
Setiap ibu hamil di dunia ini pasti mengalami hal yang berbeda-beda. Ada ibu hamil yang sering muntah dan suka meminta hal yang aneh-aneh. Ada juga yang terkadang sampai mabuk parah hingga harus di rumah sakit. Tapi juga ada yang di awal kehamilan tak merasakan apapun.
Sama halnya dengan Karin yang tidak mengalami morning sickness atau yang namanya ngidam di awal kehamilan. Padahal bisanya kebanyakan ibu hamil akan mengalami hal itu waktu hamil muda. Karin pun heran kenapa dirinya baik-baik saja, malah Karin merasa nafsu makannya semakin bertambah akhir-akhir ini.
Seperti malam ini contohnya, Karin sudah menghabiskan entah berapa banyak cupcake yang di kirimkan oleh Ibu mertuanya sore tadi. Ini cukup aneh karena sejatinya Karin tak terlalu suka makanan manis, apa ini karena bawaan bayinya?
"Yah..kok habis sih?" ucap Karin mendesah kecewa saat cupcakenya sudah habis, padahal Karin masih pengen memakannya.
"Kuenya enak banget, Mama belinya dimana ya? Ntar ah aku suruh Dio buat beliin" kata Karin benar-benar menginginkan kue itu lagi.
"Tapi Dio mana ya? Kenapa belum pulang?" Karin bergumam sendiri seraya mengambil ponselnya untuk melihat jam. Ia lalu membuka chatnya dengan Dio yang masih centang dua abu-abu, pertanda kalau Dio belum membacanya.
Saat melihat-lihat ponselnya, terdengar bel rumahnya berbunyi membuat Karin mengerutkan dahinya sejenak, menebak siapa tamu yang datang, tidak mungkin Dio karena suaminya itu akan langsung masuk jika pulang. Karin kini memang semakin berhati-hati jika ada tamu yang datang karena ia masih trauma jika mengingat apa yang di lakukan Elvan dulu.
Karin melihat siapa tamu yang datang dari jendela, tapi sedetik kemudian matanya membesar saat melihat Dio yang pulang dengan wajah pucat bersama Angga.
"Abang?" Karin segera membuka pintunya. Raut wajahnya mendadak khawatir.
"Sayang...." kata Dio langsung menubruk istrinya dan menyandarkan kepalanya di bahu Karin.
"Abang kenapa?" tanya Karin menyentuh wajah Dio untuk melihat wajah pria itu, tapi ia kaget saat merasakan badan suaminya yang panas sekali.
"Astaga! Badan Abang panas banget? Abang sakit?" kata Karin menangkup kedua pipi Dio dan merasakan bagaimana panasnya wajah suaminya itu.
"Iya Rin, dia kayaknya demam. Daritadi sore Dio juga belum makan" kata Angga segera mengatakan apa yang sudah di rencanakan sebelum pulang tadi.
"Benarkah? Kenapa nggak makan, Abang demam gini, Ayo masuk dulu, Di luar anginnya nggak bagus, nanti Abang tambah masuk angin" kata Karin meraih pinggang Dio untuk membantu pria itu masuk kedalam.
"Iya, Angga makasih udah anterin aku pulang" kata Dio sebisa mungkin berbicara lemah, ia sempat mengedipkan matanya pada Angga dan dibalas jempol oleh pria itu.
Karin memapah tubuh Dio sampai ke kamar, ia membantu pria itu agar berbaring di ranjang dan membantu membuka sepatu suaminya. Dio yang melihat itu langsung meraih Karin dan memeluknya.
"Sayang...Maafkan aku..." kata Dio menenggelamkan wajahnya di perut Karin.
Karin menghela nafas melihat apa yang dilakukan suaminya itu. "Abang tiduran dulu, Aku akan ambilkan obat penurun panas" kata Karin mengelus lembut kepala suaminya.
"Maafin aku dulu" kata Dio tak melepaskan pelukannya.
"Iya, aku udah maafin Abang" kata Karin langsung membuat Dio mendongak.
"Bener?"
"Ya tapi lepas dulu, Abang harus minum obat biar cepet sembuh" kata Karin melepaskan dirinya untuk berlalu mengambil obat untuk Dio.
Dio menatap punggung istrinya yang menjauh, setelah memastikan Karin sudah tak terlihat, Dio langsung duduk dan tersenyum senang karena Karin sudah memaafkannya. Ketika mendengar langkah kaki mendekat, Dio kembali berbaring di ranjang, sebisa mungkin memasang wajah melasnya.
"Bangun dulu Abang" kata Karin membantu Dio itu duduk dan pria itu menurut.
Dio juga langsung menurut dan membuka mulutnya, Karin segera meletakkan alat itu di mulut Dio dan ia semakin kaget saat melihat panas Dio sampai 38 derajat.
"Demam Abang tinggi banget, Udah makan belum? Nggak bisa minum obat kalau belum makan?" kata Karin begitu perhatian. Memandang suaminya dengan raut wajah cemas tak di sembunyikan.
"Aku males makan, Kamu disini aja, temenin aku, aku pengen tidur meluk kamu" kata Dio segera memanfaatkan situasi untuk bermanja pada istrinya.
"Tapi kalau Abang nggak minum obat nanti panasnya nggak turun-turun, makan sedikit ya, kata Angga Abang belum makan apapun dari sore" kata Karin mengelus pipi Dio untuk membujuk suaminya itu.
"Baiklah, Aku akan turun untuk makan" kata Dio membuka selimutnya.
"Abang mau apa? Tiduran aja, Abang kan sakit, aku yang akan bawa makanannya kesini" kata Karin langsung mencegah, ia kembali mendorong Dio untuk berbaring lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh Dio sampai ke leher.
"Kamu nanti capek, Aku jadi ngerepotin kamu, kamu juga hamil, maafkan aku" kata Dio memandang istrinya. Ia baru ingat kalau istrinya hamil.
"Aku baik-baik aja kok, Abang nggak usah khawatir, dan berhentilah minta maaf Abang, aku udah maafin Abang" kata Karin lagi.
"Makasih sayang..aku cinta kamu" kata Dio tersenyum tipis.
Karin balas tersenyum dan mengangguk, Ia kemudian keluar untuk membuatkan Dio bubur. Karin merawat Dio dengan telaten, ternyata cintanya kepada suaminya ini sangat besar, ia benar-benar melupakan segalanya jika melihat suaminya tak berdaya seperti ini.
"Pinter banget, Habis ini pasti panasnya turun" kata Karin tersenyum senang saat Dio menghabiskan bubur buatannya dan sudah minum obat.
"Aku pengen tidur meluk kamu" kata Dio menatap istrinya sendu.
Karin mengangguk tipis dan ikut merebahkan tubuhnya di samping suaminya. Ia langsung menarik kepala Dio agar nyaman dalam dekapannya. Dio pun senang bukan main saat Karin melakukan itu.
"Sekali lagi maafkan aku" kata Dio mengeratkan pelukannya pada Karin.
"Iya, Tapi Abang nggak boleh gitu lagi. Kalau ada apa-apa harus cerita sama aku, Kita ini sudah suami istri, jadi harus saling terbuka. Apa Abang nggak percaya kalau aku bisa menjadi istri yang baik buat Abang" sahut Karin.
"Aku percaya sama kamu. Aku akan selalu percaya sama kamu, Aku juga pasti akan bercerita kalau ada masalah apapun" kata Dio langsung.
"Abang yakin? Nggak bakalan nuduh aku selingkuh lagi" kata Karin menyindir.
"Tidak, Lupakan perkataan ku waktu itu. Itu adalah hal terbodoh yang pernah aku lakukan, Aku benar-benar minta maaf" kata Dio menguyel-uyel dada Karin.
"Ya, lagian Abang kenapa bisa berpikir aku bisa melakukan itu, emangnya Abang kira aku cewek apa?" kata Karin masih kesal jika mengingatnya.
"Iya aku salah Sayang, Kamu boleh menghukum ku apa saja, tapi tolong jangan berkata seperti itu, maaf ya" kata Dio memandang Karin dengan mata sayunya.
Happy Reading.
Tbc.