MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) I Belong To You.



Karin terbangun alami, saat pertama kali ia membuka mata, yang di lihatnya adalah sosok Dio yang ternyata sedang menatap ke arahnya.


"Selamat pagi" ucap Dio mengulas senyum manisnya saat melihat Karin.


"Pa..gi" kata Karin balas tersenyum manis, ia sudah terbiasa melihat hal ini setiap pagi.


Sejak kepulangannya satu bulan lalu, Setiap pagi Dio pasti selalu seperti itu. Suaminya itu tak akan beranjak dari kasur sebelum ia bangun, Dio bahkan tak pernah membangunkannya, tapi ia selalu menunggunya sampai terbangun.


"Apa sekarang aku sudah berada di surga?" kata Dio menatap wajah imut istrinya saat bangun tidur.


"Ha?" Karin menatap Dio tak mengerti.


"Ya, Apakah aku sudah berada di surga karena bisa lihat bidadari secantik ini di depanku" kata Dio mengerlingkan matanya.


"Go...mbal" Karin langsung mengeluarkan jurus andalannya untuk mencubit pelan lengan istrinya.


"Aku serius padahal" kata Dio menangkap tangan Karin dan sedikit menariknya hingga mereka semakin menempel. "Aku ada lagi ada waktu free, hari ini aku mau ngajak kamu ke suatu tempat" kata Dio menenggelamkan wajahnya di leher Karin.


"Ke..mana?" tanya Karin sedikit penasaran.


"Rahasia, sekarang yang penting kita mandi dulu" kata Dio melepaskan pelukannya dan mengajak Istrinya bangkit.


Karin mengangguk karena setiap hari memang Dio selalu membantunya untuk mandi. Biasanya pria itu akan meninggalkannya dan ia akan memanggilnya ketika selesai. Meskipun Dio sudah sering melihat seluruh tubuhnya, tapi Karin merasa tak percaya diri karena kini punggungnya memiliki luka bekas cambukan waktu itu, dan cukup tak enak untuk di lihat.


"Mau berendam?" tanya Dio saat mereka sampai di kamar mandi.


"Ya" kata Karin cepat. Ia juga sudah cukup lama tidak berendam.


"Oke" Kata Dio dengan sigap mengisi bath up dengan air hangat dan memberikan sabun kesukaan Karin sehingga bath up itu berisi busa yang banyak.


"Sudah, Kau sudah bisa mandi" kata Dio menghampiri istrinya.


"Aku akan membantumu" kata Dio tiba-tiba duduk berjongkok di depan Karin dan membantu melepaskan baju piyama Karin.


"Tid....ak....usa...h...ak...u...bi..sa...sen..diri" Karin langsung mencegah saat Dio ingin membuka bajunya. Ia benar-benar tak percaya diri jika sampai Dio melihat tubuhnya.


"Tidak apa-apa" kata Dio tersenyum tipis lalu menepis pelan tangan Karin untuk segera membantu istrinya.


"Ja...ngan...Ada...lu..ka...di..pun..ggung..ku" kata Karin masih mencegah Dio agar tak melihat lukanya.


Dio mendengar hal itu terdiam. Ia lalu meraih tangan Karin dan menciumnya. "Maafkan aku karena datang terlambat waktu ini, kau pasti saat itu merasa sangat kesakitan, maafkan aku" kata Dio benar-benar menyesalkan hal itu sampai saat ini.


"Ti..dak....apa...apa" kata Karin tak pernah menyalahkan Dio dalam hal ini karena ia tau kalau suaminya pun pasti sudah sangat berusaha untuk menyelamatkannya, hanya saja nasib tak berpihak kepadanya saat itu.


"Sekarang izinkan aku melihatnya Karin, luka itu adalah bagian dari dirimu sekarang dan aku tetap akan menerimanya" kata Dio dengan suara lembut membuat Karin tersentuh dan memberikan izin untuk suaminya.


Dio segera menyusul dengan baju yang masih lengkap dan mengambil duduk di belakang istrinya hingga ia bisa melihat jelas luka itu. Dengan penuh perasaan, Dio mencium luka itu membuat Karin memejamkan matanya.


"Di...o" kata Karin entah kenapa merasakan gelayar aneh saat bibir menyentuh tubuhnya.


"Hem...." Dio menaikkan ciumannya hingga ke pundak Karin lalu beralih ke tengkuk membuat Karin semakin memejamkan matanya.


Dio pun sudah tak memikirkan apapun lagi, ia rasanya sudah tak bisa menahan dirinya saat di hadapkan oleh tubuh molek istrinya yang sudah cukup lama tak ia rasakan. Ga irahnya langsung terpancing dan semakin memberikan sentuhan-sentuhan pada tubuh Karin.


"Ah...." Karin sudah tak bisa menahan suaranya karena ia pun sepertinya sudah merindukan suaminya ini.


Mendengar suara Karin, Dio semakin bersemangat dan sedikit menarik tubuh Karin agar duduk di pangkuannya. Karin memalingkan wajahnya dan langsung di sambut ciuman panas suaminya di bibirnya. Ciuman itu terasa sangat basah dan panas. Apalagi tangan Dio yang memberi sentuhan di kedua asetnya dari belakang membuat Karin cukup blingsatan.


Dio melepaskan ciumannya dan melihat mata sayu Karin yang seolah memanggilnya untuk melakukan hal lebih. Dio pun tak membuang waktunya, ia segera mengangkat tubuh Karin dan membawanya ke kamar karena merasa tak mungkin untuk melakukan hal itu di kamar mandi.


Dengan tubuh yang sama-sama basah, Dio kembali mencium bibir Karin dengan semakin panas dan liar. Tangannya dengan cepat melepaskan segala penghalang di antara keduanya. Di pagi yang cerah itu de sa han keduanya saling bersahutan menggambarkan betapa syahdunya pergumulan panas mereka.


*****


Setelah bercinta dengan begitu panas dan menggebu, Mereka kembali mandi dan bersiap untuk pergi. Pagi itu, Karin sudah tampil cantik dengan balutan dress yang berwarna hijau pupus pilihan suaminya.


"Mau kemana?" tanya Karin menuliskan kata itu di ponsel. Ia cukup penasaran karena Dio tak memberitahunya sama sekali, apalagi saat melihat jalanan yang mereka lalu cukup asing baginya.


"Kan aku udah bilang rahasia, nggak sabar banget sih" kata Dio mencubit pelan hidung istinya.


"Pakai rahasia segala" Karin mengerucutkan bibirnya karena Dio masih tak memberitahunya.


"Ya iyalah, kalau nggak gitu nggak surprise dong" kata Dio mengelingkan matanya.


Karin mencibir pelan, suaminya ini memang sangat jago untuk memberi kejutan. Pantaslah kalau Dio dulu banyak yang suka karena selain romantis, Dio itu paling jago untuk speak iblis yang pastinya akan membuat semua wanita klepek-klepek.


Hari itu, Dio membawanya cukup jauh dari rumah hingga ke pinggiran kota dan bisa melihat pantai, Karin pikir Dio akan mengajaknya ke pantai, tapi ternyata salah. Mobil meeka berhenti di tepi jalan yang cukup sepi.


"Kita sudah sampai?" Karin mengerutkan dahinya melihat tidak ada apapun disana. Bahkan gedung pun cukup jauh terlihat, disisi kanan merek langsung berbatasan dengan laut, sedangkan di sebelah kirinya terlihat tanah tinggi seperti perbukitan.


"Ya, ayo turun" kata Dio tersenyum tipis sebelum turun lalu membuka kan pintu untuk Karin dan membantunya untuk duduk di kursi roda.


Karin semakin penasaran kemana Dio akan membawanya pergi, yang jelas mereka harus menaiki jalanan yang menanjak dengan pohon yang hijau di sekelilingnya.


Happy Reading.


Tbc.