
"Apa yang membuatmu datang kesini? Dasar wanita tidak tahu diri" kata Karin menatap Cindy marah begitu Mama Elmira meninggalkan mereka berdua.
"Oh, aku hanya ingin mengunjungimu, Aku dengar kau dan Nathan sudah bertunangan. Selamat ya" kata Cindy dengan senyum manisnya membuat Karin begah.
"Tak perlu basa-basi denganku Cindy! Aku sudah tau semuanya. Tentang hubunganmu dan juga Nathan. Kalian berdua begitu tega menghancurkan hidupku dan juga Dio. Seharusnya kau yang menggunakan cincin menjijikan ini" teriak Karin melepas cincin pertunangannya dan melemparkannya ke arah Cindy yang santai saja.
"Ck, Ini semua juga salahmu Karin. Kalau saja kau tidak menjalin hubungan dengan Dio semua akan terasa mudah. Lagipula kau kenapa sih harus menolak Nathan, Padahal jika kita menikah nanti kau bisa melakukan swinger denganku kalau kau bosan dengan Nathan" kata Cindy lagi.
"Kalian benar-benar gila! Kau itu seorang wanita, bagaimana bisa kau dengan mudah mengatakan ingin berganti pasangan" teriak Karin ingin menampar wajah Cindy tapi tangannya langsung di tangkap oleh wanita itu.
"Jangan sok suci Karin, kau pikir aku tidak tau apa yang sudah kau lakukan dengan Dio. Kalian berdua tak ada bedanya denganku" kata Cindy mendorong tubuh Karin dengan kasar.
"Kalau kalian sudah tau untuk apa kalian melakukan ini pada kami. Kau dan Nathan sudah saling mencintai untuk apa lagi menggangu kami?" kata Karin tak mengerti jalan pikiran Cindy dan Nathan.
Cindy tersenyum sinis kemudian memegang dagu Karin agar menatap kearahnya. "Kau ingin tau masalahnya apa? Masalahnya adalah kau itu jauh lebih kaya dariku dan Orang tua Nathan tidak setuju jika anaknya menikah denganku. Maka dari itu, Nathan menyuruhku mendekati Dio dan Nathan mendekatimu karena kau adalah wanita yang cocok menjadi menantu di keluarganya. Dan..."
"Dan setelah kita menikah kau akan terus menjalin hubungan dengan Nathan begitu" Karin langsung menyela begitu saja.
"Anak pintar, Jadi sekarang lakukan saja perintah Nathan agar kekasihku itu segera di bebaskan, Apa kau tidak kasian denganku yang sudah merindukannya" kata Cindy memasang wajah pura-pura sedihnya.
"Brengsek! Kalian berdua memang gila! Apa tidak ada cara lain sampai kau harus menumbalkan kebahagiaan kami berdua" Karin sudah begitu emosi langsung menampar pipi Cindy dengan keras. Ia juga menjambak wanita itu karena gara-gara wanita ini juga Dio jadi seperti ini.
"Kurang ajar! Aku akan melaporkanmu pada Nathan biar Dio di bunuh saja karena kau sudah melawanku" teriak Cindy mencoba melepaskan dirinya.
Mendengar ancaman Cindy, Karin langsung menghentikan perbuatannya. "Pergi dari sini!" bentaknya Karin sudah muak melihat wajah Cindy.
"Tanpa kau suruh aku juga akan pergi!" kata Cindy merapikan rambutnya sebelum pergi dari kamar Karin.
"Argh........." Karin berteriak keras untuk menumpahkan seluruh perasaannya.
Karin merasakan ponselnya bergetar dan ia melihat nama Nathan disana. Karin langsung mengambil ponselnya dan seketika jantungnya seolah tertusuk ribuan anak panah saat melihat keadaan Dio yang berdarah.
"Apa yang kau lakukan dengannya? Aku sudah menuruti keinginanmu! Kenapa kau melukainya" Karin langsung menelepon Nathan. Air matanya terus mengalir tak bisa di cegah.
"Dia yang sudah membuatku kesal, jadi aku tentu harus membalasnya. Kau juga harus ingat, tiga hari lagi kita akan menikah, jangan memancing emosiku kalau kau masih ingin Dio hidup" kata Nathan langsung memutuskan panggilan itu sepihak.
Karin membanting ponselnya karena merasa sangat putus asa. Ia sangat takut Nathan akan melakukan sesuatu pada Dio lagi. Bagaimana keadaanya sekarang.
*****
"Tiara!"
Karin tiba di restoran tempat janjiannya dengan Tiara. Wajahnya masih sangat sembab karena terus saja menangis. Ia sebenarnya tak bisa keluar rumah karena ia sedang di awasi anak buah Nathan, tapi ia harus melakukan ini segera.
"Karin" Tiara langsung berdiri menyambut sahabatnya. Tapi ia kaget saat Karin langsung memeluk tubuhnya dengan erat.
"Rin, Ada apa?" tanya Tiara memegang tangan Karin.
"Aku nggak bisa lama-lama disini" kata Karin menggenggam tangan Tiara erat sebelum pergi darisana membuat Tiara kebingungan.
Ia bergegas keluar dari restoran itu dan masuk ke mobilnya lalu membuka surat yang di tulis sahabatnya. Tiara tampak begitu kaget saat membaca surat itu, ternyata Karin dalam masalah besar. Tapi bagaimana ia akan membantunya? Sedangkan dia juga seorang wanita.
Tiara kemudian ingat sesuatu, ia segera menancap mobilnya. Tak sampai satu jam, Tiara tiba di rumah yang pekarangannya begitu luas dan sangat asri. Rumah itu terlihat sangat indah dan terawat. Tiara langsung turun dan mengetuk pintunya.
"Tiara? Tumben dateng?" Bella tersenyum manis saat melihat sahabatnya datang karena Tiara jarang sekali datang ke rumahnya.
"Ada hal penting yang mau aku omongin" kata Tiara yang memang sengaja menemui Bella karena menurutnya saat ini hanya Bella yang dapat membantu Karin.
"Hal penting apa sih, serius banget. Eh, Masuk dulu" kata Bella menggandeng tangan sahabatnya dan mengajaknya masuk kedalam rumah.
"Mama! Kakak nakal, aku nggak di pinjami mainan" terdengar Eril berlari dari ruang tengah dan menubruk Bella.
Tiara yang melihat itu tersenyum tipis. "Hai Eril, inget sama Aunty nggak?" ucapnya menjawil pipi gembul Eril.
Eril tampak melengos membuat Tiara sebal dan Bella tertawa. Ia kemudian berjongkok di depan putranya.
"Eril nggak boleh gitu sama Aunty, Kenapa nggak di pinjami mainan sama Kakak, Sekarang Kakak mana?" ucap Bella dengan suara lembut.
"Kakak disana!" Eril tampak menunjuk Rendra yang kini berjalan ke arah mereka.
"Pasti ngadu, Kakak kan tadi udah kasih pinjam, kamu aja yang rewel" kata Rendra memandang adiknya sebal.
"Bener? Jadi tadi Eril udah dikasih pinjam sama Kakak?" tanya Bella pada Eril.
"Iya, tapi masih kurang lama" kata Eril tak mau kalah dan memasang wajahnya yang merajuk.
"Kamu nggak asik ah, apa-apa ngadu Mama" kata Rendra melirik adiknya malas. "Yaudah, Ayo main lagi. Nanti aku pinjami" kata Rendra lagi menarik tangan adiknya untuk pergi darisana.
Tiara tertawa melihat interaksi mereka, Kedua anak Bella itu memang tidak bisa akur. Selalu saja bertengkar.
"Masih gitu aja?" ucapnya seraya tertawa kecil.
"Tiap hari gitu, Nggak ada bosennya" kata Bella ikut tertawa. Tiara mengangguk-angguk saja.
"Oh ya, tadi mau ngomong apa? Kayaknya penting banget?" kata Bella cukup penasaran dengan alasan apa yang membawa sahabatnya datang ke rumahnya.
Tiara menghela nafas sejenak. "Ini tentang Karin Bel" kata Tiara.
"Karin? Dia udah balik dari Swiss?" tanya Bella sedikit kaget setaunya Karin kuliah di luar negeri.
"Udah, dan dia butuh bantuan kita" kata Tiara menyerahkan surat yang Karin berikan tadi.
Happy Reading.
Tbc.