
Rasanya baru kemarin dia melepas kesenangan dengan berbelanja menghabiskan seluruh uangnya bersama kedua sahabatnya. Sebelum semua bencana ini datang, menghancurkan segala mimpi indahnya yang ia bangun sejak masuk SMA.
Tapi sekarang bukan lah waktu untuk menyesali, atau pun mengharu biru dengan keadaan yang di alami. Karena nasi sudah menjadi bubur kan? Tak mungkin baginya membalikan keadaan atau mengulangi lagi. Dia harus belajar mengikhlaskan dan merima kenyataan.
Bella menatap pantulan wajahnya di cermin, melihat wajahnya yang tampak pucat dan menyedihkan. Tidak ada lagi senyuman menghiasi wajahnya. Lalu, ia mengalihkan pandangannya kebawah, menatap seluruh penampilannya yang kini sedang menggunakan kebaya putih milik Mamanya dulu.
Ia memang menolak mati-matian pernikahan ini, tapi melihat wajah kedua orang tuanya. Ia menjadi sadar, kalau ini bukan tentang perasaanya saja. Bahkan ia merasa bagai mimpi saat tangannya dituntun Mama untuk menuruni tangga dimana semua orang sudah menunggunya.
Ia Menundukkan wajahnya, tak berani menatap siapapun yang ada di sana. Tapi sudut matanya sempat melirik rumahnya sudah dihias dengan alakadarnya karena memang waktu yang begitu mepet. Argh! Ini bahkan sama sekali bukan pernikahan yang di impikannya.
"Semua akan baik-baik saja" ucapan Mamanya menarik perhatiannya untuk menoleh kearah samping. Menatap wajah Mama yang begitu sabar. Mama yang sangat menyayanginya. Bahkan tak pernah sekalipun Mamanya membentaknya.
"Maafin Bella Ma," Ucapnya dengan suara tercekat, matanya terlihat berkaca-kaca.
"Sudah, Jangan nangis, Nanti kelihatan jelek" seloroh Mama Anita yang sebenarnya juga ingin menangis.
****
Axel menatap wanita yang kini tengah berjalan menuruni anak tangga. Wanita yang begitu cantik dengan penampilan yang sederhana. Wanita keras kepala yang selalu berbicara meledak-ledak itu sebentar lagi akan menjadi calon istrinya.
"Aku serahkan putriku kepadamu, Jaga dia seperti aku menjaganya selama ini" ucap Pria yang sedari kemarin menatapnya sengit. Wajahnya kini terlihat tak rela.
Tentu, bagi siapapun ayah di dunia ini. Pasti tak akan rela jika harus melepaskan putrinya saat menikah. Begitupun Nugraha yang tak rela jika putri kecilnya akan menjadi milik orang lain. Kini ia memberikan tangan Bella yang sedari tadi di genggamnya kearah Axel.
Axel mengangguk dan menerima tangan Bella yang terasa dingin. Ia melirik wanita yang kini hanya menundukkan wajahnya.
"Jangan melihatku!" sentak Bella menutupi rasa gugup yang melanda.
Axel mengulum senyumnya mendengar ucapan Bella. Ternyata belum ilang galaknya.
****
Bella sudah mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Semua acara telah usai begitu prosesi pernikahan selesai. Mungkin tadi masih ada beberapa orang yang tinggal termasuk ibu orang tua Axel. Tapi dia di izinkan untuk istirahat terlebih dulu karena takut kecapekan.
Bella menghela nafas panjang, dia menatap benda mungil yang berkilauan dijari manisnya. Sebuah cincin berlian yang begitu pas di jarinya. Desainnya unik, simple dan elegan. Sungguh tipe yang memang Bella sukai.
"Kamu sekarang seorang istri, harus menjaga diri sebaik mungkin. Tingkahmu diluar sana akan menggambarkan bagaimana didikan orang tuamu kelak. Pernikahan ini pernikahan yang sah. Tidak ada kata terpaksa dalam menikah. Semua ikatan terjalin didepan Tuhan. Jadi jangan pernah sekalipun membuat hal ini sebagai lelucon"
Ucapan Mamanya tadi saat mengantarkan dia ke kamar terngiang di kepalanya. Sebenarnya masih banyak yang di ucapkan Mamanya, Tentang tangung jawab istri dan sebagainya. Tapi hanya masuk telinga kanan dan masuk telinga kiri. Karena dia tak tau atau lebih tepatnya tak siap jika harus berada di situasi yang berbeda.
"Belum tidur?"
Bella tersentak mendengar suara berat yang belakangan ini cukup familiar di telinganya.
"Ngapain Lo disini?" Bella menatap sengit pada Axel, Kenapa pria itu tiba-tiba ada di kamarnya. Dan bagaimana bisa dia tak mendengar suara pintu kamarnya terbuka.
Axel mengerutkan dahinya, merasa aneh dengan pertanyaan Bella. "Tentu, kita kan sudah menikah, jadi sudah sewajarnya kita tidur di kamar yang sama" Axel tersenyum jahil, sengaja ingin memancing kekesalan Bella.
Bella menyipitkan matanya, dia benar-benar lupa kalau sekarang Axel adalah suaminya. Ucapan Axel membuat Bella berfikir, Tidur di kamar yang sama? Apa jangan-jangan pria itu juga akan meminta haknya seperti pengantin baru lainya. Oh No! Dia tak boleh membiarkan hal itu terjadi.
Axel yang tak siap tentu tak bisa menangkap bantal itu hingga membuatnya terjatuh.
"Apa ini yang kau lakukan pada suamimu!" protes Axel yang sebenarnya memang tak berniat melakukan apapun pada Bella. Dia hanya ingin menggodanya saja.
"Suami karena terpaksa!" cibir Bella perlu mengingatkan status pria itu.
"Terserahlah, aku capek dan aku ingin istirahat! Jangan menggangguku Istriku" Axel dengan sengaja merebahkan tubuhnya di kasur. Tak perduli Bella yang kini jelas-jelas memelototinya.
"Kau!... " Bella menggeram kesal. "Aku bilang tidak mau tidur denganmu!"
"Lalu kau ingin tidur dengan siapa? Aku kan suamimu" kata Axel berpura-pura polos.
Bella semakin meradang, apalagi pria itu terus menyebut dirinya suami..suami..suami. Kepalanya ingin pecah rasanya.
"Bullsit! Gue nggak perduli Lo mau tidur sama siapa! Yang penting Lo jangan tidur di kasur gue"
Dengan gerakan cepat Bella sudah turun dan kasurnya. Dia menarik tangan Axel yang kini masih dengan posisi rebahan nya. Tapi Axel justru sengaja malah menarik tangan Bella hingga tubuh Bella membentur dada bidangnya.
Mata Bella membesar menatap wajah Axel yang begitu dekat dengannya. Ia bahkan bisa merasakan hembusan nafas pria itu. Jantungnya tiba tiba berdetak begitu kencang.
Dan entah bagaimana tiba-tiba bibir Axel sudah menyentuh bibir Bella. Bella tentu kaget dengan ciuman dadakan ini. Dia ingin menolak tapi jelas tubuhnya yang polos ini mengkhianatinya. Apalagi ciuman Axel yang begitu lembut membuat Bella terasa membiusnya.
****
Axel tak tau apa yang dia pikirkan. Melihat wajah Bella yang begitu dekat, dengan bibir merah yang begitu menggodanya. Ia pasti sudah kehilangan akal saat sudah berani menyentuhkan dirinya pada bibir mungil itu.
Tapi tak ada penolakan dari wanita itu. Membuat dia semakin berani memperdalam ciumannya. Menyeludupkan lidahnya dengan sedikit memaksa mulut Bella untuk terbuka.
****
Axel jelas pemain handal yang begitu berpengalaman. Bella sampai dibuat kewalahan dengan ciuman Axel yang membabi buta seolah sudah lama sekali tak merasakan bagaimana rasanya berciuman. Pria itu bahkan tak memberinya jeda untuk beristirahat. Mungkin bibirnya kini sudah membengkak karena ciuman pria itu.
Jujur saja tubuhnya kini merasakan Gelayar aneh yang selama ini belum pernah ia rasakan. Matanya bahkan tak sanggup untuk terbuka. Apa-apaan ini, kenapa dia bisa jadi begini. Kenapa tubuhnya begitu murahan. Ini tentu harus di hentikan.
Dengan sekuat tenaga Bella melawan rasa memabukkan ini. Dia mencoba melepaskan jeratan Axel di tubuhnya.
"Hentikan" ucapnya dengan suara terengah-engah saat tautan bibir mereka terlepas. Oh my God! Bahkan kini bibirnya sudah terasa kebas. "Sialan!"
"Maaf" ucap Axel mengutuk kebodohannya karena sudah hilang kendali.
****
**Happy Reading
TBC**