MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Pendidikan Itu Penting.



"Tiara! Gue kangen banget" Bella langsung menubruk tubuh sahabatnya saat keduanya bertemu.


"Gue juga, Gimana punya kabar? Udah hamil anak ke berapa?" Tiara tertawa kecil menggoda sahabatnya.


"Baru sekali, eh yang kedua sebenarnya" kata Bella sedikit meringis mengingat putrinya.


"Ya gue tau, Heran sih, Bisa banget gitu langsung hamil" kata Tiara yang cukup kaget dengan kehamilan sahabatnya. Padahal jika di hitung, baru beberapa bulan mereka menikah tapi Bella sudah hamil.


"Itu artinya peluru suami gue ada isinya semua, Makanya gue langsung hamil" kata Bella menanggapinya dengan santai.


"Widih! Panggilan Lo bikin gue merinding Bel, Gue jadi pengen cepet nikah" kata Tiara asal saja.


"Jangan lah, Masa depan lo masih panjang. Kuliah aja baru berapa bulan, udah mikir nikah" kata Bella mencibir.


"Gue tau, Lo nggak pengen?"


"Pengen apa?"


"Ngelanjutin kuliah, Lo kan bisa kejar paket C, Lo juga pinter, sayang banget kalau cuma di rumah aja" kata Tiara memberi masukan.


Bella terdiam sesaat, sebenarnya memang dia sangat ingin melanjutkan kuliah. Tapi ia malah takut tak bisa membagi waktu dan dia cukup merasa insecure karena ia yang notabennya siswa yang hamil diluar nikah. Sebuah stigma negatif yang akan sulit dihilangkan dari pikiran masyarakat.


"Gue belum mikir, Axel juga belum tentu ngebolehin, Apalagi gue lagi hamil" kata Bella seadanya.


"Kan lo belum coba, Gue yakin kak Axel pasti dukung. Lagian ya Bel, itu juga buat masa depan lo juga. Buat suami dan anak-anak lo nanti. Kalau menurut gue pendidikan itu penting banget, setidaknya kalau lo mau jadi ibu rumah tangga, lo harus jadi ibu rumah tangga yang cerdas dan elegan" kata Tiara sedikit berapi-api saat mengatakannya.


Ternyata ucapan Tiara siang itu terus melekat di kepala Bella selama beberapa hari. Hatinya selalu membenarkan apa yang di ucapkan sahabatnya itu. Akhirnya daripada kepikiran terus, ia memutusakan untuk membicarakannya dengan Axel. Ia sudah begitu sibuk sejak sore menyiapkan makan malam untuk suaminya.


Setelah semua beres, Bella langsung mandi dan bersiap untuk menyambut suaminya pulang. Biasanya Axel akan pulang tepat pukul 6 sore, dan dugaan Bella benar, tak lama setelah ia selesai mandi mobil suaminya datang, Bella mengulas senyum manisnya untuk sang suami.


"Capek banget ya hari ini? Mau mandi dulu atau langsung makan?" kata Bella membantu suaminya yang sedikit kesusahan membuka jasnya.


"Iya capek banget" kata Axel menyandarkan kepalanya di pundak Bella.


"Mau aku pijitin?" tawar Bella.


"Enggak, Mau yang lain aja" bisik Axel membuat Bella mengangkat wajahnya yang langsung disambut ciuman lembut di bibirnya.


Bella sedikit kaget, tapi ia menikmati juga. Melihat mata Bella yang tertutup membuat Axel menyusupkan tangannya di sela rambut Bella seraya memperdalam ciumannya pada bibir Bella yang manis dan membuat candu.


"Nona, Saya...." Bibi Mauli tiba-tiba muncul dari arah dapur. Mendengar suara Bibi Mauli, Axel dan Bella langsung melepaskan ciumannya, mereka tampak salah tingkah. Apalagi Bibi Mauli yang merasa bersalah karena telah mengganggu.


"Iya, Bibi. Ada apa?" Bella mencoba bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apapun.


"Saya permisi mau pamit pulang dulu Nona" kata Bibi Mauli tak berani melihat wajah Axel yang cukup kesal.


"Oh iya, Hati-hati dijalan ya Bi" kata Bella mengulas senyumnya.


"Iya Nona, Terima kasih. Saya permisi" kata Bibi Mauli langsung kabur begitu saja. Axel yang melihat itu kembali menarik istrinya ingin melanjutkan yang tadi tertunda.


Karena asik dengan dunianya sendiri, Bella jadi lupa tentang apa yang ingin di dikatakannya pada sang suami. Apalagi keesokan harinya Axel terburu-buru karena sudah di jemput oleh Bram.


"Iya sayang, Doain aku dapet proyek ini ya" kata Axel melirik istrinya yang barusaja bangun tidur.


"Pasti, Aku pasti doain yang terbaik" kata Bella ingin membantu Axel bersiap.


"Enggak usah, Kamu tidur aja. Masih pagi banget. Aku juga mau berangkat" kata Axel mencegah istrinya. Ia yang mendatangi Bella untuk memberi pelukan hangat dan ciuman di kening. Tak lupa usapan lembut di perut bawah istrinya.


"Doain Papa ya sayang, Proyek ini penting banget untuk Papa. Big love you" bisik Axel membuat Bella tersenyum tipis mengelus rambut Axel yang ada di pangkuannya.


"Hati-Hati By" kata Bella sebelum suaminya pergi.


"Iya sayang. Nanti sore masakin yang enak ya. Aku pulang cepet" kata Axel lagi sebelum benar-benar pergi.


Sore harinya, Axel menepati ucapannya dengan pulang lebih awal. Bella seperti biasa, sudah siap dengan cantik dan rapi.


"Cantik banget sih istriku ini, Aku jadi tambah sayang" goda Axel memberikan kecupan kecil di pipinya.


"By! Malu ih, Ada Bram" kata Bella melirik Bram dengan ekor matanya. Tapi Bram terlihat cuek saja seolah hal itu lumrah saja.


"Biarkan saja, Dia juga mau pulang kok" kata Axel dengan gayanya yang malas.


"Kenapa langsung pulang? Hari ini aku masak banyak By, Ajak makan sekalian aja. Lagian Bram pasti juga capek, kasian By. Rumahnya jauh" kata Bella membuat Axel menyipitkan matanya.


"Tidak apa-apa. Dia sudah terbiasa seperti itu, Iya kan Bram?" kata Axel merasa tak suka Bella memperhatikan asistennya itu. Ia melirik Bram yang terlihat salah tingkah.


"Eh? Iya Nona. Saya nanti makan dirumah saja" kata Bram tentu tau harus bersikap bagaimana. Wajahnya sudah mulai mengeluarkan keringat karena tatapan Axel yang seolah bisa membelah tubuhnya.


"Loh kenapa? Disini aja Bram, Aku serius masak banyak hari ini. By? Bolehkan Bram makan disini?" kata Bella menatap suaminya dengan lembut.


Axel mendengus kecil melihat tatapan Bella yang selalu saja membuatnya mati kutu. "Setelah makan langsung pulang" ujarnya mendahului masuk kedalam rumah.


"Tuh kan Boleh, Ayo masuk Bram. Tenang saja, Suamiku itu orang baik" kata Bella tersenyum sedikit lalu menyusul suaminya.


Bram hanya meringis mendengar ucapan istri atasannya itu. Kalau saja Bella tau apa yang sudah dilakukan Tuan Axel, Bram tak menjamin kalau Nona nya akan mengatakan kalau suaminya itu baik, Tapi kalau dikatakan jahat, Bram rasa tidak juga karena Selama Axel tak terusik, Dia tak akan mengeluarkan taringnya.


Makan malam itu terlihat sekali begitu kaku, Bram harus bersusah payah menelan nasinya karena Axel terus menatapnya tajam.


"By, Jangan lihatin Bram terus. Kasian dia jadi nggak menikmati gitu" bisik Bella saat menyadari situasi kaku itu karena ulah suaminya.


"Kenapa kau perhatian dengannya? Apa kau menyukainya" bisik Axel kembali melirik tajam istrinya.


"Ya enggaklah By, Apa salahnya menyuruh makan, Anggap saja itu bentuk rasa terima kasih kita untuk Bram karena sudah melayani Hubby selama bertahun-tahun" kata Bella lagi.


"Itulah gunanya aku membayar mahal dia" Axel semakin tak suka Bella terus membela Bram.


Happy Reading.


Tbc.