
Bella tak mengerti tentang apa yang dialaminya saat ini. Rentetan kejadian diluar dugaan bergerak cepat dalam waktu singkat. Serta ucapan Axel beberapa waktu lalu yang membuat hatinya mengaharu biru.
"Sepertinya kita berdua butuh waktu sendiri, Aku anter ke rumah orang tua kamu ya" Axel menunduk penuh penyesalan saat mengatakan hal itu. Ia sama sekali tak berani menatap mata Bella.
"Kau mengusir ku?" Bella tentu marah karena Axel mengambil keputusan sendiri.
"Kalau ada masalah itu cerita. Jangan di pendem sendiri. Sebenarnya kau anggap aku ini apa?" sambungnya semakin marah karena ia yakin Axel terlibat masalah besar namun tak memberi tahunya.
"Bella, Tidak terjadi apapun. Biarkan aku menyelesaikan ini sendiri. Aku hanya mohon kau percaya padaku, itu saja" Ucapan Axel semakin membuat Bella meradang.
"Jangan bicara soal kepercayaan! Karena disini kau yang tidak percaya padaku! Kau tidak percaya aku mampu menghadapinya. Aku memang nggak tau sebesar apa masalah yang kau alami. Meski aku berkali-kali bilang kalau kita bisa mengahadapi sama-sama. Kau tetap tidak akan mengaku" Bella menarik nafas dalam mengurai rasa menyesakkan di dadanya.
"Mungkin kau belum tau kalau cinta itu saling menguatkan disaat susah maupun senang. Bukan indah di awal dan meninggalkan luka pada akhirnya. Tapi aku terima keputusan mu, Kau mau aku pergi dari sini kan? Oke, Aku bakal pergi. Jangan pernah mencari ku sebelum kau tau apa artinya sebuah hubungan dan kepercayaan!" ucap Bella dengan menahan tangis. Ia pikir Axel akan menahan atau paling tidak membujuknya, Namun pria itu sama sekali tak memperdulikannya.
"Ini yang terbaik untuk mu saat ini" Hanya kata itu yang terucap membuat Bella semakin muak.
BRAK
Bella membating pintu kamarnya dengan keras untuk meluapkan rasa kesalnya. Bella langsung menjatuhkan tubuhnya dikasur dan menangis sejadi-jadinya.
****
Axel tampak berjalan memasuki sebuah galeri seni yang sedang mengadakan pameran. Banyak sekali lukisan indah yang berjejer rapi, Tapi Axel tak melihatnya sama sekali. Pandangannya tampak lurus menatap satu titik.
Yaitu menatap wanita yang kini tersenyum bahkan tertawa dengan begitu senangnya. Bagaimana bisa wanita itu tertawa disaat ia sudah mengacaukan hidupnya. Tangannya mengepal erat melihat Bianca yang begitu santai seolah tanpa beban apapun.
Axel mempercepat langkahnya untuk mendekati Bianca. Ia tanpa ragu merengkuh pinggang Bianca yang membuat sang empunya kaget.
"Axel!" pekik Bianca begitu kaget melihat Axel di depannya.
Teman-teman Bianca saling berbisik saat melihat kedatangan Axel. Tentu saja mereka tau tentang berita yang telah menyangkut namanya. Dan melihat pria itu mendatangi Bianca membuat mereka berasumsi kalau mereka punya hubungan.
"Hai, Maaf aku mengagetkan mu" ucap Axel tersenyum begitu manis. Bahkan sangking manisnya hingga membuat Bianca bergidik ngeri.
"Untuk apa kau kesini?" tanya Bianca entah kenapa merasa gugup sekali saat menatap mata Axel yang ia rasa begitu menyeramkan. Bianca mencoba melepaskan rengkuhan tangan Axel di pinggangnya namun Axel malah semakin kuat mencengkram nya hingga membuatnya kesakitan.
"Hanya ingin menjemput calon istri" jawab Axel menyeringai melihat wajah Bianca yang mendadak pias.
Bianca membesarkan matanya mendengar kata yang terlontar dari mulut Axel. Pria itu baru saja menyebutnya calon istri? Apakah ia tak salah dengar?.
"Apa maksudmu?" tanya Bianca sungguh tak mengerti dengan sikap Axel.
"Kau sangat tau maksudku Sayang. Apakah tidak sebaiknya kita membahas hal ini berdua saja" ucap Axel lagi semakin membuat Bianca kaget bukan kepalang.
Teman-teman Bianca kembali berbisik-bisik saat melihat interaksi keduanya.
"Mereka benar-bener pacaran..."
"Nggak nyangka banget Bianca dapet cowok seganteng itu..
"Ah, Gue juga pengen..."
Mendengar apa yang diucapkan teman-temannya membuat Bianca menjadi besar kepala.
"Guys, Gue balik duluan ya" Ujar Bianca pada teman-temannya sebelum berlalu pergi.
****
"Kita akan kemana?" tanya Bianca begitu keluar dari pameran lukisan.
"By the way, Kau sudah berani keluar sekarang? Apakah kau sudah merasa kalah" kata Bianca dengan nada mengejek kental.
"Ya, Bukankah ini yang kau inginkan?" sahut Axel kembali ke sifat aslinya yang dingin. Berbeda sekali dengan saat didalam tadi.
"Well? Apakah itu artinya kau setuju?" Bianca tak menyembunyikan binar kebahagiannya karena ia yakin kalau Axel menemuinya ingin menyetujui apa yang di inginkan nya.
"Tergantung. Tapi aku rasa sangat tak pantas membahas masalah ini ditempat umum" kata Axel masih dengan sikapnya yang santai namun tetap dingin.
Bianca mengangguk setuju. "Oke, Kau tentukan saja tempatnya. Aku pasti akan menemui mu" ujar Bianca hendak berlalu pergi namun tangganya dicekal oleh Axel.
"Sayangnya aku tidak sedang ingin menunda hal ini. Aku ingin sekarang kau ikut denganku!" kata Axel dengan tatapan matanya yang tajam. Auranya tampak menggelap. Ia sudah capek berbasa basi.
"Hei, Apa maksudmu? Aku tidak mau ikut denganmu!" bentak Bianca berontak untuk melepaskan diri namun tenaganya kalah kuat.
"Kau tidak berhak menolak disini" Axel balas membentak hingga membuat Bianca ketakutan.
"Pilihanmu ada dua, Ikut denganku atau aku akan melakukan hal yang tidak akan pernah kau bayangkan. Percayalah aku sangat ingin melakukannya. Jadi, sekarang masuk mobil atau...
"Aku masuk!" potong Bianca cepat sebelum Axel meyelesaikan ucapannya. Ia tau Axel bukan tipe orang yang suka bermain-main.
Axel sedikit mendorong tubuh Bianca sebelum ia menyusulnya masuk. Bianca menggerutu kesal karena sikap Axel yang cukup sembarangan.
"Kau akan membawaku kemana!" Tanya Bianca saat mobil Axel sudah dijalankan.
"Diam! Jangan berbicara apapun!" sergah Axel tak memperdulikan kekesalan wanita itu.
"Tidak mau! Aku akan melaporkanmu pada Ayah ku jika kau macam-macam" kata Bianca mengambil ponselnya ditas. Ia tak terima di perlakukan kasar seperti ini. Selain itu ia cukup takut jika Axel berbuat hal yang akan membahayakannya.
"Jangan coba-coba!" Axel segera merampas ponsel Bianca dan melemparkannya di kejalan.
Bianca semakin membesarkan matanya. "Kau apa-apan? Kau pasti akan menyesal karena sudah membuang ponselku" Teriak Bianca begitu marah.
Axel hanya tersenyum sinis melihat kemarahan Bianca. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari balik jas yang dikenakannya dan meletakan benda itu di pinggang Bianca yang kaget.
"Aku hanya menyuruhmu diam kan? Jadi ikuti saja perintahku kalau kau tidak ingin peluru ini merobek perutmu"
Bianca tak bisa berbuat apapun, tubuhnya terkaku saat melihat pistol yang Axel arahkan keperutnya. Ternyata Axel orang yang sangat berbahaya, Ia tentu tak boleh gegabah.
"Sial!"
Happy Reading
TBC