ke ruang belakang untuk bertanya pada Bibi Mauli yang memang saat ini menginap di rumahnya karena Axel yang meminta semenjak kehamilan Bella sudah besar.


"Nona belum pulang dari tadi pagi Tuan" lagi-lagi Axel mendapatkan kabar yang mengejutkan.


"Bram! Cari Istriku sekarang juga" ucap Axel langsung menghubungi Asistennya itu.


Axel mondar mandir cemas menunggu Bella pulang, Ia tak henti menghubungi nomer ponsel istrinya itu. Semua temannya pun sudah dia hubungi tapi mereka sama sekali tidak tau dimana Bella. Axel menahan emosinya, antara cemas, takut, dan tentu marah karena Bella pergi sejak tadi pagi sampai sekarang belum pulang.


Pukul setengah 10 malam, Pintu utama terbuka. Axel langsung mendatangi Bella yang hanya menatapnya nanar, ia sengaja pulang malam karena matanya yang sembab karena terus menangis.


"Kamu Darimana saja? Kenapa pergi tidak memberi kabar sama sekali! Bella, Aku tau kamu marah tapi tidak seharusnya kamu pulang selarut ini. Apa kamu lupa kalau kamu sedang hamil!" kata Axel tak bisa mengontrol emosinya, Ia berbicara dengan sangat keras hingga ke penjuru rumah terdengar.


Matanya tampak memerah membuat Bella kaget. Kenapa Axel marah? Seharusnya dialah yang marah karena pria itu sudah selingkuh di belakangnya.


"Aku hanya ingin sendiri" kata Bella dengan suara tercekat.


"Sebenarnya ada apa? Katakanlah!" kata Axel masih sama kerasnya seperti tadi. Ia orang yang paling benci menerka-nerka hati orang lain.


"Seharusnya aku yang bertanya! Ada apa? Kenapa kamu begitu berubah By, Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku!" Bella mulai tersulut emosinya, Rasa kecewa dan sakit hatinya berubah menjadi amarah karena Axel sama sekali tak merasa bersalah.


"Apa maksudmu?" Axel menekuk wajahnya tak mengerti.


"Kamu tau maksudku!" kata Bella tak ingin mengatakan apapun, Ia ingin kebenaran dari mulut Axel sendiri. Ia langsung bejalan masuk kedalam kamar tanpa memperdulikan Axel.


Happy Reading.


Tbc.