MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Deal With The Pain.



Karin dan Dio menunggu hasil pemeriksaan Dokter dengan perasaan tak menentu. Karin bahkan beberapa kali meremas tangan Dio pelan untuk menyalurkan perasaannya yang berkecamuk.


"Ini yang saya tunggu" ucap Dokter Rahardian, Dokter yang selama ini menangani pemulihan kaki Karin.


"Maksudnya dok? Apakah kaki istri saja baik-baik saja?" tanya Dio sedikit was-was.


"Baik-baik, tidak ada yang perlu di khawatirkan, ini malah pertanda bagus, kaki yang lumpuh dan mati rasa sudah bisa merasakan sakit dan nyeri itu berarti sudah kembali normal" kata Dokter Rahardian membuat Dio dan Karin melempar senyum bahagianya.


"Itu artinya istri saya sudah sembuh dok?" tanya Dio ingin memastikan sekali lagi tentang kabar bahagia ini.


"Ya, tapi belum total. Hasil pemeriksaan masih 80%" kata Dokter Rahardian. "Semuanya step by step Tuan Dio. Setelah ini, bisa lepas kursi roda dan menggunakan kruk underarm dulu untuk mencegah otot mengecil dan kaku sendi. Lalu sekitar satu sampai dua minggu nanti baru beralih ke forearm, setelah itu baru bisa lepas 100%" penjelasan Dokter itu membuat raut wajah Dio dan Karin semakin senang.


Harapan yang selama ini mereka nantikan, akhir nya membuahkan hasil. Karin bahkan sudah ingin menangis karena perasaan haru dan bahagia atas kesembuhan ini.


"Sayang, kamu udah bisa berjalan lagi" kata Dio langsung menarik Karin dalam pelukannya dan mencium kepala wanita itu berkali-kali. Perasaannya benar-benar sangat bahagia mendengar kabar baik ini.


Dokter Rahardian ikut tersenyum tipis melihat hal itu. "Hari ini mungkin bisa langsung di coba untuk menggunakan underarm dulu, pilih yang nyaman untuk di pakai. Tapi jangan terlalu di paksakan ya, kalau ada keluhan yang berbeda harus berhenti dulu" kata Dokter Rahardian.


"Baik Dok, Terimakasih" kata Dio tak henti mengucap syukur dalam hatinya.


"Sama-sama Tuan, Kita step by step aja. Jangan lupa terus ikuti program fisioterapi nya. Itu akan sangat membantu proses penyembuhan" kata Dokter Rahardian mengulas senyum tipis.


Dio mengangguk-angguk mantap, ia pasti akan terus melakukan hal yang cepat menyembuhkan istrinya. Dio lalu merasakan tangannya yang di remas oleh Karin, ia menatap wanita itu yang ingin mengatakan sesuatu. Dio sepertinya tau apa yang di pikirkan istrinya.


"Ehm, Dok, bagaimana dengan bicara istri saya?" tanya Dio.


"Oh, Itu bukan hal yang perlu di takutkan, Nona Karin harus sering berlatih. Berbicaralah sesering mungkin agar mulut kita terbiasa, Saya rasa, sebentar lagi Nona Karin akan sembuh" kata Dokter Rahardian semakin menambah kelegaan di hati Karin.


Akhirnya, sebentar lagi ia akan bisa melakukan semuanya dengan normal kembali. Tuhan, terima kasih sudah memberiku kesembuhan. Batin Karin.


"Terima kasih banyak Dok, Ini sangat luar biasa" kata Dio mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan kepada Dokter Rahardian.


Dokter Rahardian mengangguk dan tersenyum tipis, ia lalu meresepkan beberapa vitamin untuk Karin.


Tidak ada yang lebih membahagiakan dari apa yang didapatkan hari itu oleh Dio. Apalagi saat pulang dari rumah sakit, Karin sudah tak perlu menggunakan kursi roda, wanita itu berjalan perlahan dengan menggunakan kruk.


"Kalau lelah bilang saja, jangan terlalu di paksa" ujarnya saat melihat peluh di dahi istrinya ketika cukup jauh berjalan.


"Ti...da..k" Karin menggelengkan kepalanya, ia memang lelah, tapi rasa lelah itu tak sebanding dengan semangatnya ingin sembuh.


"Baiklah, kamu duduk dulu, aku akan menebus obat untukmu sebentar" kata Dio menuntun pelan istrinya untuk duduk di kursi tunggu.


"Iya" kata Karin mengangguk.


"Aku hanya sebentar" Dio menyempatkan diri untuk mencium dahi istrinya.


Karin tersenyum manis, Dio memang tak pernah melupakan hal itu dalam ke adaan apapun. Pandangan Karin melembut saat melihat suaminya yang kini berjalan menjauh. Pria itulah satu-satunya orang yang menjadi sumber semangatnya, satu-satunya pria yang tak pernah menyerah untuk meyakinkannya, satu-satunya pria yang tak pernah sedikitpun meninggalkannya.


"Love you so much, babe" bisik Karin dalam hatinya.


"Karin!" Terdengar suara wanita yang memanggil membuat Karin langsung menoleh.


"Ya ampun, aku kira tadi salah orang. Lama banget nggak ketemu kamu" Kata Bella tersenyum senang seraya memberikan pelukan hangat pada sahabatnya.


"Iya" kata Karin ikut senang bisa bertemu sahabatnya ini.


"Kamu apa kabar? Oh ya, kamu disini ngapain? Sendirian aja?" tanya Bella langsung menerocos.


"Baik, aku...sa..ma...Di ..o" Kata Karin terbata membuat Bella dan Axel saling pandang. Mereka baru ingat dengan apa yang terjadi pada Karin.


"Axel, Bella, kalian disini juga?" kata Dio yang baru saja datang.


"Ya, Aku sedang mengantar Istriku memeriksakan kandungan" kata Axel memasang wajah santainya membuat Bella melotot. Ia sama sekali tak menyangka kalau Axel akan langsung memberi tahu hal itu.


"Kandungan?" tanya Dio menatap Karin yang juga menekuk dahinya.


"Benar, Istriku sedang hamil lagi" kata Axel tersenyum bangga sedangkan Bella meringis saat melihat kekagetan di wajah Dio dan Karin.


Tentu mereka kaget, anak Axel dan Bella masih kecil-kecil, tapi sudah mau punya adik lagi.


"Wah, selamat kalau begitu, kami ikut senang mendengarnya" kata Dio tersenyum tipis. Tapi dalam hatinya ia pun sangat ingin bisa memiliki momen seperti itu.


"Terima kasih, Setelah ini kalian yang menyusul ya" sahut Bella menggenggam erat tangan sahabatnya untuk sekedar memberi semangat, karena ia melihat perubahan yang cukup ia mengerti dari wajah Karin.


"Doakan saja, Kaki Karin juga udah mulai sembuh" kata Dio lagi.


"Bagus dong, Cepet sembuh ya Aunty" kata Bella ikut bahagia mendengar hal itu.


"Ter..ima...ka..sih" kata Karin tersenyum tipis.


"Oh, Kalau gitu kita duluan ya. Rendra sama Eril pasti udah nunggu. Kapan-kapan main dong, Eril sering loh nanyain kamu Rin" kata Bella lagi.


"Iya....sa...lam...bu..at ..me...re...ka" kata Karin.


Bella mengangguk dan memberikan pelukan sebentar pada sahabatnya sebelum pergi. Axel pun dengan mesra langsung merangkul pinggang istrinya.


"Maaf" kata Karin tiba-tiba membuat Dio mengerutkan dahinya.


"Maaf? Untuk apa?" tanya Dio menatap Karin bingung.


"Aku ...be..lum...bi...sa...ha..mil" kata Karin menatap Dio dengan sendu. Ia tau kalau suaminya ini sangat menginginkan anak dari dulu. Tapi sayang sekali ia belum bisa hamil lagi karena masih harus mengkonsumsi obat-obatan.


Dio tersenyum tipis, ia lalu mendudukkan tubuhnya di samping Karin lalu menggenggam erat tangan istrinya. "Kenapa harus meminta maaf, itu bukan hal yang perlu di cemaskan sayang. Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri untuk hal ini, Aku mau, kamu tetep fokus pada kesembuhan ini. Tidak perlu memikirkan anak, aku tetap akan mencintaimu meskipun kau bisa hamil atau tidak" kata Dio tersenyum menenangkan.


"Ma...kas...ih" Kata Karin tak tau lagi harus berkata apa pada sosok pria yang begitu tulus mencintainya ini.


"It's oke sayang. Lagipula aku sudah pernah membuatmu hamil, jadi itu bukan hal sulit kan? Tenang saja, aku pasti akan bekerja keras" bisik Dio membuat wajah Karin merah saat menyadari arti ucapan suaminya ini.


Happy Reading.


Tbc.