
Sebuah peluru panas melesat membuat semua orang kaget. Seolah waktu berjalan lambat, Bella langsung lemas dan tak percaya saat melihat tubuh suaminya yang berlutut tegak.
Axel pun sudah pasrah jika timah panas itu menembus tubuhnya. Matanya hanya menatap Bella dengan tatapan sendunya. Namun peluru itu bukan mengarah ke Axel, melainkan mengarah ke dada Ayah Rafael hingga darah itu muncrat mengenai rambut Axel.
Axel bingung saat melihat itu, Ia melihat ke belakang dan melihat Indra yang berdiri dengan memegang pistol, Kepala pria itu tampak di perban karena bekas kecelakaan tadi.
Tubuh Ayah Rafael langsung roboh ke belakang. Membuat seluruh anak buahnya kaget. Ken yang pertama kali menyadari situasi itu langsung mengarahkan moncong pis tolnya ke arah Indra tapi, Indra sudah lebih dulu mene mbak Ken membuat pria itu ikut roboh karena luka tem bak di bahu kirinya.
"Jatuhkan senjata kalian! Tempat ini sudah di kepung!" Teriak Indra sangat lantang. Bahkan membuat semua orang disana gentar mendengar suaranya. Mungkin ia akan sangat cocok jika menjadi seorang tentara.
Para anak buah Ayah Rafael tampak panik dan mengikuti perintah Indra. Indra lalu menyuruh Bram dan anak buahnya yang tersisa untuk mengamankan mereka. Indra juga sudah membawa polisi untuk membantu dirinya agar kasus ini tak sampai tercium media karena bagaimanapun juga Ayah Rafael adalah orang yang sangat berpengaruh.
Diantara riuhnya evakuasi korban dan para pelaku itu. Axel melempar tatapan penuh keharuan dengan istrinya. Dengan tubuhnya yang terseok-seok, Axel bangkit dan segera membuka ikatan di tangan Bella.
Setelah ikatan itu terlepas, Bella langsung menubruk dada suaminya dengan erat. Sangat erat hingga ia merasa sesak. Tangisnya langsung pecah saat bisa kembali memeluk tubuh Axel. Bella menghirup wangi tubuh Axel dalam-dalam.
Axel pun ikut menangis karena Tuhan masih berbaik hati memberinya satu nyawa untuk kembali bersama istrinya.
"Aku datang untukmu" bisik Axel dengan lembut membuat Bella semakin menumpahkan rasa sedih dan rindunya. Axel yang mendengar Bella semakin tersedu mencoba melepaskan pelukan itu.
"Jangan lepaskan, Biarkan aku memelukmu lebih lama lagi" kata Bella masih belum rela melepaskan pelukan suaminya. Ia ingin meyakinkan kalau ini bukan hanya mimpi baginya.
Axel yang mendengar itu tersenyum sedikit. Ia ikut mengeratkan pelukannya pada tubuh istrinya. Mereka berpelukan cukup lama sebelum tiba-tiba perut Bella terasa sakit dan sesuatu mengalir di sela kakinya.
"Sssttt...Axel..perutku sakit" kata Bella merasakan mulas di perutnya.
"Astaga! Apakah sudah waktunya?" kata Axel cemas saat melihat hal itu.
"Aku tidak tau..Asttt..sakit..." kata Bella merintih kesakitan. Ia meremas lengan suaminya untuk melampiaskan rasa sakitnya.
"Kita akan ke rumah sakit sekarang!" kata Axel menggendong tubuh Bella, tapi karena tubuhnya yang lemah, Axel cukup kesusahan untuk menggendongnya.
"Biar aku bantu" kata Indra tiba-tiba berada disamping Axel.
"Terima kasih" kata Axel, Indra hanya tersenyum sedikit dan menepuk pelan pundak sahabatnya.
****
Bella sudah berada di ruang persalinan rumah sakit, karena begitu mereka datang, dokter langsung memeriksanya dan ternyata air ketuban Bella sudah pecah, dan harus di lakukan operasi karena umur kandungannya yang masih delapan bulan.
"Lakukan yang terbaik" kata Axel saat Dokter mengatakan akan melakukan tindakan operasi.
Setelah pintu ruangan itu tertutup, Axel menjatuhkan tubuhnya di lantai. Ia merasa sangat frustasi karena sudah dua kali berada dalam kondisi yang sama.
"Bella sedang di operasi, Air ketubannya pecah" kata Axel lemah seperti tak memiliki tenaga. Ia tak tau harus berbuat apa, Didalam sana ada wanitanya yang sedang bertaruh Nyawa untuk anaknya.
Menit demi menit berlalu, Matahari pun tampak memunculkan cahayanya, Namun Axel tak beranjak sedikitpun dari depan pintu itu. Bajunya pun masih berlumuran darah, dan ia juga sama sekali belum tidur.
Bella sudah selesai melakukan operasi, tapi keadaanya masih lemah. Sedangkan anaknya yang lahir prematur harus di letakan di inkubator NICU.
Tamara menatap nanar anaknya yang begitu terpukul. Semenjak kedatangannya semalam, Axel masih duduk di depan ruang rawat Bella, padahal hari sudah pagi. Tamara tak tega melihatnya.
"Bisakah kau membujuknya untuk berganti baju?" kata Tamara pada suaminya. IndraJaya mengangguk dan berjalan mendekati anaknya. Ia duduk disamping anaknya yang hanya diam seperti mayat hidup.
"Tak ingin mengganti bajumu? Bella pasti tak akan senang melihatmu seperti ini terus" kata IndraJaya pelan.
"Tidak" sahut Axel merasa mulutnya sedikit lengket karena tak berbicara cukup lama.
"Kau harus menjaga keadaanmu, Ayah tau ini sangat berat untukmu, tapi kau harus kuat demi istri dan anakmu" kata Indrajaya lagi.
"Ayah tau, saat pertama kali aku menikahinya, Aku berjanji akan selalu menjaganya. Aku selalu mengatakan..tenang saja..aku pasti selalu ada untukmu. Tapi nyatanya aku gagal menjaganya dan menyebabkan dia terluka karena kesalahanku yang sama sekali dia tak tau" kata Axel tanpa sadar matanya basah karena kecewa, tepatnya kecewa pada diri sendiri karena salahnya Bella jadi seperti ini.
Axel mengingat bagaimana selama ini Bella selalu menemaninya, menyiapkan segala kebutuhannya, Bella yang selalu belajar untuk menjadi istri terbaik untuknya. Tapi, Bagaimana bisa ia begitu tega menyakiti hati wanita itu dan menyeretnya ke lembah yang suram.
"Ayah, Aku sudah gagal menjadi suami dan seorang ayah" kata Axel menundukkan wajahnya.
"Kau tidak gagal, justru kalau kau menyerah seperti ini, Itu artinya kau gagal. Tak satupun orang di dunia ini yang akan tau apa yang akan terjadi, Jangan menyiksa dirimu sendiri dan jangan pernah putus harapan. Saat ini Bella dan anakmu sangat membutuhkan dirimu, Jadi kau harus menjaga dirimu juga. Sekarang gantilah bajumu, nanti ketika Bella dasar dia pasti akan kembali ingat kejadian ini jika melihat bajumu yang berlumuran darah" kata Ayah Indra menepuk-nepuk pelan bahu anaknya.
Axel menarik nafas panjang, ia mengusap matanya yang basah sebelum mengiyakan untuk mengganti bajunya. Ia menatap Ayahnya sejenak.
"Ayah akan menggantikan mu untuk menjaganya" kata Indrajaya tau kekhawatiran anaknya.
Axel selesai mengganti bajunya, lukanya pun sudah di obati dan pelipisnya yang robek sudah di jahit. Ia menolak saat ibunya menyuruhnya makan. Ia baju saja keluar dari ruangan ganti ketika Papa Nugraha menarik bajunya dengan kasar.
"Apa yang sudah kau lakukan pada putriku?" bentak Papa Nugraha ingin memukul wajah Axel tapi Mama Anita segera mencegahnya.
"Pa, Kendalikan dirimu. Kejadian ini mengejutkan kita semua, termasuk Axel sendiri. yang pasti lebih sedih melihat istri dan anaknya seperti ini. Jadi jangan menyalahkan siapapun" kata Mama Anita sedikit membentak suaminya yang keterlaluan.
Papa Nugraha tampak masih kesal tapi ia melepaskan Axel. Ia juga terlalu menuruti emosinya. Tak lama seorang Dokter menghampiri mereka.
Happy Reading.
Tbc.