
"Dio, tapi bagaimana nanti dengan Cindy?" kata Karin menatap Dio.
"Aku akan memutuskannya, Lagipula aku berhubungan dengannya juga karena ibuku. Karin, aku janji akan segera menyelesaikan semuanya. Aku hanya minta padamu, tolong jangan pergi lagi dariku. Kau adalah hidupku sekarang" kata Dio dengan serius membuat hati Karin menghangat.
"Aku janji tidak akan pergi lagi" kata Karin mengeratkan pelukannya.
"Bagaimana denganmu? Kau juga akan memutuskan Nathan kan?" kata Dio baru ingat kalau Karin juga sudah memiliki Nathan.
"Aku tidak perlu memutuskannya" kata Karin.
"Kenapa tidak? kau masih mau berhubungan dengannya begitu?" kata Dio langsung kesal tapi ia menahan dirinya.
"Aku tidak perlu memutuskannya karena aku memang tidak ada hubungan apapun dengannya" kata Karin tertawa kecil melihat wajah Dio yang kesal.
"Lalu kenapa dia mengatakan kau wanitanya?"
"Aku tidak tau, dia sendiri yang mengatakan seperti itu" kata Karin memasang wajahnya yang serius tapi Dio masih menyipitkan matanya seolah tak percaya.
"Aku serius, Aku tidak pernah punya pacar selama ini" kata Karin ingin meyakinkan Dio lagi.
Dio diam menganalisa wajah Karin yang tampak memancarkan keseriusannya. Ia tersenyum tipis. "Aku percaya padamu" ucap langsung membuat Karin lega.
"Tapi apa kau yakin, kau tidak pernah punya pacar?" tanya Dio mengerutkan dahinya.
"Tentu saja, Kau sudah mengenalku sejak lama, apa kau pernah melihatku punya pacar?" kata Karin memang tak pernah pacaran sejak dulu.
Pertama kali jatuh cinta malah orang yang di cintai menikah dengan sahabatnya. Cukup miris ternyata hubungan percintaannya. pikir Karin.
Dio kembali diam, ia mengingat-ingat sejak kenal Karin waktu SMP dan sampai remaja, ia memang tak pernah melihat Karin punya pacar. Dari ketiga sahabatnya, Karin memang orang yang paling sabar dan cukup pendiam. Dio merasa bangga, karena dia menjadi orang yang pertama untuk Karin.
"Kalau begitu, aku pacar pertama mu dong" kata Dio tersenyum manis.
"Pacar? Memang sejak kapan kita pacaran?" kata Karin tertawa kecil mendengar ucapan Dio.
"Mulai sekarang kau adalah pacarku. Jadi, Nona Karin, jangan pernah coba-coba lari dariku lagi" kata Dio sedikit serius namun lembut.
"Kau juga, Awas aja kalau selingkuh" kata Karin ingat kalau dulu sahabatnya di khianati oleh pria ini.
"Tidak akan, lagipula mana mungkin aku berselingkuh jika wanitaku secantik dirimu" kata Dio ternyata masih cukup pintar merayu, padahal lima tahun ini ia tak pernah seperti ini lagi.
"Gombal!" Kata Karin dengan wajah tersipu.
"Aku serius, Kau tidak tau saja seberapa menggodanya dirimu" kata Dio semakin membuat wajah Karin memerah dan sangat menggemaskan.
Dio yang sudah begitu gemas langsung mencium bibir Karin yang menjadi candunya. Karin pun ikut membalasnya hingga tautan bibir mereka semakin panas. Tapi Dio segera menghentikannya karena bisa-bisa ia hilang kendali nanti.
"Kita harus istirahat, semoga besok Angga bisa menemukan kita disini" kata Dio mengusap bibir Karin yang basah karena ulahnya.
"Ya" kata Karin mengangguk.
Dio membuka jaketnya untuk di menyelimuti Karin yang masih begitu pucat, Ia kemudian merebahkan dirinya dan menggunakan lengannya sebagai bantalan kepala Karin agar wanita itu nyaman. Mereka tidur saling berpelukan dengan hati yang di penuhi kelegaan.
Karin terbangun saat merasakan tubuh Dio yang gemetar. Karin sedikit kaget, namun ia tak bisa melihat wajah Dio karena disana gelap. Api unggun mereka pun sudah mati.
"Dio...?" Karin mencoba membangunkan Dio, menggoyangkan pelan bahu pria itu. Tapi Dio masih gemetaran.
"Dio!..." Karin mulai panik karena Dio tak memberikan respon.
Karin bingung dan langsung membuka jaket Dio yang di gunakan untuk menyelimutinya. Ia menggunakan jaket itu ke tubuh Dio yang masih gemetar dan tak sadarkan diri.
Karin baru ingat, dia pernah membaca buku jika ingin menghangatkan tubuh, salah satunya adalah membagi suhu tubuhnya. Karin lalu membuka kemeja yang di gunakan Dio dan Karin membuka jaket dan baju bagian atasnya.
Tanpa menunggu lama, Karin langsung memeluk tubuh Dio. Ia merasa merinding saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Dio. Padahal mereka sudah pernah melakukannya, tapi Karin masih merasa sepeti tersengat aliran listrik jika seperti ini.
Karin segera mengabaikannya, ia fokus untuk menghangatkan Dio dengan terus memeluk tubuh Pria itu dan menggunakan jaket mereka sebagai selimut. Setelah cukup lama, akhirnya Dio cukup tenang, tak lagi gemetar seperti tadi. Karin tersenyum lega, dan ikut tertidur bersama.
******
Dio membuka matanya yang silau akan cahaya matahari. Dia lalu melihat Karin yang tertidur di atas tubuhnya, ia tak ingat kapan Karin tidur disana. Seingatnya kemarin Karin tidur disampingnya.
Dio memilih diam berbaring dan menatap wajah Karin yang di hiasi bercak-bercak kotor karena tanah, tapi tak mengurangi kecantikan Karin sedikitpun. Dio kemudian tersenyum karena wanita ini yang akan menemaninya seumur hidupnya.
"Pagi..." ucapnya saat melihat mata indah Karin terbuka.
Karin sedikit kaget dan langsung duduk, ia merasa malu dan langsung membalikkan tubuhnya. Dio juga baru sadar kalau mereka berdua sama-sama bertelanjang dada.
"Ehm...kemarin kau kedinginan, jadi aku mencoba cara efektif untuk menghangatkan mu" kata Karin tak berani menatap Dio. Padahal Dio sudah melihat tubuhnya berkali-kali. Tapi tetap saja dia merasa malu.
"Iya, terima kasih. Ini sudah pagi. Kita harus keluar, mudah-mudahan Angga bisa menemukan kita" kata Dio tersenyum geli dengan tingkah Karin.
"Iya" kata Karin ingin memakai bajunya kembali, tapi lengannya yang terluka membuatnya kesakitan.
"Biar aku bantu" kata Dio mengambil alih baju Karin dan mencoba memakaikannya.
Karin semakin malu tak karuan, ia hanya bisa menunduk saat Dio memakaikan baju untuknya. Dio terlihat santai saja, tapi jangan ditanya bagaimana ia menahan diri. Dia pria normal, siapa yang tahan jika di hadapkan pemandangan indah pagi-pagi begini.
"Sudah, Aku akan menggendong mu" kata Dio setelah menyelesaikan tugasnya.
"Kau tidak lelah?" tanya Karin ragu.
"Tidak, Baterai tubuhku kan baru saja kau charger full" kata Dio mengedipkan matanya dan langsung di pelototi Karin.
Dio tersenyum dan duduk membelakangi Karin, meminta wanita itu untuk naik. Setelah Karin naik, ia segera mengajaknya keluar untuk pulang.
Hanya selang setengah jam berjalan, mereka sudah bertemu dengan tim pencari suruhan Angga. Dio tersenyum lega karena akhirnya bisa keluar darisana. Tubuh Karin yang masih terluka akhirnya di bawa menggunakan tandu.
Sebenarnya Dio ingin menggendongnya saja, tapi tubuhnya sudah tak kuat karena seharian kemarin belum makan apapun, ditambah energinya cukup terkuras semalam. Dio terus menggenggam tangan Karin selama mereka perjalanan, ia sangat bersyukur karena bisa kembali pulang dengan selamat.
Happy Reading.
Tbc.